The Place We Learn By Ps. Sidney Mohede

JPCC Kota Kasablanka Service 1 (12 Agustus 2018)

Bulan ini kita berbicara tentang Family, sebuah tema yang bagi saya sangat luar biasa tetapi juga cukup sulit untuk dirangkum menjadi sebuah pesan kotbah hari ini. Family is an amazing thing.

Call it a clan, call it a network, call it a tribe, call it a Family. Whatever you call it, whoever you are, you need one – Jane Howard

Kita diciptakan sebagai manusia tidak bisa hidup seorang diri dan tidak berkomunitas, itu sebabnya Tuhan memberikan kita sebuah unit di dunia ini, yang bernama Keluarga. Keluarga tidak selalu tentang hubungan darah.

Mereka adalah orang-orang dalam hidupmu yang menginginkanmu di dalam hidup mereka. Orang-orang yang mau menerimamu sebagai dirimu sendiri dan mencintaimu apa adanya. Itu sebabnya di dalam gereja ini, kita sebut sebagai satu keluarga. Setiap dari kita pasti lahir dari sebuah keluarga.

Sharing Ps. Sidney – Saya datang dari keluarga yang dibilang Broken Family, saya lahir di tahun 1970an, dan semasa awal 1980an, orang tua saya bercerai. Saya tumbuh besar tanpa figur seorang ayah di rumah saya. Beberapa dekade setelahnya, saya menikah dengan seorang wanita yang luar biasa dan mempunyai 3 orang anak.

Seseorang yang lahir dari a broken home dan tidak punya seorang figur ayah, dan tiba-tiba saya menemukan saya di dalam posisi ini. Seharusnya saya menjadi satu statistik dalam dunia ini dimana saya bisa menjadi depresi, terkena adiksi narkoba karena masa lalu saya. Saya sempat masuk dalam beberapa kategori statistik tersebut, tetapi bersama dengan Yesus tidak ada yang mustahil.

Saya ingat disaat kelahiran anak pertama saya yang bernama Ethan, saya berjanji kepada diri saya sendiri dan mereka, saya bisa gagal sebagai seorang pemusik dan bahkan pendeta, tetapi satu hal yang saya tidak bisa gagal, itu adalah bahwa saya tidak bisa gagal menjadi seorang suami dan ayah yang baik bagi keluarga saya.

Di dalam generasi sekarang, yang namanya pernikahan dan nilai keluarga mengalami penurunan. Saya ingat disaat orang tua saya bercerai di tahun 1980an, di seluruh sekolah saya, hanya saya yang punya orang tua mengalami perceraian. Tetapi saat ini, rasio-nya 1:2 pernikahan mengalami perceraian, sebuah penurunan yang sangat luar biasa.

Opening Verse – Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.” Nehemia 4:14 TB

Fight for your family, in everything you do, jangan pernah takut dengan apa yang dunia katakan dan ubahkan tentang keluarga kita.

Salah satu hal terbesar dalam hidup yang harus kita perjuangkan adalah keluarga kita. Dunia saat ini mempunyai nilai keluarga yang salah, begitu banyak pasangan yang saya ketemui mempunyai issue emosional yang berasal dari keluarga masing-masing.

Saya sendiri tumbuh besar dari keluarga yang tidak sempurna, Ibu saya memutuskan untuk pindah bersama anak-anaknya ke Amerika Serikat, saya tidak mempunyai masa muda yang baik disana. Tetapi sebagai gereja, sangat penting bagi kita untuk belajar dan mengajari keluarga kita. Karena itu judul kotbah saya hari ini adalah “The Place We Learn”, Family is the place we learn.

My greatest contribution may not be something I do but someone I raise – Andy Stanley

Kontribusi terbesar saya mungkin bukanlah apa yang saya kerjakan namun seseorang yang saya besarkan. Itu adalah tanggung jawab saya yang terbesar, membesarkan anak-anak, komunitas dan tim yang Tuhan percayakan dalam hidup saya. Dalam hidup, peran yang unik dan hanya kita yang bisa lakukan hanyalah ini. Saya tidak bisa titipkan peran saya sebagai ayah kepada orang lain.

Saya bisa titipkan peran saya sebagai seorang pendeta dan penulis lagu kepada generasi berikutnya tetapi saya tidak menitipkan peran saya sebagai seorang suami dan ayah kepada orang lain, itu adalah tanggung jawab kita. Baik di dalam keluarga, gereja, komunitas dan kantor kita.

