JPCC Online Service (16 October 2022)
Salam damai sejahtera untuk Saudara, para DATE Member JPCC yang dikasihi Tuhan. Juga selamat bergabung kepada semua yang mengikuti ibadah daring JPCCdi minggu kedua di bulan Oktober ini.
Seperti yang sering saya katakan bahwa di bulan berakhiran “-ber”—September, Oktober, November, dan Desember— rasanya seperti waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Saya berdoa Saudara semua dalam keadaan baik dan sehat, baik jasmani dan rohani, serta siap belajar kebenaran firman Tuhan.
Di bulan Oktober ini kita membahas tema mengenai agendanya Tuhan. Kalau Saudara masih ingat, di bulan yang lalu saya katakan bahwa kita diciptakan Tuhan untuk kesenangan-Nya.
Namun kebanyakan orang percaya, secara sadar atau tidak, sering kali berpikir sebaliknya, bahwa Tuhan ada untuk kesenangan mereka. Kita diingatkan berulang kali bahwa kita ini ciptaan Tuhan.
Dan tentunya, sebagai Pencipta, Tuhan pasti lebih mengerti tentang kita dan tentang apa yang baik yang Dia mau kita kerjakan dalam hidup yang Dia berikan.
Kita juga sudah belajar bahwa karena dosa, hubungan manusia dengan Tuhan terputus. Akibatnya, manusia menjadi sibuk dengan agendanya atau rencananya sendiri. Dunia sekitar kita membuktikan bagaimana manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Fokus mereka hanya untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Mereka hidup hanya untuk mencari kesenangan pribadi, yang mereka kejar semata-mata hanyalah hasil. Pencapaian mereka diukur dengan takhta dan harta benda semata.
Saya teringat perkataan John Maxwell, penulis buku tentang kepemimpinan yang sangat terkenal. Beliau mengatakan:
“We tend to think of success in terms of resultswhen it actually depends far more on relationships.”
“Kita cenderung memikirkan kesuksesan dalam bentuk hasil,padahal sebenarnya sukses jauh lebih bergantung pada hubungan.”
Kemudian beliau juga katakan:
“True success is attained when the people closest to us love and respect us the most.”
“Sukses yang sebenarnya dicapai pada saat orang-orang yang terdekat dengan kita adalah orang-orang yang paling mengasihi dan menghormati kita.”
Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan oleh kasih karunia, sebagai imamat yang rajani, sebagai orang-orang yang percaya Yesus, yang sudah diberikan akses untuk menghadap hadirat-Nya kapan saja,
seharusnya kita sadar bahwa ada yang lebih mulia daripada semua yang dicari oleh mereka yang tidak mengenal Tuhan, karena kita sadar bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mempunyai rencana, bahwa hidup kita bertujuan untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya dan menjadi berkat buat sesama manusia.
Meskipun kita sadar bahwa Tuhan punya rencana yang baik dan penuh dengan damai sejahtera, tetapi dalam kenyataannya, setiap kali Tuhan menyatakan rencana-Nya, tidak mudah untuk kita menerimanya begitu saja, apalagi melakukannya. Dan inilah yang sering kali menjadi ketegangan, seperti tarik-menarik dalam perjalanan iman kita dengan Tuhan. Apalagi Tuhan sendiri mengatakan dalam kitab Yesaya 55:8-9 (TB).
Opening Verse – Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu Yesaya 55:8-9 (TB)
Perhatikan, bukan hanya rancangan-Nya yang kerap berbeda dengan rancangan kita;melainkan, jalan untuk mencapai rancangan tersebut juga berbeda.
Kalaupun pada akhirnya kita bisa menerima rancangan-Nya, bukan berarti jalan yang akan Tuhan tempuh untuk mencapai rancangan tersebutsama dengan jalan kita.
Contohnya, Tuhan menjanjikan keturunan kepada Abraham, dan tentu Abraham tidak keberatan dengan rencana tersebut karena memang Abraham dan istrinya, Sara, belum mempunyai keturunan. Namun kita lihat bahwa jalan yang dipikirkan dan ditempuh Abraham dan Sarasangat berbeda dengan jalan yang Tuhan tempuh.
