Worship Together By Ps. Jussar Badudu

JPCC Sutera Hall 2nd Service (27 July 2025)

Syalom dan Selamat Pagi! Apa kabar saudara semua? Mari kita berikan apresiasi kepada semua teman-temea yang sudah melayani hari ini. Senang berjumpa dengan jemaat di Sutera Hall, meskipun saat ini sudah ada 3 campus di JPCC, tetapi kita merupakan satu tubuh di dalam Kristus Tuhan, bukan?

Sepertinya terasa tidak mau berhenti ya disaat kita menyembah Tuhan? Sudah masuk ke minggu terakhir di bulan July 2025, Wow! berapa banyak yang merasakan kehadiran Tuhan di dalam hidupnya sejauh ini? Kita semua ada karena AnugerahNya Tuhan. Dalam tema yang sudah kita naikan sepanjang bulan July, yaitu “In Spirit and In Truth” dengan konteks penyembahan. DI minggu-minggu lalu kita sudah mempelajari beberapa hal yang disampaikan oleh Ps. Roy bahwa penyembahan kita hanya akan sedalam pengenalan kita akan Firman Tuhan. Karena tujuan penyembahan adalah untuk menyenangkan Dia, dan yang Kita sembah bukanlah diri kita sendiri. Penyembahan yang sejati lahir daripada hati yang berakar kepada Roh Kudus dan sesuai dengan Kebenaran FirmanNya.

Kita juga belajar minggu lalu dari Ps. Alvi bahwa Tuhan mengijinkan kita berada di “lembah” untuk mengalami Dia lebih lagi. Penyembahan yang sejati justru teruji di dalam penderitaan. Deklarasikan iman kepada situasi kita lewat penyembahan, dan jadikan penyembahan menjadi gaya hidup dalam keseharian kita. Hidup kita semestinya menjadi persembahan yang kita persembahan kepada Tuhan.

Di minggu terakhir khususnya, kita akan membahas tentang “The Power of Worship together“, Kuasa penyembahan di dalam Ibadah persekutuan. Gesture penyembahan ini yang akan kita bahas ketika kita naikan penyembahan kepada Tuhan baik itu lewat lagu, penyembahan, atau di dalam Ibadah persekutuan yang kita lakukan secara bersama-sama.

Penyembahan di dalam satu Ibadah tentu bisa dilakukan secara sendiri atau secara bersama-sama atau komunal. Penyembahan kepada Tuhan adalah ungkapan ekspresi penghormatan tertinggi tentang siapa Tuhan, ukapan ekspresi kekaguman kita kepada Pribadi Tuhan dan juga pengakuan bahwa Dia adalah pribadi yang maha Kuasa, maha Kasih, maha tinggi, maha besar, maha setia dan maha segala-galanya.

Kita akui Dia lewat penyembahan baik itu secara tersendiri atau bersama. Tetapi ada perbedaab, Ibadah sendiri fokusnya kita secara intim dan pribadi dengan Tuhan, sementara kalau Ibadah bersama fokusnya adalah persekutuan dengan sesama kepada Tuhan. Dalam Ibadah sendiri, relasi dan tujuannya adalah pertumbuhan rohani Pribadi, sementara dalam Ibadah bersama dalam bentuk komunitas dan tujuannya adalah penguatan Iman secara bersama-sama baik saat memuji atau mendengarkan Firman.

Dalam Ibadah bersama, Alkitab katakan bahwa kita akan mengalami ketersalingan, ada kata “saling”, ada unsur timbal balik, apa yang kita lakukan di dalam ibadah bersama ini menghadirkan hadirat Allah secara bersekutu atau komunal. Kita akan mengalami beberapa hal berikut dalam Ibadah bersama.

1. Menghadirkan Hadirat Allah secara bersekutu atau komunal.

Sewaktu kita beribadah secara sendiri dengan Tuhan, tentu Tuhan hadir. Tetapi disaat dua-tiga orang berkumpul dalam namaNya, Tuhan ada di tengah-tengah mereka. Ibadah bersama mengundang manifestasi Allah dan hadiratNya secara khusus dalam persekutuan UmatNya.

Opening Verse – [20] Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. Matius 18:20 TB

2. Membangun dan menguatkan tubuh Kristus, kita semua adalah anggota tubuh Kristus.

Kita semua adalah anggota dari Tubuh Kristus. “Saling” tidak bisa terjadi kalau kita ada dalam kesendirian. Kita membangun dan menguatkan tubuh Kristus, menjadi cara penguatan Iman kita bersama-sama, penghiburan satu sama lain melalui pujian, Firman, dan persekutuan.

Supporting Verse – [11] Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. 1 Tesalonika 5:11 TB

3. Menanamkan identitas dan kesatuan jemaat.

Supporting Verse – [21] supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Yohanes 17:21 TB

Oleh sebab itu, dalam pertemuan persekutuan Ibadah, jangan sia-siakan kuasa dalam menyembah secara bersama-sama. Ini bukanlah sebuah kebiasaan atau ritual saja. Worship Together.

The Christian Faith is not just a Private Faith, but a Public Faith.

Ungkapan dan gestur apa yang patut kita lakukan di dalam ibadah secara bersama-sama

1. Kita merayakan bersama.

Ini adalah sebuah perayaan yang dilakukan secara bersama-sama. Ibadah bersama adalah ungkapan pengenalan kita sebagai orang percaya kepada Tuhan dan kemeriahan perayaan ini hanya bisa terjadi jika dilakukan secara bersama-sama. Sendiri bisa kita rayakan tetapi tidak ada kemeriahan disana. Ada kemeriahan sewaktu kita lakukan Ibadah secara bersama-sama. Dan kemeriahan ini juga ditulis di dalam Firman Tuhan.