Hari ini saya akan mengajarkan 4 hal bagaimana keluarga bisa mengajar sesuatu kepada kita semua :

1. Family is the place we learn to Have Fun

Begitu banyak keluarga di jaman sekarang yang terlihat “membosankan” karena antara orang tua dan anak jarang berbicara satu sama lain.

Supporting Verse – “Kesimpulanku ialah bahwa orang harus bergembira. Karena dalam hidupnya di dunia tak ada kesenangan lain baginya kecuali makan, minum dan bersukaria. Itu saja yang dapat dinikmati di tengah jerih payahnya, selama hidup yang diberikan Allah kepadanya.” Pengkhotbah‬ ‭8:15‬ ‭BIMK‬‬

Family learn to have fun. Anak saya yang paling kecil bernama Charis sangat suka untuk membuat jokes. Dia baru berumur 5 tahun tetapi setiap malam dia sering menciptakan jokes dan menceritakan itu kepada saya.

Salah satu “jokes” favorit-nya adalah “Mengapa Elsa dari film Frozen tidak punya balon?”, “Karena dia akan 🎵Let it goo.. Let it gooo🎵”

2. Family is the place we learn about Growing

Keluarga adalah tempat dimana kita belajar untuk bertumbuh bersama. Dari masih usia bayi sampai SMP kelas 2, saya dan anak saya belajar untuk bertumbuh bersama, salah satunya meliputi :

What to do with Feelings and Emotions, dari usia anak yang masih kecil, saya harus belajar bagaimana meresponi emosi mereka disaat sedang lapar atau kecewa.

How to Handle Conflicts, atau pertikaian dan ketidaksepakatan yang akan kita alami pertama kali di dalam keluarga, dan selanjutnya di dalam komunitas dan tempat kerja. Ada dua tipe manusia yang mempunyai cara menghadapi konflik.

Yang pertama adalah berupa Sigung atau Skunk, Binatang yang akan mengeluarkan bau busuk disaat dia marah atau diganggu. Orang yang seperti ini akan membuat semua orang tahu disaat dia sedang marah

Yang kedua adalah berupa Kura-kura atau Turtle, pada saat mereka menghadapi masalah dan sedang berargumen, mereka akan memasuki “kepala” mereka ke dalam rumah-nya.

Lucunya, disaat saya memberikan counseling pernikahan, saya temukan bahwa kebanyakan orang bertipe “sigung” selalu berpasangan dengan orang bertipe “kura-kura”. Mereka selalu mencari satu sama lain, dan ini yang akan menjadi tension dalam pernikahan.

How to Handle Loss, Bagaimana kita bisa mengatasi kehilangan dan kekalahan. Salah satu hal tersulit sebagai orang tua adalah bagaimana mengajar anak saya yang terkecil disaat dia mengalami suatu kekalahan, atau pada saat dia kehilangan mainan dan binatang kesayangan-nya.

We learn about growing in Resilience, atau tidak mudah putus asa. Belajar untuk tidak mudah putus asa dalam dunia ini.

Supporting Verse – “Sebab, sekalipun orang jujur jatuh berkali-kali, selalu ia akan bangun kembali. Tetapi sebaliknya, orang jahat akan hancur lebur oleh malapetaka.” Amsal‬ ‭24:16‬ ‭BIMK‬‬

Sewaktu saya melihat anak saya bertanding basket, atau mereka sedang melakukan recital piano, kami sekeluarga selalu mendukung mereka agar tidak menyerah.

We learn about growing Good Habits, kita juga akan belajar untuk menumbuhkan kebiasaan yang baik.

We learn what values matter most, Kita juga akan belajar mengenai nilai-nilai apa yang terpenting dalam hidup kita. Dunia yang kita hidupi sekarang selalu mencoba mengubah nilai-nilai dan prinsip kerajaan Allah setiap menitnya, baik dalam semua yang kita baca dan tonton.

Tetapi dalam keluarga-lah dimana kita bisa saling belajar dan mengajarkan nilai-nilai yang terpenting dalam hidup kita untuk bisa bertumbuh bersama.

Dunia tidak akan mengajarkan kita untuk menjadi generous dan memberi, tetapi dalam keluarga kita bisa mengajarkan itu.

