Rest In Suffering By Ps. Alvi Radjagukguk

JPCC Online Service (18 April 2021)

Kita hidup dalam dunia yang serba cepat. Perkembangan teknologi dan perubahan zaman terjadi semakin cepat dan semakin cepat. Terlalu banyak kebisingan visual dan mental di sana-sini yang secara sadar atau tidak, dapat membuat manusia menginginkan hal-hal yang “lebih ini” atau “lebih itu”. Lebih cepat sehingga semua yang lambat itu diartikan negatif.

Mulai dari jaringan internet sampai kepada pemuasan keinginan, maunya instant dan bukan delayed gratification. “Proses” dinilai kurang asik sehingga kesetiaan, kegigihan, dan konsistensi menjadi sangat berharga hari-hari ini. Kita bisa terkondisi untuk mencari yang lebih “kekinian”,
karena takut kalau kudet alias “kurang update” akan dianggap kurang keren. Kita ingin mencari yang lebih estetis, makanya yang ditaruh di post, jangan sampai merusak keseluruhan tampilan (media sosial).

Kita juga terkondisi mencari yang lebih menghibur sehingga semua yang dinilai membosankan, kurang diberi perhatian. Media sosial pun “melatih” kita untuk terlalu cepat menyimpulkan.
Tidak ada yang salah dengan media sosial, asalkan kita punya tujuan dan saringan yang benar.

Opening  Verse – Segala sesuatu diperbolehkan bagiku, tetapi tidak semuanya berguna. Segala sesuatu diperbolehkan bagiku, tetapi aku tidak akan membiarkannya menguasai aku. 1 Korintus 6:12 (AMD)

Salah satu studi menunjukkan hubungan antara peningkatan penggunaan media sosial dan kenaikan tingkat depresi, kekhawatiran, kesepian dan gangguan mengemudi, serta turunnya tingkat kepuasan hidup dan produktivitas. Melihat media sosial juga meningkatkan perasaan mudah tersinggung, cemas, dan tidak berdaya.

Selain itu, dorongan untuk terus “selalu tahu”, malah berkontribusi pada siklus penggunaan media sosial yang tidak sehat. Semakin banyak waktu yang dihabiskan seseorang di media sosial,
semakin besar kemungkinan mereka merasa bahwa mereka melewatkan sesuatu, yang kita kenal dengan istilah “FOMO” (Fear Of Missing Out-takut ketinggalan), yang kemudian akan dicoba ditanggulangi dengan aktivitas media sosial yang lebih banyak.

Skor FOMO yang lebih tinggi membuat orang merasa tidak kompeten dan menurunkan ketersambungannya dengan orang lain secara signifikan. Ada sebuah kondisi yang dikenal dengan istilah “anhedonia” yaitu kesulitan untuk mengalami kesenangan, yang adalah salah satu aspek kunci dari depresi. Studi lain menyimpulkan bahwa anhedonia terkait langsung dengan penggunaan internet secara kompulsif atau berlebihan, kecanduan aktivitas daring— termasuk online shopping— dan kecanduan video game online.

Ternyata, setiap kali kita mendapat notifikasi media sosial, otak kita merilis “dopamin”, yaitu hormon yang diproduksi otak saat kita merasa senang atau mendapat reward, yang memotivasi kita untuk mengulang perilaku tertentu. Tidak heran ketika kita dihadapkan dengan hal-hal yang rumit, merepotkan dan mengusik kenyamanan, yang pada intinya tidak merilis hormon dopamin— the feel good hormone— kita dengan mudah melabelnya sebagai kesusahan.

Lalu, bagaimana dengan penderitaan? Berbicara tentang penderitaan, Yesus pernah berkata
bahwa penderitaan adalah sebuah kepastian di dunia ini, termasuk dalam perjalanan kita mengikuti Kristus.

Supporting Verse – katakan, Di dalam dunia ini kalian akan mengalami banyak penderitaan dan kesusahan; tetapi bergembiralah, karena Aku telah mengalahkan dunia ini. Yohanes 16:33b (FAYH)

Yesus melihat sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih kekal melampaui penderitaan dan kesusahan yang setiap pengikut-Nya akan alami, yaitu kemenangan atau ketahanan (resilience)
untuk meraih kemenangan tersebut. 

