In Christ (Devoted to Jesus) By Ps. Ary Wibowo

JPCC Online Service (2 January 2021)

Hai, Saudara semua yang dikasihi Tuhan. Senang menjumpai Saudara kembali, di awal tahun yang baru ini. Di mana pun Saudara berada, saya mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru 2022. Saya berharap, ucapan Selamat Tahun Baru ini tidak dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja, melainkan menjadi sebuah dorongan agar kita punya keyakinan yang kuat untuk melupakan atau meninggalkan apa yang ada di belakang, dan memulai tahun yang baru ini dengan cara berpikir yang baru, semangat dan kebiasaan-kebiasaan yang baru, untuk lebih serius dalam mengikuti Yesus dan mendedikasikan kehidupan kita hanya kepada-Nya.

Walau demikian, pernyataan saya untuk melupakan atau meninggalkan apa yang di belakang, bukanlah berarti melupakan tema yang telah kita pelajari dan hidupi sepanjang tahun 2021 yang lalu, yaitu― tema “FOLLOW” atau “MENGIKUT YESUS“.

Di tahun 2022 ini, kita akan melanjutkan dengan tema yang baru, yaitu “SETIA”. Oleh karena itu, khotbah ini saya berikan judul “Di Dalam Kristus” atau “Setia Kepada Yesus”. Persiapkan hati, pikiran, dan catatan Saudara agar dapat menerima dengan baik. Saudara siap?

Sharing Ps. Ary – Sekitar tiga tahun yang lalu, anak saya yang pertama, Arya Petratama— atau Petra, panggilannya—mengikuti sebuah kompetisi taekwondo khusus untuk anak- anak. Pada pertandingan pertama, dia harus bertemu dengan lawan yang lebih berpengalaman. Omong-omong, sebelum saya ceritakan lebih lanjut, saya sudah meminta izin kepada Petra, untuk menceritakan hal ini kepada Saudara semua.

Tanpa saya minta, beberapa menit sebelum bertanding, Petra berdoa di tepi arena— setelah sebelumnya kami berdoa bersama-sama. Sebagai ayahnya, saya mengerti bahwa Petra cukup gugup dan mengharapkan kemenangan di pertandingan pertamanya, di kompetisi pertamanya.

Tetapi, singkat cerita, kejadiannya tidak seperti yang dia dan kami harapkan, Petra mengalami kekalahan di pertandingan pertama, di kompetisi pertamanya. Dalam perjalanan pulang saya bertanya kepada Petra, “Apa yang kamu rasakan?”

Petra menjawab, “Tentu saja, aku merasa sedih dan kecewa karena kalah di pertandingan pertama”. Lalu saya kembali bertanya, “Apa yang kamu pelajari dari pengalaman ini?”

Sejenak Petra berpikir, lalu menjawab, “Saya rasa, terkadang saya menang dan terkadang saya belajar.” Saya senang, karena Petra, walaupun merasa sedih dan kecewa, dapat mengungkapkan apa yang selama ini dia pelajari dari menjadi percakapan saya dan istri— sebagai orang tuanya—dengan dia, dari buku karangan John Maxwell berjudul: “Sometimes You Win, Sometimes You Learn”; terkadang kita menang terkadang kita belajar.

Petra melihat bahwa apa yang dialaminya, sesungguhnya bukan kegagalan, melainkan kesempatan untuk belajar. Kalau Saudara sering mendengar kalimat “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”, mungkin bagi Saudara itu adalah sesuatu yang klise. Tetapi, jika kita bertanya: belajar untuk apa? Maka bisa menjadi sesuatu yang tidak klise. Biasanya jawaban yang diberikan adalah “belajar untuk menjadi lebih baik”.

Pertanyaannya, apa definisi “menjadi lebih baik”, dan “lebih baik” dalam hal apa? Lalu saya bertanya kembali kepada Petra, “Adakah hal lain yang kamu pelajari?” Lalu Petra menjawab dengan cepat: “Menurut saya, sometimes it’s not about winning. It’s about playing”; Terkadang intinya bukanlah tentang meraih kemenangan, tetapi tentang menikmati permainannya atau menikmati prosesnya.

Kutipan ini berasal dari film “Ready Player One”, yang kami tonton bersama. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memastikan bahwa Petra benar-benar menikmati permainan atau prosesnya? Pertanyaan ini tidak saya ajukan kepada Petra saja,tetapi juga kepada Saudara semua dan diri saya sendiri.