Sharing Ps. Sidney – Saya ingat beberapa tahun yang lalu Ethan mendapatkan Angpao disaat sedang Chinese New Year. Disaat kami sedang mengunjungi salah satu mall dan mau membayar parkir. Ethan tiba-tiba berkata kepada saya, “Dad, saya ingin membayar parkir”.

Saya bangga karena dia belajar mengenai generous, karena dia melihat saya dan istri juga melakukan hal ini dalam kehidupan kami.

Saya tanyakan kepada anak-anak di keluarga kami, apa yang mereka pelajari di keluarga ini? Ada yang belajar tentang selflessness, patience atau kesabaran, self control atau penguasaan diri terutama bagi keluarga kami yang suka makan, dan ada juga yang berkata bahwa mereka belajar untuk “How to Love other People”.

Karena setiap pagi saya selalu berdoa dan mengingatkan mereka untuk “Be Good and Be Kind to Others”.

Bagaimana kita bisa belajar dan mengajarkan di dalam keluarga?

A. We learn through Example, Kita belajar dengan contoh di dalam keluarga, contoh dari apa yang orang lain berikan dan lakukan.

Supporting Verse – “Kalau Aku sebagai Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, kalian wajib juga saling membasuh kaki. Aku memberi teladan ini kepada kalian, supaya kalian juga melakukan apa yang sudah Kulakukan kepadamu.” Yohanes‬ ‭13:14-15‬ ‭BIMK‬‬

Sebagai orang tua, Jangan sampai kita membuat peraturan dimana kita sendiri tidak bisa melakukan-nya. Semasa saya masih melayani sebagai Youth Pastor di Oxygen. Saya ingat ada beberapa orang tua yang datang kepada saya, dan berkata agar saya bisa menghardik dan melarang anaknya untuk merokok, sementara orang tua ini sendiri juga punya kebiasaan merokok.

Children learn more from who we are, that what we teach. Rumah kita adalah sekolah dimana anak-anak kita belajar paling banyak. Saudara dan saya adalah Buku dimana mereka belajar kebiasaan yang baik dan buruk.

Cara kita berbicara, memperlakukan orang lain, bereaksi dan meresponi segala sesuatu akan jauh berpengaruh bagi mereka dari apa yang kita ajarkan.

Supporting Verse – “Jangan sekali-kali melupakan perintah-perintah yang saya berikan kepadamu hari ini. Ajarkanlah kepada anak-anakmu. Hendaklah kamu membicarakannya di dalam rumah dan di luar rumah, waktu beristirahat dan waktu bekerja.” Ulangan‬ ‭6:6-7‬ ‭BIMK‬‬

B. We Learn through Conversations.

Ini adalah seni dimana begitu banyak orang tua dan keluarga sudah tidak melakukan hal ini. Anak-anak dan orang tua sudah sibuk dengan gadget masing-masing dan tidak ada yang mau berbicara satu sama lain.

Itu sebabnya bagi keluarga kami, kami selalu melakukan makan malam bersama, dan salah satu aktifitas favorit saya setiap harinya adalah saat dimana saya bisa berbicara dengan anak saya sebelum mereka tidur.

3. Family is the Place we learn about Taking Care of each other.

Keluarga adalah tempat dimana kita bisa saling menjaga, melindungi dan memperhatikan antara satu sama lain, secara insting, hal ini pasti ditemukan dalam sebuah keluarga.

Sharing Ps. Sidney – Anak saya yang usianya berdekatan, Ethan dan Chelsea, sering berdebat dan berantem satu dengan yang lain. Tetapi pada suatu hari, Chelsea pulang dan berkata bahwa dia dibully oleh teman di sekolahnya. Pada saat itu juga, Ethan adalah orang pertama yang langsung meresponi dan ingin membela Chelsea melawan anak yang membully dirinya.

Sewaktu Ethan sakit, saya ingat bahwa setiap ayah yang “normal” pasti langsung berdoa bahwa mereka bersedia mengganti kondisi mereka dengan anaknya, agar anaknya bisa tidak merasakan sakit. Begitu juga disaat saya sedang mengalami penyakit kambuhan saya, anak saya langsung datang dan menenangkan saya.

4. Family is the Place we learn to Love God and Loving Others.

Dalam keluarga, kita bisa belajar untuk mengasihi Tuhan dan orang di sekitar kita.

