JPCC Kota Kasablanka Service 1 (1 December 2019)
Hari ini kita akan membahas Kebaikan Tuhan atau The Goodness of God. Seringkali, Kebaikan Tuhan dipertanyakan terutama apabila seseorang mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, seperti misalnya kerugian, kegagalan, kecurian sesuatu, kecelakaan, ditipu orang atau bahkan kematian sekalipun.
Hal dan kejadian seperti diatas membuat banyak orang mempertanyakan kebaikan Tuhan dan mengapa Dia bisa membiarkan semua hal ini terjadi, Banyak orang juga mempertanyakan mengapa ada begitu banyak ketidak-adilan di dunia ini, dan mengapa doa mereka tidak terjawab. Mari kita buka ayat berikut untuk mempelajari lebih lanjut.
Opening Verse – “Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.” Kata orang itu: “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya. Lalu Yesus memandang dia dan berkata: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Lukas 18:18-24 TB
Perlu anda ketahui bahwa orang muda yang datang kepada Yesus ini bukan sembarang orang, di dalam Kitab Lukas diberitahukan bahwa ia adalah seorang pemimpin dan juga bahkan disebut beberapa orang sebagai pemimpin agama.
Dari ayat diatas, Yesus mengungkapkan bahwa Standard kebaikan setiap dari kita berbeda-beda, tetapi standar dan ukuran kebaikan yang paling tinggi hanya dipunyai oleh Tuhan. Karena Manusia mempunyai pengetahuan yang terbatas, dan Tuhan sebaliknya mengenal hati orang begitu dalam dan pengetahuanNya tidak terbatas.
Tuhan itu Baik, God is Good. Baik itu adalah KarakterNya Tuhan. Sama seperti Tuhan itu Maha Kudus dan Maha Adil.
Supporting Verse – “Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.” Mazmur 25:8 TB
“Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.” Mazmur 119:68 TB
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1:17 TB
Tuhan tidak berubah-ubah, Dia selalu Baik dulu, sekarang dan selama-lamanya. Di dalam Tuhan tidak ada perubahan dan pertukaran bayangan. Tuhan baik dan memberikan yang terbaik kepada kita semua.
Mungkin kita tidak selalu setuju dengan apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, tetapi hal itu tidak merubah kenyataan bahwa Tuhan itu baik.
Seperti halnya anak saya yang tidak selalu setuju dengan keputusan yang saya ambil untuk kepentingan mereka tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa saya baik untuk mereka. Mereka tidak tahu atau belum sadar karena apa yang saya perbuat itu saya lakukan demi kebaikan mereka.
Meskipun kita tidak setuju dengan apa yang sedang terjadi ataupun mungkin doa kita sedang tidak dijawab olehNya, tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa Tuhan itu Baik.
Seringkali kita baru bisa mengerti pekerjaan yang dilakukan Tuhan belakangan, dan setelah kita mendapatkan gambaran yang komplit dan keseluruhan, dan di akhir dari rencana Tuhan. Tetapi pada saat kita berada di awal atau tengah-tengah, mungkin kita tidak mengerti mengapa semua hal ini bisa terjadi.
Kembali ke percakapan Yesus diatas, Dia mengatakan bahwa tentu si anak muda dan pemimpin ini mengetahui semua Perintah Allah, Dia memulai dengan Perintah ketujuh yaitu Jangan Berzinah, Jangan membunuh (6), Jangan mencuri (8), Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu (10), lalu ke perintah kelima di “Hormatilan ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu”.
Perhatikan, yang disebut adalah Perintah Allah nomor 5, 6,7,8, dan 9. Tetapi seperti kita ketahui dari ayat diatas, si orang muda berkata bahwa dia sudah melakukan semuanya.
Hal ini mirip dengan pengalaman saya saat melakukan counseling ke jemaat, beberapa dari mereka juga selalu meresponi dengan hal yang sama dan mengatakan bahwa mereka sudah melakukan semua saran yang saya berikan. “Semua sudah dilakukan, tetapi tidak berhasil”.
Ini adalah Sifat kita sebagai manusia, Kita pikir kita sudah melakukan semuanya, padahal belum. Kalau kita perhatikan, yang Yesus sebut diatas adalah perintah yang berhubungan dengan manusia. Tetapi perintah yang berhubungan dengan Tuhan yaitu perintah dari nomor 1-4 dan juga nomor 10 tidak Dia sebutkan.
