JPCC Online Service (6 Maret 2022)
Salam damai sejahtera, JPCC DATE Member yang dikasihi Tuhan, dan Saudara semua yang mengikuti ibadah daring JPCC pada hari Minggu pertama di bulan Maret ini. Kiranya kasih karunia dan kebaikan Tuhan menyertai Saudara semua. Tak terasa kita sudah ada di bulan Maret dengan tema ”FAITHFUL AND FRUITFUL,”— demikianlah judul khotbah saya hari ini.
Alkitab mengajarkan kita tentang prinsip dan pola (pattern), karena Tuhan bekerja memakai pola dan Ia berpegang pada prinsip.
”Principle is a broad and basic truth. It is a law or rule that explains how things work, and why things happen the way they do.” Dr. A. R. Bernard
Prinsip adalah kebenaran yang luas dan mendasar. Prinsip adalah hukum atau aturan yang menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja dan mengapa sesuatu terjadi. Untuk lebih mudahnya, prinsip itu saya ibaratkan bagai sebuah rumus. Sedangkan pattern adalah pola atau cara bagaimana sesuatu terjadi.
Opening Verse – Pencuri datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Yohanes 10:10 (TB)
Itulah pola yang dipakai iblis untuk menggagalkan rencana Tuhan dalam hidup kita. Secara berkala saya pelajari kembali kitab Kejadian khususnya pasal 1-3. Saya senang melakukannya karena saya mendapat gambaran yang cukup jelas tentang rencana awal Tuhan sebelum manusia berdosa, dan bagaimana cara dosa masuk ke dalam dunia.
Di sana, saya juga temukan beberapa pola yang Tuhan pakai saat melakukan sesuatu yang dapat saya aplikasikan dalam hidup sehari-hari. Contohnya sebagai berikut.
Supporting Verse – Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Kejadian 1:5 (TB)
Cara Alkitab menghitung hari, dimulai dari petang (malam) dulu baru pagi. Dikatakan “Jadilah petang dan jadilah pagi”— inilah hari yang pertama. Berlawanan dengan cara kita menghitung hari, yang biasanya kita hitung mulai dari pagi sampai malam. Pola menghitung hari di dalam Alkitab tidak hanya terjadi pada hari pertama, tetapi terjadi setiap hari.
Alkitab menuliskan yang sama pada hari kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dikatakan: “Jadilah petang, dan jadilah pagi.” Itulah pola satu hari menurut Alkitab, sejak semula.
Jadi, apa yang kita bisa pelajari?
Malam adalah waktu kita untuk beristirahat, sementara pagi adalah waktu untuk beraktivitas. Sudah menjadi pengetahuan umum, jika kita tidur di malam hari dengan tidur yang cukup dan berkualitas, akan meningkatkan ketahanan tubuh kita dan memberikan tenaga sehingga kita menjadi produktif di hari esoknya. Sedangkan kalau tidur kita di malam hari tidak cukup dan kurang pulas, maka tidak heran kalau di pagi hari kita kurang energi dan tak bersemangat.
Dari pola yang Tuhan perkenalkan pada masa penciptaan, kita dapatkan sebuah prinsip bahwa Istirahat menentukan kinerja.
Bagaimana mengaplikasikannya dalam hidup kita?
Mulai agendakan istirahat atau liburan dengan baik. Sejak saya mengerti pola ini, saya selalu mengatur jadwal kegiatan setelah saya mengatur jadwal liburan. Kemudian saya temukan pola lain dimulai dari kitab Kejadian.
Supporting Verse – Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26 (TB)
Di ayat ini kita temukan rencana yang menjadi alasan Tuhan menciptakan manusia. Rencana yang dibuat sebelum Tuhan menciptakan manusia, karena manusia baru diciptakan di ayat selanjutnya.
Supporting Verse – Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1:27 (TB)
Jadi rencana Tuhan lebih dahulu ada, sebelum manusia diciptakan. Kita bisa temukan pola yang sama di beberapa bagian dalam Alkitab, contohnya sebagai berikut. yang dikatakan Daud dalam Mazmur.
Supporting Verse – Engkau melihat aku waktu aku masih dalam kandungan; semuanya tercatat di dalam buku-Mu; hari-harinya sudah ditentukan sebelum satu pun mulai. Mazmur 139:16 (BIS)
Pernyataan Daud ini sangat luar biasa, menurut saya, karena Daud sadar bahwa hidupnya bukanlah suatu kebetulan semata. Ada rencana Tuhan di dalam hidup Daud.