Jadi, saya berharap, saat saya menceritakan kisah ini, Saudara bisa menempatkan diri Saudara di posisi Petra. Apabila tahun lalu Saudara mengalami apa yang tadi disebut sebagai kegagalan atau kesempatan untuk belajar, apabila Saudara merasa tidak menutup tahun lalu dengan luar biasa, saya berharap Saudara bisa menempatkan diri Saudara, di posisi Petra, dengan semua pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Pertanyaan terakhir saya kepada Petra adalah: “Apakah kamu akan berhenti berdoa kepada Yesus dan berhenti percaya kepada-Nya setelah kekalahan tadi?” Saya tidak perlu membeberkan jawaban Petra, kepada Saudara. Saya ingin Saudara memikirkan jawaban Saudara sendiri, jika berada dalam situasi yang dihadapi Petra, serta memikirkan alasan atas jawaban Saudara.

Opening Verse – Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Kejadian 2:7 (TB)

And the LORD God formed man of the dust of the ground and breathed into his nostrils the breath of life, and man became a living soul. Genesis 2:7 KJV

Tuhan membentuk sosok manusia dari debu tanah, tetapi menghidupkan manusia melalui napas hidup-Nya atau Roh-Nya. Itulah mengapa kita disebut sebagai “Imago Dei” atau image of God. Di dalam diri kita, terdapat citra Tuhan yang hidup karena kita diciptakan melalui napas hidup-Nya, menjadi serupa dan segambar dengan Dia.

Kata “breathed into“, berasal dari kata “inspirare” atau “in” yang berarti “di dalam“, dan dari kata “spirare” yang berarti “roh” atau “spirit“. Inspirare yang menjadi dasar dari kata “inspiration“.

Kita, manusia, adalah “imago dei” diciptakan melalui inspirasi Allah; melalui inspirare Tuhan; melalui napas kehidupan-Nya yang dihembuskan ke dalam diri kita. Dengan demikian, kita menjadi manusia yang hidup oleh karena Roh Tuhan yang dihembuskan ke dalam diri kita, atau dengan kata lain, tanpa Roh Tuhan itu, tanpa napas kehidupan yang dihembuskan ke dalam diri kita, manusia hanya akan sekadar menjadi sosok atau patung manusia dan bukan menjadi manusia yang hidup.

Saya akan memvisualisasikannya kepada Saudara supaya menjadi lebih mudah dipahami.

Jika gambar ini adalah proses penciptaan manusia oleh Tuhan; Tuhan menciptakan manusia dari debu tanah, menjadi sesosok tubuh manusia. Tetapi manusia ini, belum menjadi manusia yang hidup, sampai kemudian, Tuhan sendiri, menghembuskan napas hidup-Nya, atau Roh Tuhan (Spirit of God), ke dalam manusia, sehingga kemudian manusia itu menjadi hidup.

Ini yang tadi dikatakan sebagai “in” atau di dalam dan “spirare” yaitu manusia, sebagai “imago dei” (citra Allah). Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan, melalui inspirasi atau napas kehidupan Tuhan, yang dihembuskan ke dalam manusia.

Jadi, Tuhan mendedikasikan napas hidup-Nya sendiri untuk membuat manusia menjadi hidup. Lalu, apa signifikansi dari manusia yang hidup? Apa nilai penting dari manusia yang hidup?

Pertama, Manusia yang hidup berarti manusia yang memiliki kehendak untuk mengambil keputusan dan memilih tindakannya. Orang mati, patung, atau robot tidak memiliki kemampuan seperti itu. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan kehendaknya.

Dengan demikian, status image of God tidak hanya berimplikasi membuat hidup jadi begitu berharga, tetapi juga membawa sebuah tanggung jawab. Jika kita punya pilihan atau punya kesempatan untuk mengambil keputusan dan mengambil tindakan sesuai dengan kehendak kita sendiri, akankah kita memilih melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak kita sendiri, atau akankah kita memilih melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan karena kita terinspirasi oleh Roh Tuhan dalam kehidupan kita?

Manusia yang hidup memiliki kehendak untuk mengambil keputusan dan bertindak, serta mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakannya di hadapan Tuhan.