Perintah Allah yang tidak Dia sebutkan itu adalah :
- Perintah 1 – Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.
- Perintah 2 – Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit diatas, atau yang ada di bumi dibawah, atau yang ada di dalam air dibawah bumi.
- Perintah 3 – Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu dengan sembarangan sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut NamaNya dengan sembarangan.
- Perintah 4 – Ingatlah dan Kuduskanlah Hari Sabat.
- Perintah 10 – Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki;atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.
Beruntung bahwa orang di jaman dahulu tidak mempunyai media sosial, terutama untuk perintah yang kesepuluh. Perintah yang tidak disebutkan ke si anak muda dan pemimpin diatas ini adalah perintah yang berhubungan dengan Tuhan. Dia juga menghimbau si anak muda agar menjual segala yang dia miliki dan membagikannya kepada orang miskin, agar dia bisa memperoleh harta di surga.
Tetapi jika kita lihat dari pertanyaan yang diajukan diatas, sepertinya jawaban yang terakhir ini tidak berhubungan, karena si anak muda bertanya bahwa “Apa yang bisa dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”, dan bukan memperoleh harta di surga.
Dan bukan hanya itu saja, Dia juga berkata agar setelah anak muda melakukan itu, dia juga harus datang kemari dan mengikuti Yesus. Yesus mengajak dia dan memberikan undangan khusus kepada sang anak muda ini untuk menjalin hubungan yang dekat denganNya.
Kalau kita ingin memperoleh hidup yang kekal, itu bukan diperoleh dari apa yang kita perbuat, tetapi kepada siapa kita percaya.
Keselamatan datang bukan karena apa yang kita lakukan, tetapi keselamatan datang karena kita percaya kepada Yesus.
Supporting Verse – “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9 TB
Tetapi setelah mendengarkan semua perkataan Yesus, anak muda itu pergi dengan sedih. Padahal saat dia bertanya di awal, dia juga menyebut bahwa Yesus adalah Guru yang baik.
Itulah manusia, kita bisa memuji seseorang di pagi hari, tetapi bisa merubah pendapat kita pada akhir hari yang bersamaan, begitu cepat berubah. Kita punya standar yang berbeda-beda dan sangat cepat untuk berubah.
Mengapa orang diatas pergi dengan begitu sedih setelah mendengar perkataan Yesus?
Menurut saya bukan Kaya yang menjadi masalah, tetapi Yesus mengetahui bahwa kekayaannya menjerat dirinya. Kalau kita ingin mengikuti Yesus, Hati kita harus berpusat kepadaNya. Ibarat kita jatuh cinta kepada pasangan kita, tetapi hati kita ada kepada orang lain.
Supporting Verse – “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6:24 TB
Apakah kita dikuasai harta atau sebaliknya? Sebab kalau kita dikuasai oleh harta seperti orang ini, dia akan memandang kekayaannya lebih berharga daripada undangan untuk mengenal Yesus secara pribadi.
Hidup itu penuh dengan pilihan, dan keputusan serta pilihan-pilihan kita akan menentukan nilai yang kita pegang.
Kalau uang menguasai hidup seseorang, akan sukar bagi mereka untuk masuk dalam jalan Tuhan dan melayani Tuhan, karena segala sesuatu keputusannya akan berpusat kepada uang, dan bukan berdasarkan Tuhan.
Mereka memandang berkat lebih tinggi daripada si pemberi berkat itu sendiri. Bukan berarti orang tidak boleh kaya, tetapi kita juga harus kaya dalam kebajikan dan menjadi berkat bagi orang lain.
Supporting Verse – “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” 1 Timotius 6:17-19 TB
“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:24-26 TB
Ada begitu banyak orang yang kaya tetapi tidak mau membagikannya kepada orang lain. Kalau kita mau mengikuti Yesus, kita harus mengalahkan keinginan daging, tidak mementingkan kepentingan sendiri dan melainkan mementingkan kepentingan Tuhan.
Cerita mengenai anak muda dan pemimpin ini mengajarkan kepada kita untuk mengerti bahwa harta dapat menguasai kehidupan seseorang sedemikian rupa sehingga bisa membuat seseorang menolak undangan untuk mengikuti Tuhan.