Supporting Verse – Firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya: Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Yeremia 1:4-5 (TB)
Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia. Hakim-hakim 13:24 TB
Hal yang sama terjadi pada Simson dalam ayat diatas, Yohanes Pembaptis, dan kepada Yesus sendiri. Malaikat memberitahukan Maria—ibu Yesus— rencana Tuhan sebelum Yesus ada di dalam kandungannya.
Supporting Verse – Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. Lukas 1:31-33 (TB)
Dari pola ini saya mengerti bahwa Tuhan juga sudah punya rencana atas hidup saya, rencana yang sudah ditetapkan bahkan sebelum saya lahir. Saya dilahirkan di dunia ini karena ada rencana Tuhan atas hidup saya, dan demikian juga halnya dengan Saudara semua.
Keberadaan kita di dalam dunia ini bukan suatu kebetulan. Tuhan punya rencana atas kehidupan kita masing-masing. Kalau kita mengenal polanya Tuhan dan mengerti prinsip yang Tuhan perkenalkan melalui firman-Nya, maka kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam pengajaran.
Pola dan prinsip ini dapat menolong kita untuk membedakan mana kehendak Tuhan dan mana yang bukan; mana yang Tuhan mau kita kerjakan dan mana yang kita harus hindari—meskipun kelihatan sangat menguntungkan sampai disebut “too good to be true” (terlalu bagus untuk jadi kenyataan).
Supporting Verse – Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Mazmur 119:105 (TB)
Itu sebabnya kita perlu disiplin dan sungguh-sungguh dalam membaca dan mempelajari Alkitab. Saya ingin mengulangi beberapa hal dari khotbah saya bulan lalu, sekadar untuk mengingatkan kita sebelum melanjutkan dengan pelajaran hari ini. Diambil dari Yohanes 15:1-5 (TB).
Supporting Verse – Yesus katakan, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:1-5 (TB).
Yesus selalu memakai perumpamaan yang sangat sederhana agar mudah dimengerti, dan ayat yang baru kita baca adalah bagian dari perkataan Yesus yang terakhir kepada murid-murid-Nya, Tentu saja, berarti perkataan-Nya ini sangat penting.
Apa saja yang dapat kita pelajari dari perikop yang kita baru baca tadi?
Pertama, buah ada bukan untuk dinikmati oleh pohon, melainkan untuk dinikmati oleh orang lain.
Hidup yang menghasilkan buah adalah hidup yang jadi berkat buat orang lain. Bukan hanya dilihat dari apa yang kita berikan, melainkan juga dari bagaimana prosesnya sampai kita menjadi berkat.
Mengapa prosesnya juga penting?
Sebab ada orang-orang yang banyak berbagi dan merasa menjadi berkat buat banyak orang, padahal apa yang mereka bagikan didapat dengan cara yang tidak benar. Misalnya yang dibagikan-bagikan itu bukan dari hasil usaha mereka sendiri, melainkan hasil dari sebuah kejahatan atau dari sebuah penipuan. Tentunya hal in tak dapat disebut buah yang baik, tetapi buah yang tidak baik.
Supporting Verse – Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Matius 7:17-18 (TB)
Jadi, ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, tetapi pohon yang baik selalu akan menghasilkan buah yang baik. Itulah tujuan yang kita harapkan dari mempelajari ini semua.
Kedua, buah adalah hasil dari sebuah hubungan, sama seperti anak-anak adalah hasil dari hubungan intim antara ayah dan ibunya.
Ingat, kedua belah pihak terlibat dan memberikan kontribusi. Demikian juga, kalau kita mau menghasilkan buah-buah yang baik dalam hidup kita, kita harus bekerja sama dengan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya.
Dalam bahasa Inggris disebut dengan “bearing fruit”. “To bear” artinya memikul atau menanggung. Perlu diingat bahwa yang menanggung atau memikul buah adalah rantingnya, bukan pokoknya, namun keduanya saling memerlukan.
Kita perlu mengerti bahwa Tuhan selalu ingin bekerjasama dengan kita dalam menjalankan rencana-Nya. Tuhan yang memungkinkan kita menghasilkan buah, tetapi adalah tugas kita untuk memikul buah yang dihasilkan. Sama halnya bagaimana Tuhan memberikan anak-anak; tugas kitalah sebagai orang tua untuk membesarkan dan mendidik mereka.
Ketiga, untuk berbuah, sebuah ranting tidak perlu bersusah payah atau, istilah saya, ngotot.
Ia cuma perlu tersambung dengan batang atau pokok pohon, sebab selama dia terhubung atau tersambung, ranting dapat mengambil mineral yang diperlukan dari pokoknya, sehingga pada waktunya, ia akan menghasilkan buah.