Itu sebabnya, kata “bergembiralah” —atau “tharseo”— memiliki pengertian: tenanglah, kuatkan hatimu, teguhkanlah hatimu, percayalah dan bergembiralah. Sesuatu yang sangat kontra-intuitif
waktu kita sedang melewati masalah dan penderitaan, bukan?

Reaksi alami kita itu tentunya lebih mudah untuk menjadi panik, takut, kecewa, tawar hati, merasa sebagai korban, atau marah kepada keadaan, orang lain dan bahkan Tuhan. Kita bisa mendapatkan ketenangan, kekuatan, keteguhan hati, kepercayaan dan sukacita dalam penderitaan, waktu kita mengubah fokus dari kesusahan dan penderitaan tersebut,
kepada Tuhan yang sudah mengalahkan dunia.

Supporting Verse – Serahkanlah segala kekhawatiran dan kesusahan Saudara kepada-Nya, karena Ia selalu memikirkan Saudara serta mengawasi segala sesuatu yang berkenaan dengan Saudara. 1 Petrus 5:7 (FAYH)

Saat seseorang hampir tenggelam, sangatlah sulit untuk menolongnya jika ia masih bergumul dengan seluruh kekuatannya, bukan? Yesus memberikan sebuah kepastian dengan mengajak setiap kita.

Supporting Verse – “Datanglah kepada-Ku, setiap kalian yang sudah lelah menanggung kesusahan-kesusahan yang berat, karena Aku akan menolongmu mengatasi setiap kesusahanmu itu dan kamu akan merasa lega. Tunduk dan bergantunglah pada-Ku. Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, maka kamu pun akan merasa lega. Karena kalau tunduk dan bergantung pada-Ku, bebanmu yang berat menjadi ringan, dan beban yang Ku-berikan pun ringan.” Matius 11:28-30 TSI 

Terjemahan bahasa Inggris mengatakan, “I will give you rest.” Sebuah janji yang luar biasa bukan? Tuhan sangat ingin agar kita menemukan “REST”— istirahat atau kelegaan— ketika mengalami penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi. Izinkan saya menggunakan akronim REST, R-E-S-T ini, untuk menjelaskan empat hal yang perlu kita lakukan, supaya kita menerima kelegaan dalam penderitaan.

Yang pertama adalah, “R”: RUN to God’s Presence, berlari ke hadirat Tuhan. Dalam setiap penderitaan yang kita alami, berlarilah kepada-Nya, bukan daripada-Nya. Si jahat ingin kita berpikir bahwa penderitaan adalah sebuah hukuman. Dia ingin kita berpikir,
”Kalau Tuhan betul-betul sayang, mengapa kamu perlu menderita?” Kebenarannya adalah, Tuhan memakai penderitaan untuk memperkuat iman dan pengharapan kita.


