Berani Jujur By Ps. Jose Carol

JPCC Online Service (2 Maret 2021)

Hai JPCC, apa kabar? Saya senang sekali punya kesempatan melayani saudara hari ini. Saya berharap Saudara semua dalam keadaan baik, dalam keadaan sehat. Dan tidak terasa kita sudah memasuki bulan Mei. Tema kita di bulan Mei adalah “TRUTH BE TOLD“.   Kita belajar tentang kejujuran dan keterbukaan. Kita juga akan belajar mengenai kehidupan sebagai orang percaya, yang jujur dan terbuka kepada Tuhan, pada diri sendiri maupun kepada orang lain. Nah, apa dampaknya dan apa janji firman Tuhan untuk kehidupan kita apabila kita menjalankan kehidupan kita dengan penuh kejujuran dan keterbukaan.    Jadi, judul khotbah saya hari ini adalah “Berani Jujur”. Karena untuk hidup jujur dibutuhkan keberanian. Kejujuran dan keterbukaan adalah sebuah keberanian yang perlu kita tunjukkan. Mungkin saat ini ada banyak di antara Saudara yang langsung berpikir :   “Apa enggak salah hidup jujur dan terbuka di zaman sekarang?”  “Saya ini sudah bersusah payah menutupi keberadaan saya saja, masih jadi bulan-bulanan dan di-bully orang, apalagi kalau saya terbuka.”
“Mana mungkin bisa bertahan di dunia bisnis zaman sekarang kalau terlalu jujur?”   Bahkan antara tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular pun, mungkin kita harus “cerdik seperti ular”-nya 95%, dan “tulus seperti merpati”-nya hanya 5% saja. Atau ada yang berkata, “Saya ini orangnya introvert. Saya susah, lho, terbuka sama orang lain.” Belum lagi ada yang hidupnya memegang prinsip you have to fake it, until you make it (berpura-puralah sampai Anda berhasil).   Dan saya tahu bahwa di zaman sekarang seseorang akan dengan sangat mudah menjalani kehidupannya dengan memakai topeng, dan menutupi keberadaan yang sebenarnya dari orang lain, melalui apa yang dia pilih untuk ditampilkannya di media sosial.   Ada yang bekerja keras memoles tampak luar kehidupan mereka sedemikian rupa, baik itu penampilan, bentuk tubuh, pencapaian, hingga kekayaan materi, maupun gaya hidup yang ingin mereka citrakan keluar.   Ada yang bekerja keras untuk membangun pencitraan mereka secara sosial, emosional, maupun spiritual, sehingga mereka bisa mendapatkan pengakuan yang mereka inginkan. Mereka sedemikian rupa berusaha mencitrakan kepedulian sosial mereka atau kebahagiaan mereka yang palsu, sebenarnya, hingga kesalehan agamawi mereka.   Dan semua itu mereka lakukan demi untuk mendapatkan pengakuan yang mereka butuhkan. Di dalam contoh kejadian yang ada di dalam Alkitab, Yesus menyebut orang-orang yang hidup seperti itu sebagai orang munafik.   Kata “munafik” dalam bahasa aslinya memakai kata “hypokrites“, dalam bahasa Yunani artinya “an actor” or “a stage player”, seorang aktor atau seorang pemeran di atas panggung. Artinya, semua yang dia ucapkan, semua yang dia perankan, bukanlah diri dia yang sesungguhnya. Jadi, kata “munafik” di situ harus kita pahami dengan baik dan benar.   Nah, ada beberapa salah pengertian tentang kemunafikan yang ada. Saya mau jelaskan kepada Saudara. Yang pertama, Kita perlu mengerti bahwa kemunafikan bukanlah jarak atau perbedaan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang seharusnya kita lakukan; itu namanya kelemahan atau kekurangan manusiawi. Demikian juga, kemunafikan bukan jarak atau perbedaan antara perilaku kita dengan apa yang seharusnya menjadi standar perilaku kita di hadapan Tuhan;
karena itu namanya dosa.   Definisi dosa adalah missing God’s standard. Pada saat kita sebagai manusia tidak berhasil memenuhi standar yang Tuhan tetapkan. Dan kita semua tahu bahwa kita ini semua dilahirkan dalam dosa. Oleh sebab itu, Tuhan juga tidak menuntut kesempurnaan dari kita. Dan Tuhan tidak membenci orang yang berdosa.   Tetapi Alkitab mencatat, Tuhan membenci orang munafik. Nah, saya ingin Saudara melihat satu ayat yang sangat penting bagi saya.   Opening Verse – Doa orang benar besar kuasanya. “Karena itu hendaklah,” bagian pertama katakan, Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Yakobus 5:16 (TB)