Tuhan Yesus baik dan Dia tidak mempunyai niat jahat terhadap orang muda ini. Dia tidak mau memiskinkan orang ini, dan dalam kebaikanNya, Dia ingin menawarkan yang lebih baik daripada harta yang dipegang oleh si orang muda itu. Dia sanggup untuk menyelamatkan nyawanya, karena itulah pertanyaan yang diajukan oleh si anak muda pada awalnya.
Orang muda ini diundang untuk ikut dan mengenal kebaikan Tuhan yang terwujud dalam pribadi yang sedang berhadapan dengannya yaitu Yesus. Bersama Yesus, dia akan mendapatkan akses ke dalam Kerajaan Allah.
Supporting Verse – “Tetapi tepat pada waktu yang sudah ditentukan Allah, Dia mengutus Anak-Nya ke dunia ini. Dan sesuai dengan rencana Allah, Yesus dilahirkan oleh seorang gadis seperti manusia biasa, dan sejak kelahiran-Nya, Dia hidup menaati seluruh Hukum Taurat. Dengan demikian Yesus dipersiapkan untuk bisa menebus dan membebaskan kita yang dulu hidup seperti budak di bawah pengawasan Hukum Taurat. Dan hal itu dilakukan-Nya supaya secara rohani kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Jadi karena kita adalah anak-anak-Nya, Dia mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Karena itu dengan segenap hati kita berseru kepada Allah, “Ya, Abba, Bapaku,” karena kita berdoa sesuai dengan pimpinan Roh Kristus. Hal itu menjadi bukti bagi kita bahwa kita tidak lagi seperti budak, tetapi diterima sebagai anak-anak Allah yang sah. Dan sebagai anak-anak-Nya, kita juga berhak mewarisi semua hal yang dijanjikan kepada anak-anak-Nya.” Galatia 4:4-7 TSI
Manifestasi terbesar dari Kebaikan Tuhan adalah Kayu Salib. Pengorbanan Yesus diatas Kayu Salib memberikan kita semua sebagai orang percaya keselamatan, penebusan, kemerdekaan dari dosa serta kehidupan yang kekal.
Dan untuk inilah Yesus datang, dan juga mengapa kita merayakan Natal setiap bulan desember. Bukan saja karena apa yang dia lakukan dan berkat yang dia bisa berikan, karena jika Dia tidak mati di atas kayu salib maka kita semua masih akan terhilang.
Closing Verse – “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8 TB
Yesus sudah terlebih dahulu menunjukkan kasihnya kepada kita disaat kita tidak layak dan berdosa. Yesus adalah perwujudan dari Kebaikan Tuhan yang luar biasa untuk kita semua. Jika kita bisa mengenalnya secara pribadi, maka itulah Hadiah terbesar yang kita bisa terima.
Jika kita sudah menerima Hadiah terbesar ini, punya akses ke dalam kerajaan Allah karena kita percaya kepadaNya, maka yang lain sebenarnya tidak perlu menjadi masalah dan itu hanya menjadi hadiah hiburan atau bonus saja. Kita seharusnya tidak perlu merasa lemas dan pesimis jika pergumulan dan doa kita belum dijawab, karena Hadiah utama dan terbesar ini sudah kita terima.
Ironisnya banyak orang lebih mendahulukan hadiah hiburan dan berkat, tetapi tidak mendahulukan Hadiah Utama. Selama kita punya Yesus dalam hidup kita, sukacita seharusnya tetap ada karena itu adalah Hadiah Utama dan terbesar yang bisa kita terima.
Pada akhirnya, disaat kita menghembuskan nafas yang terakhir, semua yang kita punya harus ditinggalkan. Semua kekayaan, kedudukan dan harta tidak berarti apa-apa dan harus kembali ke tanah. Tetapi jika kita sudah punya akses ke dalam Kerajaan Allah, maka kita akan berjumpa dengan Bapa di Surga. Christ is indeed, more than enough for me.
Selama kita yang sudah menerima Yesus masih diijinkan untuk hidup, seharusnya bisa memanisfestasikan dan menyalurkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita sehingga orang lain bisa merasakan kebaikan Tuhan melalui kita, itulah yang disebut We are Blessed to be a Blessing.