Dan bukan hanya jalannya yang berbeda, melainkan juga waktunya berbeda. Waktu Abraham berbeda dengan waktunya Tuhan. Diceritakan bahwa karena umurnya yang sudah menua, maka Abraham mengambil jalan yang lebih mudah dengan menghampiri Hagar, hamba istrinya, untuk mendapatkan keturunan.
Sedangkan janji Tuhan akan keturunan yang sebenarnya datang melalui Sara, meskipun Abraham dan Sara sudah mencapai usia yang sangat lanjut,yang secara pemikiran manusia tidak mungkin memiliki keturunan.
Supporting Verse – Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya Kejadian 17:17-19 (TB)
Kita lihat bahwa Abraham sendiri menertawakan jalan yang Tuhan pilih karena Tuhan memilih untuk memakai jalan yang tak masuk akal pikirannya sebagai manusia. Tuhan memilih jalan yang lebih tinggi. Itu sebabnya selalu diperlukan iman untuk mengikuti jalannya Tuhan.
Demikian juga Yesus, dalam pelayanan-Nya, selalu memakai cara-cara yang tidak biasa, yang di luar pemikiran manusia:
1. Yesus memakai air pembasuhan untuk dijadikan anggur dalam pesta pernikahan di Kana.
2. Yesus menyembuhkan orang buta dengan cara meludah ke tanah, lalu mengaduk ludahnya dengan tanah dan mengoleskannya pada mata orang buta tadi, sambil berkata: “Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam,” dan orang buta itu pun melihat.
3. Suatu hari, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberi makan 5.000 orang laki-laki—belum termasuk yang perempuan dan anak-anak. Rencana ini tentu mengagetkan murid-murid-Nya karena sama sekali tidak pernah tebersit dalam pikiran mereka untuk memberi makan lebih dari 5.000 orang sekaligus. Namun karena guru mereka yang memerintahkan, maka mereka mulai berpikir bagaimana menjalankannya, beli makanan di mana,berapa uang yang dibutuhkan— uang yang notabene belum tentu mereka punya.
Sedangkan jalan yang Yesus pakai yaitu cukup dengan menggunakan lima roti dan dua ikan. Sewaktu Yesus mendengar Lazarus, sahabat-Nya meninggal, Alkitab mencatat bahwa Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat di mana Ia berada sebelum pergi untuk membangkitkan Lazarus dari kematian.
Jadi kita lihat perbedaan dalam agendanya Tuhan. Yang berbeda bukan hanya rancangan, melainkan jalan untuk mencapai rancangan itu dan waktu pelaksanaannya pun berbeda. Waktu Tuhan bukanlah waktu kita, tetapi waktu Tuhan akan selalu indah pada akhirnya.
Supporting Verse – Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Pengkhotbah 3:11 TB
Karena manusia tak dapat menyelami pekerjaan yang Tuhan lakukan dari awal sampai akhir, maka yang sering menjadi pertanyaan kita terhadap agendanya Tuhan adalah:
Bagaimana mungkin? Atau, bagaimana mungkin terjadi?
Pertanyaan ini diucapkan oleh Zakharia, seorang imam, ketika malaikat Gabriel memberitahukan dia bahwa dia dan Elisabet, istrinya, akan melahirkan seorang anak laki-laki di saat mereka berdua sudah lanjut umurnya.
Supporting Verse – Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya. Lukas 1:18 TB
Bayangkan seorang imam seperti Zakharia saja kesulitan untuk mengerti jalan dan waktu yang Tuhan pilih. Apalagi kita baca bahwa Zakharia ini bukanlah sembarang orang. Dia seseorang yang mempunyai rekam jejak yang sangat baik sebagai seorang imam, seperti yang dicatat dalam Lukas 1:5-6 (TB).