Selama kita diam di dalam Tuhan, kita akan dapatkan semua yang kita perlukan supaya kita dapat menjadi berkat untuk orang lain.
Keempat, berbuah merupakan gambaran dari orang yang sudah dewasa di dalam Tuhan, karena untuk berbuah banyak bukanlah hal yang mudah.
Bayangkan sebuah ranting yang digantungi banyak buah pasti tidak merasa nyaman. Sedangkan ranting yang tidak berbuah tidak menanggung beban apa-apa. Hidupnya jauh lebih ringan. Kalau ranting dapat berbicara dan diwawancara, pasti ranting yang berbuah akan bersaksi bagaimana beratnya beban yang harus ditanggung ketika menghasilkan buah.
Makin banyak buahnya, makin berat tanggungannya, sehingga ranting pun makin bergantung pada pokoknya, karena beban tanggungan yang makin berat berpotensi untuk menyebabkan ranting menjadi patah atau putus dari pokoknya.
Demikian pula kalau hidup kita menghasilkan banyak buah, kita harus makin dekat dan bergantung kepada Tuhan. Makin sukses seseorang, makin dia harus mencintai Tuhan Yesus, dan bukan malah menjauhi Tuhan. Makin banyak buah yang ditanggungnya, ranting akan makin menunduk. Demikian pula orang yang berbuah banyak, dalam hidupnya, akan makin rendah hati.
Hanya ranting yang tak berbuah atau yang berbuah palsu atau plastik, yang biasanya meninggi.
Kelima, tujuan berbuah adalah untuk kemuliaan nama Tuhan, untuk menunjukkan betapa hebatnya Tuhan yang bekerja di dalam kita, dan sebagai bukti bahwa kita adalah murid-murid Tuhan.
Bukan untuk menunjukkan betapa hebatnya kita, bukan supaya kita yang dipuji-puji orang, apalagi untuk sebuah pencitraan. Bukan itu maksud kita dalam menghasilkan buah.
Supporting Verse – Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. Yohanes 15:8 (TB)
Keenam, buah membedakan antara orang-orang yang sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa dengan orang-orang yang hanya pandai bicara tetapi tidak melakukan firman Tuhan.
Supporting Verse – Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! [yang] akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Matius 7:20-21 (TB)
Sangat mudah untuk terpikat oleh orang yang tak kita kenal atau yang hanya kita ikuti melalui media sosial. Bukan berarti tidak boleh, tetapi perlu lebih dari mahir berkomunikasi untuk hidup menghasilkan buah yang baik. Dengarlah yang rasul Paulus tulis dalam 2 Timotius 3:10 (TB).
Supporting Verse – Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. 2 Timotius 3:10 (TB)
Bukan hanya apa yang Paulus ajarkan, melainkan juga bagaimana cara dia hidup, pendiriannya saat menghadapi godaan, imannya saat dikepung oleh berbagai macam masalah, kesabarannya ketika belum bertemu dengan yang dia harapkan, kasihnya terhadap orang-orang yang sulit dikasihi, dan ketekunannya dalam mengikuti Tuhan. Semua itu bisa dilihat jelas dan dicontoh oleh Timotius.
Supporting Verse – Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu. Filipi 4:9 (TB)
Itu sebabnya, saya katakan bahwa berbuah itu tidak berisik. Tak ada ranting yang berisik saat menghasilkan buah. Demikian juga orang yang berbuah banyak hidupnya tidak berisik. Tuhan sebenarnya bukan hanya rindu untuk kita berbuah, melainkan untuk berbuah banyak.
Supporting Verse – Yesus katakan, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:1-5 (TB).
Dalam Yohanes 15:1-5, kita sebenarnya dapat melihat adanya suatu peningkatan: dari ‘berbuah’, menjadi ‘lebih berbuah’, lalu ‘berbuah banyak’. Mungkin kurang jelas dalam bahasa Indonesia, tapi dalam bahasa Inggris, sangat jelas.
Dikatakan ‘fruit’, lalu ‘more fruit’, kemudian ‘much fruit’, sampai tak terhitung. Ada suatu peningkatan.
Artinya, Tuhan tidak mau kita puas dengan apa yang kita capai sekarang, karena Tuhan tahu potensi kita bisa sampai di mana. Tuhan tahu, sebenarnya kita dapat berbuah lebih banyak lagi. Namun, untuk itu kita harus dibersihkan— firman Tuhan katakan—terutama dari hubungan yang dapat mengganggu pertumbuhan kita, hubungan yang menurunkan nilai-nilai Kerajaan Allah, atau yang membuat kita stagnan atau terhenti, menghambat pertumbuhan kita, menyebabkan kita salah fokus, dan sebagainya.