Kedua, Implikasi berikutnya, sebagai image of God, manusia diberi hak istimewa berupa akses ke hadirat Tuhan untuk memiliki hubungan yang dekat dengan-Nya, memperoleh hikmat Ilahi untuk mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan, mengambil keputusan dan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan bukan kehendaknya sendiri.

Itulah mengapa, saat manusia jatuh ke dalam dosa dan tidak ada seorang pun yang sanggup mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakannya yang berlawanan serta bertentangan dengan kehendak Tuhan, maka akses tersebut menjadi terhambat bahkan terputus.

Diperlukan Firman Tuhan sendiri untuk menjadi manusia, yang kemudian kita kenal sebagai Yesus, untuk memulihkannya. Saat manusia mengakui dengan mulutnya dan menerima dengan hatinya, bahwa Yesus adalah satu-satunya Juru Selamat, maka akses yang terhambat atau terputus tersebut, menjadi pulih atau tersambung kembali.

Nah, ketika akses tersebut pulih, kita dapat kembali melihat dengan jelas bahwa sebagai ciptaan dengan citra Allah kita memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab untuk apa? Untuk hidup dengan lebih baik? Ya, betul, karena kehidupan kita begitu berharga. Tetapi seperti pertanyaan saya kepada Petra, apa definisi ”hidup dengan lebih baik”? Yaitu mengambil keputusan dan tindakan yang selaras dengan kehendak Tuhan, walaupun kita punya kesempatan atau pilihan, untuk mengambil keputusan atau bertindak sesuai dengan kehendak kita sendiri.

Inilah artinya menjadi citra Allah yang mengikut Kristus, imago dei, yang mengikut Kristus—yaitu kita hidup mengikuti kehendak-Nya, bukan kehendak diri sendiri.

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan? Atau dengan kata lain, apa yang menjadi tolok ukur dari hidup yang selaras dengan kehendak Tuhan?

Supporting Verse – Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan― kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya― supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam Dia kamu juga― karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu― di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. Efesus 1:11-14 (TB)

In Him, in Christ alone, hanya di dalam Dialah kita bisa mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang selaras dengan kehendak-Nya; Tuhan yang dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan dan kehendak-Nya. Hidup di dalam Tuhan sehingga dapat mengerti kehendak-Nya; inilah yang digambarkan melalui kata “devoted” (setia), yang akar katanya dalam Bahasa Yunani adalah “proskartereo” yang berarti properly, to consistently showing strength which prevails in spite of difficulties; to endure and remain firm, staying in a fixed direction.

Devoted adalah kesetiaan, loyalitas sebagai orang percaya kepada Tuhan yang mengambil keputusan dan tindakan untuk secara konsisten menunjukkan kekuatan di dalam kesulitan, untuk bertahan dengan teguh dan berada di arah yang tetap.

In Him, in Christ alone hanya di dalam Dialah, kita bisa mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang selaras dengan kehendak-Nya. Inilah gambaran hidup orang percaya; murid Kristus yang mengakar kuat di dalam Tuhan.

Seperti halnya bangunan; seberapa tinggi dan besar sebuah bangunan dapat dibangun, ditentukan oleh seberapa dalam dan kuat fondasinya di dalam tanah. Demikian juga kehidupan kita; seberapa tinggi, besar dan luasnya kehidupan kita akan dibangun, bergantung pada seberapa kuat dan dalam fondasi kita di dalam Kristus.

Supporting Verse – Maka kata Yesus sekali lagi “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Yohanes 10:7-13 (TB)

Pintu adalah simbol dari sebuah akses. Jika pintu itu tertutup, maka akses pun tertutup. Sebaliknya, jika pintu itu terbuka, maka akses pun terbuka. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pintu yang terbuka, untuk kita sebagai domba-domba-Nya dapat kembali memiliki akses kepada Tuhan. Setelah Dia menyatakan diri-Nya sebagai “pintu”, Dia berkata bahwa Dia adalah gembala yang baik. Gembala yang baik berbeda dengan orang upahan atau gembala upahan. Gembala yang baik punya rasa memiliki terhadap domba-dombanya. Gembala yang baik memiliki dedikasi untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkan domba-dombanya; dan Tuhan kita, Yesus, adalah gembala yang baik.