Supporting Verse – Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Lukas 1:5-6 TB
Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh Maria, ibu Yesus, ketika malaikat datang membawa berita bahwa dirinya akan mengandung seorang anak laki-laki dari Roh Kudus.
Supporting Verse – Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Lukas 1:34 (TB)
Kita lihat Maria mengalami kesulitan untuk memercayai jalan yang Tuhan pakai. “Bagaimana mungkin terjadi?” katanya, “Aku masih seorang perawan.” Mungkin Maria berpikir, karena dia belum bersuami, mengapa tidak menunggu untuk dia menikah lebih dahulu?
Kita lihat dalam agendanya Tuhan selalu ada tiga elemen penting yang penting yang berbeda dengan agenda kita, yaitu rancangan, jalan, dan waktu. Tiga elemen yang sangat penting kalau kita mau melihat agendanya Tuhan— yang sering kali berbeda dengan agenda kita— yaitu rancangan, jalan, dan waktu.
Kalau pertanyaan “Bagaimana mungkin ini terjadi?” ditanyakan oleh Zakharia dan Maria, tentu Tuhan tidak heran kalau kita juga punya pertanyaan yang sama ketika berhadapan dengan agendanya Tuhan.
Bahkan banyak orang yang sudah percaya Yesus pun melontarkan pertanyaan yang sama ketika mereka mendengar suara Tuhan.
- “Bagaimana mungkin terjadi?” Di zaman yang susah seperti ini, bisnis bisa lancar, bagaimana mungkin terjadi?
- Bagaimana mungkin di usia seperti ini masih bisa dapat pasangan hidup?
- Bagaimana mungkin terjadi, sudah dapat vonis dokter, tapi bisa sembuh?
- Bagaimana mungkin terjadi, dengan gaji seperti ini, bisa punya rumah sendiri?
- Bagaimana mungkin bisa terjadi, pernikahan yang sudah berantakan bisa diselamatkan?
- Bagaimana mungkin terjadi, saya bisa meneruskan sekolah, sedangkan orang tua tidak sanggup membiayainya?
- Bagaimana mungkin terjadi, saya mendapatkan izin?
- Bagaimana mungkin diterima di pekerjaan yang selama ini diimpikan? Dan lain sebagainya.
Namun kalau kita mau mengikut Yesus, kita harus memercayai-Nya. Itu sebabnya penting buat kita mempelajari firman-Nya, supaya kita mulai mengenal siapa Tuhan kita dan mengerti bahwa jalan yang Tuhan pakai untuk mencapai sebuah rancangan sering kali memang di luar pemikiran atau menembus batas pikiran manusia.
Tuhan suka membawa kita ke area yang sepertinya tidak mungkin bagi kita, tetapi justru itulah yang membuktikan bahwa Dia Tuhan, Dia berkuasa, dan Dia mampu menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Itulah sebabnya, seperti yang tadi sudah saya katakan, kita perlu modal iman untuk mengikut Tuhan.
Supporting Verse – Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ibrani 11:6 TB
Tuhan tak memiliki masalah untuk memercayai kita, tetapi sering kali kita yang memiliki masalah untuk percaya Tuhan secara konsisten.
Kita percaya pada Dia tapi sering kali tak cukup besar.
Masalah terbesar dalam hubungan kita dengan Tuhan adalah membuat diri kita memercayai Tuhan sampai pada tingkat yang Dia inginkan. Kita tidak percaya pada tingkatan seperti yang Tuhan mau.
Agar kita dapat berada pada tingkatan yang sama seperti kemauan Tuhan, maka Tuhan mengundang kita untuk berjalan bersama Dia dalam sebuah perjalanan iman. Kita sebenarnya sering mendapatkan undangan Tuhan, tapi kita melihat undangan tersebut berbeda.
Kita melihatnya seperti sebuah interupsi. Undangan Tuhan itu seperti gangguan buat kita, seolah-olah Tuhan menginterupsi rencana kita.