Saudara, kita sering mengutip, dan kita ingin bagian daripada ayat ini digenapi dalam kehidupan kita; bahwa doa orang benar besar kuasanya, bukan, amin? Namun, dari ayat ini Saudara bisa belajar bahwa “orang benar” di sini, dikatakan bukanlah orang sempurna yang tidak berdosa. Tapi orang benar adalah orang yang berdosa, yang berani jujur dan mengaku dosanya. Karena dikatakan, orang yang berani mengaku dosanya, mereka adalah orang yang benar, walaupun berdosa, dan orang yang benar yang berani mengaku dosanya, doanya besar kuasanya.   Kemunafikan adalah jarak perbedaan antara apa yang kita tampilkan dengan siapa kita yang sesungguhnya.   Nah, pertanyaannya adalah, apakah selama ini kita hidup memakai topeng? Tidak berani menampilkan siapa diri kita yang sesungguhnya, kepada Tuhankah?   Supporting Verse – Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Matius 23:27-28 (TB)
Yesus tahu siapa kita sesungguhnya. Dan Alkitab selalu berkata bahwa Yesus mengasihi orang yang berdosa. Apabila Saudara dan saya mengakui keberadaan kita, dan kita tidak berusaha menutupinya di hadapan Tuhan, sebenarnya kita dikatakan sebagai orang benar, karena kita dibenarkan oleh pengakuan kita di hadapan Tuhan.   Jadi pertanyaannya sekali lagi, Why should we live an honest life? Masih perlukah dan butuhkah kita hidup dalam kejujuran dan keterbukaan? Dan di dalam pelajaran kita hari ini, saya ingin lebih fokus kepada dampak daripada kehidupan kita yang berani jujur dan terbuka kepada Tuhan,
yang tentunya akan mempengaruhi kejujuran dan keterbukaan kita kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.
Kebenaran ini bukan hanya akan mempengaruhi kehidupan rohani Saudara secara mendalam, tapi juga akan berdampak kepada kehidupan mental dan emosional Saudara secara positif. Jadi, apa saja yang kita bisa pelajari apabila kita hidup berani jujur dan terbuka kepada Tuhan? Ada tiga pelajaran yang Saudara bisa pelajari pada hari ini.   Supporting Verse – Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Roma 8:31 (TB) 
Ini adalah salah satu ayat yang seringkali saya kutip dalam kehidupan saya pribadi. If God is for me, who can be against me?   Pertama, Dampak pertama daripada kehidupan kita yang berani jujur dan terbuka kepada Tuhan adalah assurance and authority. Kepastian bahwa Tuhan ada di pihak kita. Assurance atau kepastian bahwa Allah ada di pihak kita, dan otoritas rohani yang ada dalam diri kita
untuk bisa berkata kepada badai yang ada dalam kehidupan kita, maupun gunung yang sedang ada di depan, menghadang kehidupan kita, datang daripada kejujuran atau beraninya jujur kita di hadapan Tuhan, dan terbuka kepada Dia.   Kita sudah belajar tadi bahwa, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan dari diri kita. Tetapi Tuhan menghargai kejujuran yang kita berikan di hadapan-Nya. Tuduhan (condemnation) atau rasa bersalah (guilt), berkuasa bekerja bukan karena apa yang telah kita lakukan atau kesalahan yang telah kita buat. Tapi sesungguhnya, tuduhan dan rasa bersalah bekerja karena ada satu hal yang belum kita lakukan, yaitu pengakuan; atau berani jujur kepada Tuhan.   Itu sebabnya, iblis seringkali memakai tuduhan dan rasa bersalah untuk melumpuhkan kepastian dan otoritas kita
to speak to our lives (berkata-kata dalam kehidupan kita).
Otoritas dan wibawa yang kita butuhkan untuk menjalankan kehidupan, seringkali dilumpuhkan karena rasa bersalah
akan apa yang sudah kita lakukan dalam kehidupan kita.   Untuk belajar tentang kepastian dan otoritas— otoritas rohani dalam kehidupan kita— kita bisa belajar dari salah seorang pemimpin dalam Perjanjian Lama, yang bernama Musa. Kita tahu bahwa Musa adalah pemimpin yang sangat dikagumi dan dihormati oleh bangsa Israel yang dia pimpin keluar dari Mesir.