Roma 5:3-4 (FAYH) berkata demikian,
[3] Demikian juga kita dapat bersukacita,
[3] pada waktu kita mengalami kesulitan dan cobaan,
[3] sebab kita tahu hal itu baik bagi kita
[3] karena menolong kita belajar bersabar.
[4] Dan kesabaran menghasilkan suatu watak yang kuat dalam diri kita
[4] serta menolong kita supaya senantiasa lebih mempercayai Allah
[4] setiap kali kita bersabar,
[4] sampai akhirnya pengharapan dan iman kita
[4] menjadi kuat dan teguh.
Mazmur 139:1-12 (BIMK) menulis dengan begitu indah
tentang kehadiran Tuhan:
[1] Ya TUHAN, Engkau menyelami aku dan mengenal aku.
[2] Engkau tahu segala perbuatanku;
[2] dari jauh Engkau mengerti pikiranku.
[3] Engkau melihat aku, baik aku bekerja atau beristirahat,
[3] Engkau tahu segala yang kuperbuat.
[4] Bahkan sebelum aku berbicara,
[4] Engkau tahu apa yang hendak kukatakan.
[5] Engkau mengelilingi aku dari segala penjuru,
[5] dan Kaulindungi aku dengan kuasa-Mu.
[6] Terlalu dalam bagiku pengetahuan-Mu itu,
[6] tidak terjangkau oleh pikiranku.
[7] Ke mana aku dapat pergi agar luput dari kuasa-Mu?
[7] Ke mana aku dapat lari menjauh dari hadapan-Mu?
[8] Jika aku naik ke langit, Engkau ada di sana,
[8] jika aku tidur di alam maut, di situ pun Engkau ada.
[9] Jika aku terbang lewat ufuk timur
[9] atau berdiam di ujung barat yang paling jauh,
[10] di sana pun Engkau menolong aku;
[10] di sana juga tangan-Mu membimbing aku.
[11] Jika aku minta supaya gelap menyelubungi aku,
[11] dan terang di sekelilingku menjadi malam,
[12] maka kegelapan itu pun tidak gelap bagi-Mu;
[12] malam itu terang seperti siang,
[12] dan gelap itu seperti terang.
Hadirat Tuhan akan menyingkapkan
kemanusiawian kita dan kebesaran Tuhan.
Hadirat Tuhan mengkondisikan kita untuk menjadi sadar akan karakter Tuhan
melampaui kesadaran akan besarnya masalah atau terbatasnya diri kita.
God-conscious beyond self-conscious. (Sadar akan Tuhan melampaui sadar diri)
Itu sebabnya setiap kali kita menaikkan pujian kepada Tuhan
dengan tulus, dalam hadirat Tuhan,
ada sesuatu yang ilahi yang terjadi pada manusia batiniah kita.
Pastor Sidney Mohede mengajarkan beberapa minggu lalu,
bahwa “Persepsi kita berubah
ketika kita memandang Yesus dalam pengagungan dan penyembahan.”
Ada kelegaan dalam hadirat Tuhan.
Itu sebabnya kita perlu selalu berlari ke hadirat Tuhan
dan bukan menjauh dari-Nya, khususnya di dalam penderitaan.
Yang kedua,
untuk mengalami kelegaan dalam penderitaan, kita perlu
“E”: EXPERIENCE God’s love and peace,
alami kasih dan damai Tuhan.
Semakin kita berusaha
untuk menjalani penderitaan dengan kekuatan sendiri,
semakin sulit untuk kita mengalami kasih dan damai Tuhan
yang melampaui segala akal.
Justru di dalam penderitaanlah
biasanya kita merasakan kasih dan damai Tuhan bekerja dengan sangat kuat
yang menghasilkan ketenangan dan kelegaan bagi kita.
C. S. Lewis menuliskannya dalam sebuah paradoks yang sangat baik:
God whispers to us in our pleasures,
speaks in our conscience,
but shouts in our pains:
it is His megaphone to rouse a deaf world.
Tuhan berbisik pada kita dalam kesenangan kita,
berbicara melalui hati nurani kita,
tapi Dia berseru dalam kesakitan kita:
itu adalah pengeras suara-Nya untuk membangkitkan dunia yang tuli.
Izinkan saya mengulangi surat Rasul Paulus tadi kepada jemaat di Roma,
yaitu dari Roma 5:3-5 (FAYH):
[3] Demikian juga kita dapat bersukacita,
[3] pada waktu kita mengalami kesulitan dan cobaan,
[3] sebab kita tahu hal itu baik bagi kita
[3] karena menolong kita belajar bersabar.
[4] Dan kesabaran menghasilkan suatu watak yang kuat dalam diri kita
[4] serta menolong kita supaya senantiasa lebih mempercayai Allah
[4] setiap kali kita bersabar,
[4] sampai akhirnya pengharapan dan iman kita menjadi kuat dan teguh.
Lalu ia melanjutkan di ayat yang kelima,
[5] Kalau sudah begitu,
[5] apa pun yang terjadi, kita dapat hidup dengan tabah,
[5] karena kita tahu bahwa segalanya baik.
[5] Kita menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita,
[5] dan kasih ini kita rasakan dalam segenap diri kita,
[5] karena Allah telah memberikan Roh Kudus