Bahkan sering kita melihatnya seolah-olah Tuhan ingin mengagalkan rencana kita dengan tidak mengabulkan permohonan doa kita. Kita sudah rajin bawa dalam doa, bahkan berpuasa, tetapi tidak juga dikabulkan.
Padahal kita yang tak sadar bahwa pada saat itu Tuhan sedang menyodorkan agenda-Nya yang jauh lebih baik daripada agenda kita sendiri, tetapi kita melihatnya sebagai sebuah interupsi.
Interupsi tersebut bisa dalam bentuk hubungan yang putus, proposal bisnis, lamaran pekerjaan yang ditolak, jadwal yang ditunda, janji temu yang gagal, pesan yang tidak sampai, dan lain sebagainya.
Karena kita tidak mengerti bahwa Tuhan sedang menyodorkan agenda-Nya, maka respon kita sering kali salah kepada Tuhan. Kita marah-marah, kecewa, kita ngambek, tak mau lagi pelayanan, tak mau lagi pergi ke gereja, dan lain sebagainya.
Padahal sebenarnya tujuan interupsi tersebut adalah Tuhan ingin menunjukkan kasih-Nya kepada kita, Tuhan ingin memberikan yang lebih baik untuk kita, karena sering kali apa yang kita mau bukanlah yang terbaik buat kita.
Bahkan terkadang yang kita mau atau yang kita doakan itu adalah sesuatu yang dapat mencelakakan kita sendiri pada akhirnya. Namun ada juga di antara kita yang pada akhirnya menyerah dan rela atau sedikit terpaksa untuk memenuhi undangan Tuhan tersebut.
Mereka yang memenuhi undangan itu sering kali memakai istilah “sedang diproses Tuhan.”
“Saya sedang diproses Tuhan, nih.” Apa artinya saat seseorang berkata bahwa dia sedang diproses Tuhan?
Artinya dia sedang dibawa menuju tingkat kepercayaan atau tingkatan iman seperti yang Tuhan mau.
Kalau kita taat dan masuk dalam prosesnya Tuhan sampai selesai, maka di akhir proses tersebut, iman kita kepada Tuhan akan naik tingkatnya, menjadi makin kuat, dan kita tak lagi mudah digoyahkan oleh berbagai macam hal yang selama ini mengganggu kita karena iman kita berada pada posisi yang lebih tinggi.
Supporting Verse – Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: ”Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: ”Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya: ”Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: ”Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Markus 10:17-22 TB
Sekarang apa yang kita bisa pelajari dari kisah ini?
Pertama, orang ini mengira untuk memperoleh kehidupan yang kekal, dia harus berbuat sesuatu lebih dahulu.
Sedangkan keselamatan dan hidup yang kekal datang karena seseorang percaya kepada Yesussebagai Tuhan dan Juruselamat, dan bukan karena perbuatan.
Supporting Verse – Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Efesus 2:8-9 (TB)
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Roma 10:9-10 (TB)
Hal kedua yang kita bisa pelajari adalah bahwa ketika dia memanggil Yesus Guru yang baik, Yesus menjawabnya dengan berkata: “Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja.”
Pernyataannya sebenarnya tidak salah. Yesus memang baik. Namun apakah pernyataan itu keluar dari pengalamannya? Rupanya tidak.
Bisa jadi dia hanya dengar dari orang lain bahwa Yesus seorang Guru yang baik. Dan untuk membuktikan pernyataannya itu, Yesus mengundang dia untuk ikut dalam perjalanan.
Namun undangan dari Yesus ini mungkin terdengar berbeda di telinga orang ini, terutama ketika Yesus meminta dia untuk menjual semua miliknya dan memberikannya kepada orang-orang miskin. Undangan Yesus sangat tidak masuk ke akal, di luar ekspektasi orang ini.
Mungkin dia berpikir: “Kata orang Dia baik, kok begini jadinya? Kok saya disuruh jual semua harta dan berikan ke orang miskin?”
Padahal sebenarnya Yesus sedang ingin menunjukkan di mana posisi hati orang ini, yaitu tersangkut pada hartanya. Dan hal itu menjadi jelas ketika orang ini menolak undangan tersebut dan dia pergi meninggalkan Yesus dengan kecewa, karena banyak hartanya.