Supporting Verse – [1] Marilah kita bersorak-sorai untuk Tuhan, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. [2] Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. Mazmur 95:1-2 TB

Bersorak-sorai berasal dari kata asli “Ranah“, yang artinya adalah “sing for joy and shout for joy, shout jofuly, and cries for joy”. Dalam kamus bahasa Indonesia, artinya adalah suara ramai yang menandakan kegembiraan atau dukungan, seringkali dalam bentuk teriakan atau seruan bersama, sebagai tanda sukacita atau semangat. Bersorak sorai hanya bisa terjadi di dalam kebersamaan dan keramaian, bukan dalam kesendirian.

Melompat, menyanyi, mengangkat tangan, menari, kalau saudara masih bisa, lakukanlah itu. Tunjukkan gesture penyembahan kita di dalam kebersamaan. Sebagai pecinta sepakbola contohnya, tentu disaat menonton bersama-sama, kita akan secara otomatis berteriak, meloncat-loncat, dan merayakan bersama-sama disaat terjadi gol bagi tim yang kita suka.

Perayaan dalam kemegahan dan pengaguman kepada Tuhan hanya bisa dilakukan dalam Ibadah bersama. Perayaan bersama-sama sanggup menguatkan iman kita akan ketergantungan kepada Tuhan.

2. Kita bersyukur bersama.

Ibadah bersama adalah ungkapan syukur bersama atas kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, mengakui kedaulatan dan kebesaran Tuhan, pencipta langit dan bumi.

Supporting Verse – [3] Sebab Tuhan adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah. [4] Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. [5] Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya. [6] Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita. [7] Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Mazmur 95:3-7 TB

Dalam ekspresi syukur, gestur seperti berlutut, sujud, mengangkat tangan, dan syukur akan terlihat wajar dan relevan, tidak ada hubungannya dengan budaya, tradisi atau tipe pribadi serta tipe kepribadian “DISC” kita. Ekspresikan ungkapan syukur kita lewat gestur karena itu adalah simbol kekaguman, pengakuan dan pengenalan kita kepada Tuhan.

3. Kita mendeklarasikan bersama

Tuhan ada di pihak kita, Dia selalu siap hadir untuk membela dan berperang bagi kita, dan kalau itu terjadi, tidak ada lawan bagi kita, oleh karena itulah kita harus mendeklarasikan ini. Tantangan yang bisa terjadi secara individu bisa dialami oleh sesama kita, baik itu tantangan dalam karir, usaha, pelayanan, pergumulan keluarga, sakit penyakit, dan lain sebagainya.

Kita deklarasikan bahwa kita memperoleh kemenangan dengan pujian, penyembahan , sorak sorai, mengangkat tangan, semua itu ada artinya, pujian dan penyembahan kita berkuasa karena penyembahan bersama bukan soal perasaan tetapi soal kebenaran. Dan inilah yang terjadi saat Raja Yosafat berperang di kisah berikut.

Supporting Verse – [20] Keesokan harinya pagi-pagi mereka maju menuju padang gurun Tekoa. Ketika mereka hendak berangkat, berdirilah Yosafat, dan berkata: ”Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada Tuhan, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” [21] Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk Tuhan dan memuji Tuhan dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: ”Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi Tuhan, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” [22] Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. 2 Tawarikh 20:20-22 TB

Bayangkan, pasukan paling depan di dalam peperangan adalah para penyembah dan penyanyi, bukan yang memakai tombak dan pedang. Peperangan selalu melibatkan banyak orang dan tidak terjadi dalam kesendirian. Dan disaat mereka bernyanyi, terpukul kalah-lah lawan mereka. Senjata terdepan adalah sorakan nyanyikan, menyembahm mengangkat tangan, tepuk tangan, itu semua adalah senjata Iman yang bisa kita lakukan.

Semua itu ada artinya dan bukan hanya ritual saja. Peperangan kita hari ini melawan penguasa dan roh-roh jahat di udara, kita lawan itu semua dengan mengangkat tangan dan menyembah Tuhan bersama-sama.

Supporting Verse – [11] Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; [12] karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Efesus 6:11-12 TB

Kita tidak harus punya talenta menyanyi atau bermusik untuk bisa menyembah Tuhan. Ini bisa dilakukan oleh semua orang. Kita ingat cerita Musa yang menjadikan barisan terdepan Israel untuk berperang bersama-sama Yoshua. Disaat tangannya turun, mereka menjadi kalah dan hanya dengan mengangkat tangan dan peperangan dengan Amalek bisa dimenangkan. Mengangkat tangan bukanlah sekedar ikut-ikutan, ini adalah senjata Iman dan ada artinya.

Supporting Verse – [11] Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. [12] Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Keluaran 17:11-12 TB

Sadar atau tidak, kita rindu untuk berada di pertemuan Ibadah seperti ini, baik itu dalam ibadah minggu, persekutuan komsel, Ibadah keluarga, Ibadah di kantor, dan lain sebagainya. Ada hasrat untuk berkumpul dengan orang-orang percaya secara bersama-sama untuk mendengar Firman, memuji dan menyembah Tuhan. Kita diberikan kesempatan untuk melakukan ini bersama-sama, jadi di minggu terakhir, dengan pengertian ini, mari kita menikmati berkat Tuhan ketika diperbolehkan untuk mengangkat tangan, menyanyi, sujud, berseru dan bersorak sorai untuk menyembah Tuhan.

Closing Verse – [24] Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. [25] Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Ibrani 10:24-25 TB