[5] untuk memenuhi hati kita dengan kasih-Nya.
Selain dengan kasih,
Tuhan juga ingin memenuhi hati kita dengan—
memenuhi hati dan pikiran kita dengan damai sejahtera
yang melampaui segala akal manusia.
Filipi 4:6-7 (TSI) berkata,
[6] Janganlah kuatir tentang apa pun,
[6] tetapi berdoalah untuk segala sesuatu.
[6] Sampaikanlah permohonanmu kepada Allah dalam doa
[6] dan jangan lupa bersyukur.
[7] Dengan demikian, ketenangan dalam perlindungan Allah
[7] yang kita terima karena bersatu dengan Kristus Yesus
[7] akan menjadi seperti pengawal,
[7] yang akan selalu menjaga hati dan pikiranmu.
[7] Ketenangan— terjemahan lain katakan “damai sejahtera”—
[7] yang diberikan Allah itu melebihi segala pengertian manusia!
Biasanya, kita akan lebih sering atau lebih sungguh-sungguh berdoa
dan berseru kepada Tuhan waktu sedang mengalami penderitaan.
Doa kita menjadi begitu personal, karena kita ingin mengalami kasih Tuhan
dan damai Tuhan, dengan cara yang personal pula.
Dalam mazmur Daud tentang “Tuhan, Gembalaku Yang Baik”,
sebutan Daud kepada Tuhan menjadi lebih personal,
dari “Ia” di padang rumput yang hijau menjadi “Engkau” di lembah kekelaman.
Sama seperti doa Rasul Paulus kepada saudara-saudaranya di Efesus,
inilah doa saya, bagi setiap Saudara yang menerima pesan Tuhan hari ini.
Efesus 3:16-19 (TB),
[16] Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya,
[16] menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
[17] sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu
[17] dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
[18] Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus
[18] dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya
[18] dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus
[19] dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.
Tuhan memakai penderitaan supaya kita berhenti
mengandalkan pengetahuan dan pengertian kita sendiri,
sehingga penderitaan menjadi momen berharga
untuk kita mengenal dan menerima ketenangan, damai dan kasih
yang hanya Tuhan bisa berikan,
dalam dimensi yang belum pernah kita alami sebelumnya.
Penderitaan mungkin masih terjadi,
namun damai dan kasih Tuhan yang kita alami menjadi bagian terbaik yang kita terima.
Narasi dalam doa kita pun berubah,
dari yang mungkin awalnya, ”Kapan, Tuhan?”
atau, “Mengapa, Tuhan?”
menjadi “Kasih-Mu, Tuhan. Damai-Mu, Tuhan. Itu cukup buat aku.”
Yang ketiga,
untuk mengalami kelegaan dalam penderitaan kita perlu
“S”: SUBMIT to God’s leading,
tunduk pada pimpinan Tuhan.
Dalam Injil Matius 11:28-30 (TB), Tuhan berkata,
[28] Marilah kepada-Ku,
[28] semua yang letih lesu dan berbeban berat,
[28] Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
[29] Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
[29] karena Aku lemah lembut dan rendah hati
[29] dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
[30] Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
Waktu kita datang kepada Tuhan, kita berharap
Dia akan menyingkirkan kuk itu.
Karena jika kita sudah letih, lesu, dan berbeban berat,
hal terakhir yang ingin kita dengar adalah untuk memikul kuk yang lainnya, bukan?
Kuk adalah kayu lengkung
yang biasanya dipasang di bagian tengkuk dua ekor lembu atau kerbau
untuk menarik bajak.
Versi bahasa Inggris dari ayat ini
menjelaskan dengan begitu indah dan kontekstual.
Dikatakan demikian,
“Are you tired?
Worn out?
Burned out on religion?
Come to me.
Get away with me and you’ll recover your life.
I’ll show you how to take a real rest.
Walk with me and work with me, watch how I do it.
Learn the unforced rhythms of grace.
I won’t lay anything heavy or ill-fitting on you.
Keep company with me and you’ll learn to live freely and lightly.”
“Apakah kamu lelah?
Habis tenaga?
Capek dengan agama?
Datang kepada-Ku,”— kata Tuhan.
“Pergi bersama-Ku dan hidupmu akan pulih.
Aku akan tunjukkan cara untuk benar-benar beristirahat.
Berjalanlah dengan-Ku,
bekerjasamalah dengan-Ku,
lihat bagaimana Aku melakukannya.
Pelajari ritme kasih karunia yang tidak akan Aku paksakan.