Nah, ada dua ayat yang saya ingin kutip kepada Saudara,
berkaitan dengan bagaimana Musa memimpin bangsa Israel.   Supporting Verse – Apabila orang Israel melihat muka Musa,
bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan Tuhan. Keluaran 34:35 (TB)
Ini adalah ayat yang mencatat tentang pengalaman Musa, berbicara dengan Tuhan di Gunung Sinai. Setiap kali Tuhan berbicara dengan dia, kulit mukanya Musa bercahaya. Dan ketika Harun dan bangsa Israel melihat Musa dengan wajah yang bersinar seperti itu, pada saat dia turun dari gunung, maka mereka menjadi ketakutan.   Oleh sebab itu, Musa menyelubungi mukanya supaya bangsa Israel dan Harun dan yang lain, tidak ketakutan untuk bertemu dengan dia. Saya ingin mengutip satu ayat lagi di Perjanjian Baru, yang dituliskan oleh Paulus kepada Jemaat di Korintus.
Supporting Verse – tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu. 2 Korintus 3:13 (TB)
Dua ayat ini menggambarkan tentang selubung dari perspektif yang berbeda. Yang pertama di dalam Keluaran pasal 34 tadi: Musa perlu menyelubungi mukanya, supaya sinar itu tidak mengganggu atau tidak menakutkan bangsa Israel.   Di 2 Korintus 3:13 ini dikatakan: Musa menyelubungi mukanya ini, supaya bangsa Israel tidak melihat bahwa cahaya sinar kemuliaan itu sudah hilang. Selubung yang pada mulanya ada untuk melindungi bangsa Israel dari sinar kemuliaan Tuhan yang terpancar di wajah Musa, menjadi selubung yang dipakai Musa untuk menutupi hilangnya cahaya itu dari wajahnya. Selubung atau topeng, seringkali kita pakai untuk menutupi sesuatu yang tidak ada atau tidak ada lagi dapat ditemukan di dalam kehidupan kita.   Supporting Verse – Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. 2 Korintus 3:18 (TB)
Pada saat kita berani jujur, berhadapan dengan Tuhan, face-to-face, maka kemuliaan-Nya akan terpancar kepada kita. Dan kemuliaan-Nya akan terpancar melalui kita. Dan pada saat itulah, ada keyakinan bahwa Tuhan ada di pihak kita.
Itu sebabnya, Saudara tidak bisa berkata bahwa: “Who can be against us”; oleh sebab itu, keyakinan bahwa Tuhan ada di pihak kita, tidak dapat kita bangun karena aktivitas agamawi kita. Kepastian dan otoritas— we know that God is on our side, bahwa Dia ada di pihak kita, pada saat kita mampu berdiri, jujur terbuka di hadapan Dia.   Seperti rajawali yang terbang tinggi menuju matahari pada saat dia sedang dikejar oleh musuhnya, seperti itulah kita menghadapi semua panah api yang datang ditujukan kepada kita, untuk membawanya semua menghadap Tuhan. Dan apabila kita berani jujur kepada-Nya, dan membawa itu semua menghadap Tuhan face-to-face.
Pada moment tertentu, semua yang mengejar kita, tidak akan mampu bertahan di hadirat-Nya. Saya berdoa, biar keyakinan dan otoritas ada di hidupmu. Pada saat Saudara berani hidup jujur, terbuka kepada Dia,  Saudara tidak perlu takut, karena tidak ada lagi yang engkau sembunyikan. Itu yang pertama.   Dampak yang kedua, pada saat Saudara berani jujur dan hidup terbuka pada Tuhan, adalah perubahan kehidupan, transformation, yang bisa terjadi dalam kehidupan Saudara.
Perubahan kehidupan tidak terjadi, sekali lagi, karena aktivitas agamawi. Hanya saja karena kita rajin bergereja, hanya saja karena kita rajin menonton online service, tidak memastikan bahwa hidup kita akan segera berubah, bukan?   Perubahan kehidupan diawali oleh kejujuran dan pengakuan kita akan keberadaan diri kita di hadapan Tuhan. Manusia pertama kali harus menutupi dirinya karena dosa. Pada saat itu, Adam tidak berani bertanggung jawab untuk mengakui keberadaan dan kesalahan yang dia lakukan terhadap Tuhan. Restorasi dan transformasi terjadi, diawali dengan pengakuan.
Supporting Verse – Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. Amsal 28:13 (TB)
Terjemahan Inggrisnya (terjemahan NIV) katakan seperti ini:
Whoever conceals their sins does not prosper, but the one who confesses and renounces them finds mercy.