Tujuan pemotongan ini, supaya kita sanggup menanggung buah yang lebih banyak. Dalam bahasa Inggris dikatakan “to prune“, yang artinya dibersihkan atau dipotong.
Tujuan pemotongan adalah agar kita sanggup menanggung lebih banyak buah, sebab kita tak dapat berbuah lebih banyak kalau kita adalah ranting yang lemah. Kita perlu jadi pribadi yang lebih dewasa dan punya karakter Kristus. Sejak awal penciptaan, Tuhan sudah mencanangkan agar manusia menghasilkan buah.
Supporting Verse – Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28 (TB)
Tuhan memberkati ciptaan-Nya, dan dalam berkat itu ada kemampuan untuk melakukan perintah-Nya. Selanjutnya Tuhan katakan: “Beranakcuculah dan bertambah banyak.”
Sayangnya, terjemahan ini memberi kesan bahwa kemampuan yang Tuhan berikan ituhanya untuk menghasilkan anak cucu saja. Namun, dalam terjemahan bahasa Inggris dikatakan dengan lebih jelas: “Be fruitful and multiply.” “Berbuahlah dan bertambah banyaklah.”
Pengertiannya sekarang menjadi lebih luas. Artinya, manusia bukan hanya mampu untuk mempunyai keturunan saja, tetapi juga mampu untuk menaklukkan bumi dan berkuasa atas ciptaan Tuhan yang lain. Itu sebabnya, manusia mampu mengembangkan apa yang ada di tangan mereka sehingga terjadi pertumbuhan, peningkatan, dan multiplikasi.
Kemudian kita baca dalam Kejadian 2:15 (TB).
Supporting Verse – Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Kejadian 2:15 (TB)
Taman Eden adalah proyek pertama yang Tuhan berikan kepada manusia untuk belajar mengembangkan apa yang ditemukan tangan mereka, karena Tuhan sudah merancang manusia untuk mampu berbuat demikian. Tuhan mau manusia belajar mengelola yang Tuhan percayakan kepadanya, dengan baik.
Ini yang namanya stewardship (kepengurusan). Stewardship adalah tugas dan tanggung jawab untuk mengelola dan memelihara serta mengawasi milik orang lain. Orang yang mengerjakan tugas tersebut disebut steward, atau pengelola, penilik.
Stewardship adalah salah satu kemampuan yang kita perlu miliki untuk dapat berhasil dalam mengarungi kehidupan. Bayangkan, Taman Eden bukan buatan manusia, melainkan buatan Tuhan sendiri. Jadi bisa dipastikan kalau Taman Eden, adalah taman yang luar biasa indah.
Digambarkan, ada berbagai macam pohon, tanaman yang menarik dan bagus di sana. Kemudian ada sungai yang mengalir dan terbagi menjadi empat, ada emas, batu krisopras, dan lain sebagainya.
Taman Eden ini milik Tuhan, tetapi dipercayakan pada Adam untuk dikelola. Namun, bagaimana cara mengelolanya? Tuhan memberitahukannya dalam Kejadian 2:15, yang kita sudah baca dalam bahasa Indonesia.
Supporting Verse – The LORD God took the man and put him in the garden of Eden to work it and keep it. Genesis 2:15 (ESV)
Dua kata sangat penting dalam stewardship adalah “to work” dan “to keep“; untuk mengusahakan dan memelihara.
Saya tidak punya masalah dengan kata ‘memelihara’, karena memelihara artinya menjaga agar tetap pada kondisi yang sama (to maintain). Namun, saya punya kesulitan dengan kata yang pertama, yaitu untuk ‘mengusahakan’.
Mengusahakan, dalam bahasa Inggris, selain berarti “to work it,” diartikan juga menjadi “to tend it,” atau “to cultivate it,” yang artinya untuk mengusahakan atau mengembangkan menjadi lebih baik.
Pertanyaannya adalah: Apakah Tuhan tidak keliru?
Mengapa Adam tidak hanya disuruh untuk memelihara taman Eden tersebut? Adam diminta untuk mengembangkan dan membuatnya menjadi lebih bagus. Bukankah Taman Eden itu ciptaan Tuhan, yang sudah luar biasa indah?
Apakah [mengembangkan] itu mungkin terjadi? Pernahkah Saudara bertanya hal yang sama saat membaca ayat tadi?