Aku tidak akan memasangkan sesuatu yang berat atau tidak sesuai kapasitasmu.
Tetaplah bersama-Ku, maka kamu akan belajar untuk hidup dengan lepas dan ringan.”
Wow.
Tuhan mau kita beralih,
dari kuk yang kita atau orang lain pasangkan kepada kita,
beralih kepada kuk yang Tuhan sendiri pasang,
dengan dua tujuan:
Yang pertama, yaitu supaya kita bisa mengikuti pimpinan atau tuntunan Tuhan.
Yang kedua, adalah supaya Tuhan bisa memikul kuk itu bersama dengan kita,
sehingga kuk itu pun terasa ringan.
Saya jadi teringat ayat dasar tentang tema JPCC tahun ini, “FOLLOW”,
atau mengikut Kristus, yang senada dengan ayat tadi.
Lukas 9:23 (MSG) katakan,
Anyone who intends to come with me
has to let Me lead.
You’re not in the driver’s seat, I am.
Don’t run from suffering; embrace it.
Follow Me and I’ll show you how.
“Setiap orang yang ingin ikut dengan Aku
harus membiarkan Aku memimpin.
Bukan engkau yang memegang kemudi, Aku,”— kata Tuhan.
“Jangan lari dari penderitaan, rangkul itu.
Ikuti Aku dan Aku akan tunjukkan caranya.”
Maka Yesus menambahkan,
“Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati
dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Saudara, berhentilah untuk menjadi sombong
dan mengeraskan hati Saudara,
maka jiwa Saudara akan menikmati kedamaian Tuhan.
Yang terakhir, yang keempat—
terima kasih kalau Saudara masih mencatat sampai sekarang—
untuk mengalami kelegaan dalam penderitaan kita perlu
“T”: TRUST God’s heart,
percaya hati Tuhan.
Sangat manusiawi jika dalam penderitaannya,
manusia mempertanyakan rencana dan jalan Tuhan.
Namun Tuhan tidak terintimidasi dengan semua keragu-raguan kita.
Adalah sebuah usaha yang sia-sia untuk mengerti cara Tuhan,
mengerti cara Dia bekerja,
karena kita adalah manusia dan hanya Tuhan yang adalah Tuhan.
Usaha untuk mengerti Tuhan sebenarnya
adalah usaha untuk memegang kendali atas hidup kita sendiri.
Dan bila kita bisa mengerti setiap rancangan Tuhan,
tentunya tidak perlu iman, bukan?
Charles Spurgeon pernah berkata demikian dalam salah satu khotbahnya:
“Orang duniawi memberkati Tuhan ketika mengalami kelimpahan,
tetapi orang Kristen memberkati Tuhan ketika mengalami penderitaan.
Mereka percaya, Tuhan terlalu bijak untuk melakukan kesalahan
dan Tuhan terlalu baik untuk menjadi jahat.
Mereka mempercayai hati Tuhan ketika tidak bisa melacak-Nya,
memandang-Nya di saat-saat paling kelam,
dan percaya bahwa semua itu baik adanya.”
Itu sebabnya menurut saya,
pendekatan yang lebih tepat dalam penderitaan kita adalah
untuk mengenali hati Tuhan,
dan bukan mengerti rancangan atau jalan Tuhan.
Dan kita belajar mengenali hati-Nya melalui perkataan-Nya.
Yeremia 15:16 (TB) katakan demikian,
[16] Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu—
perhatikan, jamak di sini—
[16] maka aku menikmatinya—
terjemahan aslinya “memakannya”—
[16] firman-Mu— tunggal, tadi jamak—
[16] firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku,
[16] dan menjadi kesukaan hatiku,
[16] sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.
Sepertinya nabi Yeremia ingin memberitahu bahwa,
kuantitas ikut menentukan kualitas.
Semakin sering kita membaca, memakan
dan menikmati perkataan-perkataan Tuhan yang tertulis atau “Logos”,
maka kita akan semakin peka dalam menangkap pesan Tuhan atau “Rhema”,
yang berbicara dengan spesifik dalam berbagai momen kehidupan kita.
Karena dalam penderitaan,
perkataan siapa yang kita dengar akan sangat menentukan respons kita.
Itulah pentingnya sebuah disiplin untuk memasukkan dan memakan firman Tuhan,
agar kita semakin mengenal dan mempercayai hati Tuhan.
Seperti di kitab Roma,
hati Tuhan hanya bisa mendatangkan kebaikan
bagi mereka yang mengasihi Tuhan dan mau mengikuti rencana Tuhan.
Nah, Saudara, izinkan saya menutup pesan Tuhan hari ini
dengan berdoa bagi Saudara.
Terutama jika Saudara membutuhkan rest, kelegaan,
yang hanya Tuhan bisa berikan dalam penderitaan Saudara.
Saudara boleh memejamkan mata Saudara kalau Saudara nyaman.
Saudara boleh membuka kedua tangan Saudara,
sebagai ekspresi Saudara sedang menerima sesuatu dari Tuhan.