Secara tidak langsung, Yesus juga menekankan apa yang pernah diajarkan bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, Tuhan dan Mamon.
Orang kaya ini kehilangan kesempatan untuk mempunyai pengalaman pribadi berjalan bersama dengan Yesus. Dia juga kehilangan kesempatan untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta benda, dan kesempatan untuk membuktikan sendiri apakah benar Yesus itu baik.
Hal ketiga yang kita bisa pelajari adalah bahwa tidak semua orang mau dibawa dalam perjalanan iman bersama dengan Yesus, tidak semua orang mau diproses oleh Tuhan, terutama mereka yang hatinya tertambat pada harta dunia ini.
Supporting Verse – Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10:23-25 (TB)
Kekayaan dan harta mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, yang dapat membuat orang melupakan hal-hal yang yang jauh lebih penting, hal-hal yang mendatangkan keselamatan dan hidup yang kekal.
Supporting Verse – Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Matius 16:26 TB
Pertanyaannya sekarang, apakah Saudara mau menerima apabila Tuhan menyodorkan agenda-Nya?
Seperti yang pernah saya alami beberapa kali,yaitu antara lain ketika Tuhan minta saya untuk meninggalkan pekerjaan di sebuah bank, untuk kemudian melayani Dia sepenuh waktu dan membangun JPCC. Saya harus akui bahwa agenda Tuhan itu jauh lebih baik daripada agenda saya sendiri.
Tentu kalau saya menjalankan agenda saya sendiri, saya tidak ada di depan Saudara hari ini. Apakah Saudara bersedia diinterupsi agendanya dan digantikan dengan agenda Tuhan? Apakah Saudara mau menerima undangan Tuhan untuk ikut dalam perjalanan iman bersama dengan Dia secara pribadi?
Apakah Saudara bersedia diproses oleh Tuhan, bahkan jika itu berarti harus meninggalkan sesuatu yang menurut Saudara sangat berharga?
Harus diakui bahwa kita sering bergumul untuk menerima agendanya Tuhan karena kita belum yakin betul bahwa Tuhan itu baik, seperti orang kaya yang baru saja kita bahas.
Mungkin kita sering mengatakan, bahkan menyanyi di gereja, bahwa Tuhan baik, tetapi sebenarnya kita tidak punya kedalaman iman yang cukup dan tidak yakin betul bahwa Dia baik buat kita. Itu sebabnya Saudara perlu mendengarkan firman Tuhan ini, dalam Mazmur 119:68 (TB).
Supporting Verse – Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Mazmur 119:68 TB
Tuhan itu baik dan hanya dapat berbuat baik.Kebaikan melekat pada karakter Tuhan. Kebaikan adalah sifat Tuhan.
Closing Verse – Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Yakobus 1:16-17 (TB)
Kita perlu mengamini ayat-ayat firman Tuhan ini.Dan keyakinan tersebut bisa kita dapatkan kalau kita mempunyai pengalaman dan perjalanan iman pribadi bersama dengan Tuhan. Itu sebabnya, jangan menolak prosesnya Tuhan.
Jangan menolak undangan untuk berjalan bersama Dia, sehingga kita bisa punya iman yang didapat dari pengalaman pribadi. Iman pribadi kita dapat muncul sedemikian rupa sehingga pada saat kita menemui “interupsi” yang lain lagi dari Tuhan, ketika Tuhan menyodorkan agenda-Nya yang lain lagi kepada kita, maka kita lebih mudah menerimanya karena kita tahu bahwa yang Tuhan punya pasti jauh lebih baik dan membawa kemuliaan bagi nama-Nya.
Kiranya apa yang saya bagikan ini dapat menolong dan memperlengkapi Saudara sehingga iman Saudara terus bertumbuh di dalam Kristus dan hidup Saudara makin diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya. Di dalam nama Yesus. Amin.