Supporting Verse – “Dan hendaklah kita saling memperhatikan, supaya kita dapat saling memberi dorongan untuk mengasihi sesama dan melakukan hal-hal yang baik.” Ibrani‬ ‭10:24‬ ‭BIMK‬‬

Bukan tugas pendeta atau pemimpin gereja, tetapi kita harus saling memperhatikan untuk mendorong satu dengan yang lain-nya, dan melalukan perbuatan yang baik. Di dalam keluarga, kita akan bisa belajar untuk melakukan hal ini.

Dari ke-empat hal ini, Semua bisa dipelajari untuk membesarkan keluarga yang sehat tetapi tanpa Tuhan dalam kehidupan kita sebagai seorang Ayah. Ibu, Suami, Istri dan Anak, semua itu tidak akan ada artinya. Pada akhirnya, hanya Yesus yang bisa mengubah kita dengan Kuasa Kasihnya.

Closing Verse – “Oleh sebab itulah saya berlutut di hadapan Bapa. Dari Dialah setiap keluarga di surga dan di bumi menerima sifatnya yang khusus. Saya berdoa semoga Allah yang mahamulia berkenan untuk menguatkan batinmu dengan Roh-Nya. Semoga karena kalian percaya kepada Kristus, Kristus tinggal di dalam hatimu, dan hidupmu didasarkan dan dikuasai oleh kasih. Saya berdoa semoga bersama-sama dengan semua umat Allah, kalian dapat menyelami betapa luasnya dan panjangnya serta tingginya dan dalamnya kasih Kristus, yang dengan akal manusia tidak dapat dipahami sedalam-dalamnya. Semoga kalian mengenal kasih Kristus itu, sehingga kalian penuh dengan kepribadian Allah yang sempurna.” Ef‬ ‭3:14-19‬ ‭BIMK‬‬

Agar kita penuh dengan kepribadian Allah yang sempurna dan didasari dengan Kasih, itulah Doa seorang ayah, ibu, suami dan istri, agar di dalam keluarga-nya mengenal Kristus di atas segala-galanya. Inilah doa yang harus kita doakan dalam keluarga kita masing-masing.

Sharing Ps. Sidney – Beberapa waktu yang lalu, saya ditanyai bahwa apa itu definisi sukses menurut saya. Saya mengutip definisi ini dari John Maxwell.

Success means having those closest to me love and respect me the most – John C Maxwell.

Resapi ini, ini definisi sukses yang saya terapkan dalam hidup saya. Bukan dari follower di social media atau tepuk tangan dari rekan bisnis, tetapi sukses terbesar adalah disaat orang-orang terdekat saya bisa mengasihi dan menghargai saya.

The journey is more important than the goal, kesuksesan kita di dalam dunia harus bisa dinikmati dengan keluarga kita, yang merupakan orang terdekat dalam hidup kita. Apa gunanya saya keliling dunia dan menciptakan lagu tetapi saya kehilangan respek dan kasih dari orang terdekat saya?

Mengapa keluarga saya mengasihi saya? Karena saya mengasihi Kristus.

Mengapa keluarga saya menghormati saya? Karena saya dipenuhi oleh Kasih Kristus yang saya berikan kepada mereka, We learn through example. Hidup kita didasari dan dikuasai oleh Kasihnya.

Seringkali dalam 14 tahun saya menikah, saya putus asa dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa sebagai suami dan ayah yang kurang baik, tetapi saya temukan bahwa tidak ada suami, istri, orang tua, anak dan keluarga yang sempurna.

Hanya Yesus yang sempurna, itu sebabnya pada saat saya mengalami masa-masa itu, saya mengucapkan doa Paulus diatas, bahwa saya mengenal Kristus, dan mengalami kepenuhan serta penuh dengan kepribadian Allah yang sempurna, saya ingat bahwa saya punya Ayah di Surga yang sempurna, itu adalah doa saya karena Dialah yang akan membesarkan keluarga saya, dan bukan hanya saya saja.

Itulah doa saya yang sama seperti Paulus untuk keluarga kita masing-masing, agar kita bisa mengenal Kasih Kristus sehingga kita penuh dengan kepribadian Allah yang sempurna. Karena bersama dengan Tuhan, tidak ada yang mustahil. Tidak peduli dengan masa lalu kita seperti apa sebelumnya.

Faith doesn’t always mean that You need God to change your situation. Sometimes Faith means that God is changing You.