Perubahan kehidupan, transformasi kehidupan, berawal pada saat kita berani jujur mengakui keberadaan kita di hadapan Tuhan. Pada saat kita berani terbuka pada Tuhan, pada saat itulah perubahan mulai terjadi, dan pemulihan mulai terjadi.   Supporting Verse – Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,”  dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Mazmur 32:5 (TB)   Saudara, apabila kita mau mengalami perubahan kehidupan,
tidak ada cara jalan pintas yang lain, kecuali kita berani hidup jujur, datang kepada Tuhan sebagaimana kita adanya.   Pelajaran yang pertama: kepastian dan otoritas. Kedua: transformation. Kalau kita mau hidup kita berubah, Kita mau mengalami perubahan yang datang karena kita berjalan bersama dengan Tuhan, hidup dalam otoritas yang wibawa, maka apa yang baru kita pelajari ini akan membantu kita.   Pelajaran yang ketiga dan yang terakhir adalah, apa yang akan terjadi pada saat kita berani jujur dan hidup terbuka pada Tuhan: Freedom (Kemerdekaan).
Saya tidak tahu berapa banyak di antara Saudara yang merindukan life of freedom (hidup merdeka). Merdeka dari tuntutan. Merdeka dari memakai topeng. Saya seringkali kalau melihat istri saya, kalau habis pulang kondangan atau acara besar, di mana membutuhkan make up yang besar, bahkan hairdo, ada rambutnya yang harus dikhususkan dandanannya. Setiap kali saya lihat kalau dia lepas dari itu semua; dari rambutnya, dari make up-nya dan kemudian kembali kepada aslinya dia, saya bisa melihat ada kelegaan yang luar biasa. Freedom yang dapat dia rasakan.   Saya merasa bahwa ada banyak di antara Saudara yang mungkin menyadari bahwa hidup, menghidupi a mask-covered life (hidup bertopeng) adalah kehidupan yang melelahkan. Saudara selama ini hidup memilih apa yang Saudara tampilkan ke luar. Saudara bahkan selfie pun sudah pilih filternya. Saudara hidup setiap hari untuk mendapatkan approval dari orang-orang lain.
Memang betul kadang-kadang kita semua ketagihan acknowledgement, pengakuan dari apa yang kita terima daripada orang lain. Tapi kalau kita mau jujur, kalau kita hidup mengejar itu saja, akan membuat kita hidup dalam kelelahan, seperti beban yang kita pikul terus-menerus.   Kita akan terus-terusan bertanya: “Apa yang orang lain pikirkan?” atau, “Apa yang orang katakan tentang diriku?   Hari ini, Saudara bisa bebas dari itu semua. Saudara bisa punya kesempatan untuk menjadi versi dirimu yang terbaik.
Menjadi dirimu sendiri. Saudara bisa merdeka dan bebas daripada semua tuntutan, bebas dari rasa membutuhkan pengakuan atau approval dari pada orang lain.   Bahkan Saudara bisa bebas dari rasa malu karena apa yang pernah terjadi, atau masa lampau yang tidak bisa Saudara hindari. Saudara, saya kalau mengingat masa kecil saya, saudara pernah mendengar saya mengaku dan bercerita tentang masa kecil saya. Saya pernah mencuri. Betapa sering saya berpikir bahwa: “Saya berharap itu tidak pernah terjadi.” Dan malu, [akan] label sebagai seorang pencuri di masa kecil saya.   Saya tahu bahwa ada banyak di antara kita yang bergumul dengan suara tuduhan yang seperti ini, yang berkata “Kamu tidak akan pernah cukup!” “Kamu tidak akan pernah cukup baik!” “Kalau saja orang-orang di sekitarmu tahu siapa dirimu yang sesungguhnya!”   Saudara, ada tuntutan, ada tuduhan, ada condemnation, ada judgment, bahkan ada people’s expectations, harapan orang lain dalam kehidupan kita yang kadang kala tidak kita sadari kita pikul di dalam kehidupan. Hari ini Saudara bisa bebas dari itu semua karena itu semua seperti topeng atau selubung yang sedang menutupi kehidupan kita. Berita baiknya adalah Saudara bisa bebas dari itu semua. Dan kunci untuk kemerdekaan dan kebebasan itu adalah Tuhan.   Supporting Verse – Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan maka selubung itu diambil dari padanya. 2 Korintus 3:16 (TB)
Berita baiknya, Saudara, bukan kekuatan Saudara dan saya
yang melepaskan diri kita dari topeng yang kita pakai. Kuasa daripada Tuhanlah, Yesuslah, yang melepaskan topeng ini, selubung ini, dari kehidupan kita.
Pada saat kita memilih untuk berbalik kepada Dia, memilih untuk datang dan jujur kepada Dia, memilih untuk tidak lari daripada-Nya.   Supporting Verse – Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. 2 Korintus 3:17 (TB)   Pada saat kita berbalik pada Dia, Dia yang adalah Roh akan memerdekakan kehidupan kita. Dan kemudian, dilanjutkan di ayat ke-18, inilah yang akan terjadi kalau Saudara hidup, datang jujur menghadap Dia.    Closing Verse – Dan kita semua akan mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. 2 Korintus 3:18 (TB)