Dulu pengertian saya adalah, sesuatu yang datang dari Tuhan, sudah begitu sempurna sehingga tak perlu diapa-apakan lagi. Namun, sekarang saya mengerti bahwa Tuhan memberi kemampuan pada manusia untuk mengembangkan apa yang ada di tangannya, membawanya dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih besar.
Dengan meminta Adam untuk “mengusahakan” berarti Taman Eden mempunyai potensi untuk dikembangkan. Tuhan tentu tak akan memerintahkan Adam kalau Dia tahu Adam tak dapat melakukannya. Tuhan memberi kemampuan kepada Adam untuk melakukan apa yang Dia minta.
Adam sudah diperlengkapi dengan semua yang dia perlukan untuk dapat melakukan kehendak Tuhan. Tuhan mengharapkan Adam mengerjakan apa yang Dia percayakan, di dalam Taman Eden, dan bukan hanya diam saja menikmati taman tersebut.
Bukankah pola yang sama terlihat dalam perumpamaan Yesus di kitab Matius 25—yang kita kenal dengan perumpamaan tentang talenta?
Supporting Verse – “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Matius 25:14-30 (TB)
Dikatakan, tiga orang hamba dipercayakan talenta dengan jumlah berbeda, oleh tuan mereka, sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. Talenta itu bukan milik mereka, tetapi dipercayakan pada mereka untuk dikelola. Hamba yang dipercayakan lima talenta dan yang dipercayakan dua talenta menjalankan atau mengembangkannya— di dalam bahasa Inggris dikatakan “put it to work,”—sehingga beroleh laba lima talenta dan dua talenta.
Sedangkan hamba yang dipercaya satu talenta, hanya menyimpan, tanpa mengusahakannya. Dari perumpamaan ini kita mendapat pengertian apa yang sebenarnya Tuhan maksud dengan kata ‘setia’ atau ‘faithful’, karena pengertian setia bagi Tuhan tidak sama dengan pengertian setia bagi kita.
Setia yang Tuhan maksud adalah produktif. Sifatnya aktif, memakai kemampuan yang Tuhan sudah berikan untuk mengusahakan dan memelihara apa yang Dia sudah percayakan, agar terjadi peningkatan atau multiplikasi.
Bukan hanya diam saja, menunggu dengan pasif, seperti si hamba dengan satu talenta. Akhirnya, tuan yang empunya talenta memerintahkan agar talentanya diberikan kepada hamba yang awalnya diberi lima, sehingga hamba itu sekarang mengelola 11 talenta.
Dari sini kita mendapatkan prinsip, bahwa kita akan kehilangan apa yang tidak dapat kita kelola, dan prinsip ini berlaku dalam semua area kehidupan kita. Kita akan kehilangan kesehatan, kalau kita tak dapat mengelolanya dengan baik.
Kita akan kehilangan uang kalau kita tak dapat mengelolanya dengan baik. Kita akan kehilangan kebahagiaan rumah tangga, pengaruh, bisnis, kita akan kehilangan pekerjaan, waktu, persahabatan, kalau kita tak dapat mengelola semuanya dengan baik.
Sekarang kita menemukan hubungan yang tak terpisahkan antara being faithful (setia) dan being fruitful (berbuah). Tuhan mau kita menghasilkan banyak buah dalam hidup kita. Bapa dipermuliakan kalau hidup kita berbuah banyak, tetapi kita harus belajar untuk setia.
Bukan setia dalam arti diam atau ongkang-ongkang kaki saja, melainkan dalam arti mengeluarkan kemampuan yang Tuhan sudah berikan kepada kita, untuk mengusahakan dan memelihara yang Dia sudah percayakan ke tangan kita, sekecil apa pun itu.
Closing Verse – ‘Bagus,’ kata tuan itu, ‘engkau pelayan yang baik dan setia. Karena engkau dapat dipercayai dengan yang sedikit, saya akan mempercayakan yang banyak kepadamu. Masuklah dan ikutlah bersenang-senang dengan saya!’ Matius 25:23 (BIS)
Demikianlah pelajaran kita hari ini. Saya berdoa agar ini melengkapi kalian semua dan memberikan arahan dalam mengambil keputusan sehari-hari dengan benar. Tuhan Yesus memberkati kalian semua. Amin.
P.S: Dear Friends, I am open to freelance copywriting work. My experience varies from content creation, creative writing for an established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web, mobile, and tablet), social media, marketing materials, and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links.
If your organization needs a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Please contact me and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring, so any support is very much appreciated. Thanks, much and God Bless!