Dia bukan gembala upahan. Dia yang menjaga dan merawat kita. Saat kita memasuki pintu tersebut, tadi dikatakan, kita akan menemukan padang rumput. Padang rumput adalah gambaran kehidupan yang bukan sekadar hidup, tapi hidup yang berkelimpahan, atau kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan bagi kita―yang di Efesus 1:11 tadi dikatakan sebagai “menerima bagian yang dijanjikan”, bagian hidup yang berkelimpahan itu, bagian yang dijanjikan Tuhan, sesuai dengan kehendak-Nya.

Hidup berkelimpahan terjadi jika kehidupan kita selaras dengan kehendak-Nya, melalui hikmat Ilahi yang datang dalam pengambilan keputusan dan pemilihan tindakan kita. Tetapi, untuk menemukan padang rumput tersebut, kita harus setia; hidup dalam kesetiaan, loyal, mengakar kuat di dalam Tuhan. Devoted to Jesus. Setia Kepada Yesus.

Jadi, proses untuk menjadi “devoted”, adalah masuk melalui pintu— atau akses yang terbuka itu—lalu hidup setia, loyal, mengakar di dalam Tuhan, sehingga kita bisa mendapatkan hikmat ilahi—hikmat yang datang dari Tuhan sendiri—untuk menolong kita mengerti bagaimana cara membangun kehidupan dan kehendak yang selaras dengan kehendak Tuhan, supaya pada akhirnya, kita memiliki kehidupan yang tidak sekadar hidup, melainkan hidup yang bekelimpahan.

Saya berharap, Saudara bisa mengerti apa yang disampaikan. Untuk mengaplikasikan apa yang telah kita pelajari, saya akan membagikan tiga langkah yang dapat Saudara lakukan untuk mengawali tahun baru ini.

Yang pertama adalah “Revisit” (Tinjau Ulang).

Tinjau ulang dan perhatikan kembali bagaimana cara Saudara mengambil keputusan dan tindakan; apakah berdasar hikmat sendiri atau berdasar hikmat Tuhan? Evaluasi proses dan hasilnya. Jika Saudara merasa menutup tahun lalu tidak dengan luar biasa, mari bersama-sama kita tinjau ulang, apakah kita sudah melandaskan setiap keputusan kita kepada hikmat Tuhan atau kepada hikmat dan kehendak manusia.

Langkah yang kedua, “Recalibrate” (Kalibrasi Ulang).

Kalibrasi ulang atau sesuaikan kembali hikmat yang selama ini kita jadikan acuan dalam mengambil keputusan dan menetapkan kehendak kita, dengan kehendak Tuhan melalui devotion life Saudara; melalui kehidupan intim Saudara bersama Tuhan.

Tinggalkan cara berpikir yang salah di tahun lalu dan mulailah membangun cara berpikir yang baru yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Yang ketiga, “Reorient” (Arahkan Ulang).

Saat Saudara menemukan arah yang salah dalam aspek kehidupan Saudara, jangan dibiarkan saja. Segera mulai arahkan ulang hidup Saudara sesuai firman Tuhan yang Saudara baca dan renungkan setiap hari. Jadi, mari memulai tahun baru ini dengan kuat sebagai pengikut atau murid Kristus, yaitu mengikuti Dia dengan pemahaman rohani yang benar melalui keputusan untuk menggunakan akses yang Tuhan berikan secara bertanggung jawab, hidup setia, loyal mengakar di dalam Dia, dan—ini penting, Saudara—jangan memanfaatkan akses kepada Tuhan untuk memenuhi kehendak kita sendiri, tetapi sebaliknya, manfaatkan akses tersebut untuk menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya, sehingga pada akhirnya, kita bisa mengalami hidup yang berkelimpahan di dalam Dia. Amin.

Mari mulai tahun baru, dengan kuat! Tuhan Yesus memberkati. Saya berharap apa yang disampaikan hari ini, tidak Saudara terima sebagai informasi atau pengetahuan saja, tetapi menjadi langkah-langkah transformasi yang akan Saudara terapkan, sehingga Saudara bisa mengalami perjalanan yang lebih menakjubkan bersama dengan Tuhan, karena Saudara setia, karena Saudara hidup di dalam Kristus, di dalam Dia. Setia, loyal, mengakar kuat di dalam Dia.

P.S : Aside than my daily working hours activities, I also have passion and interest in writing article for both traditional and modern media. My experience varies from content creation, creative writing for established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web,mobile, and tablet), social media, marketing materials and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links

If your organization need a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Feel free to contact me, and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!