JPCC Kota Kasablanka Service 3 (3 Maret 2019)
Kita dapat menemukan Dua Saul di Alkitab, salah satunya adalah Saul dari Gibeah, Raja Israel pertama, dan yang kedua adalah Rasul Saul dari Tarsus, hari ini kita akan mempelajari kisah dua saul ini, a Tale of Two Sauls.
Mereka adalah pionir di dunianya masing-masing, baik Saul yang pertama adalah Raja Israel pertama yang memimpin dari Jaman Nabi ke Jaman Raja-raja, sementara Rasul Saul, atau Saul yang kedua adalah Pionir yang membawa Firman Tuhan yang tadinya hanya tersedia bagi Bangsa Yahudi dan kemudian bisa disebarkan ke seluruh penjuru dunia.
Mereka berdua mempunyai beberapa kemiripan, Nama Saul artinya sangat diinginkan dan diharpakan, mereka adalah dua orang yang sangat diinginkan, Raja Saul atau Saul yang pertama digambarkan sebagai pria yang begitu tampan parasnya, sementara Rasul Saul atau Saul yang kedua, juga diperkatakan hal yang sama, dan bahkan juga memiliki kepintaran di atas rata-rata.
Kedua Saul ini juga punya pengalaman pertobatan yang terjadi di Jalan. Saul yang pertama mempunyai pengalaman dengan Roh Kudus di dalam perjalanan-nya, begitu juga Saul yang kedua mengalami Yesus di dalam perjalanan ke Damaskus.
Mereka berdua sama-sama terjatuh tersungkur di hadapan para nabi. Saul yang pertama bicara pada nabi (Samuel) yang sudah mati, sementara Saul yang kedua berbicara kepada Yesus (yang juga telah mati dan bangkit kembali).
Saul yang pertama dan kedua, mereka hidup lebih dari 60 tahun dan keduanya juga meninggal secara tragis.
Walaupun mereka memulai kehidupan dengan banyak kesamaan, tetapi mereka mengakhiri kehidupan dengan begitu berbeda, pada saat meninggal, kondisi mereka menggambarkan spektrum yang sangat berbeda, Saul yang pertama begitu penuh dengan keinginan untuk membangun kerajaan-nya sendiri, sementara Saul yang kedua begitu ingin membangun Kerajaan-Nya Tuhan.
Saul yang pertama menolak atau hidup sesuai rencana Tuhan, sementara Saul yang kedua ingin hidup sepenuhnya sesuai cara dan rencana Tuhan.
Saul yang pertama hidup untuk dirinya sendiri, dan sangat berbeda dengan Saul yang kedua yang “mati” terhadap dirinya sendiri. Saul yang pertama jatuh dalam depresi dan tidak stabil secara emosional, sedangkan Saul yang kedua di tengah percobaan selalu bersukacita karena Tuhan jauh lebih besar dari itu, dia selalu bersukacita dalam pengharapan dan menyatakan Kuasa Tuhan.
Saul yang pertama harusnya menjadi peringatan bagi kita sementara Saul yang kedua harus menjadi teladan bagi kita semua.
Teladan apa yang harus kita ikuti? Cara bagaimana dia menghadapi rasa tidak aman atau Insecurity dalam dirinya.
Terlepas dari dimanapun akhirnya mereka mengakhiri kehidupan mereka, mereka berdua berawal dari pribadi yang tidak aman atau insecure.
Perhatikan bahwa mereka mengakhiri kehidupan yang penuh dengan rasa tidak aman atau percaya, dan apa yang mereka lakukan setelahnya menentukan akhir kehidupan mereka, bagaimana sikap kita dalam menghadapi rasa tidak aman atau insecurity dalam hidup kita akan menentukan akhir kehidupan kita.
Opening Verse – “Saul answered, “But I’m only a Benjaminite, from the smallest of Israel’s tribes, and from the most insignificant clan in the tribe at that. Why are you talking to me like this?” 1 Samuel 9:21 MSG
“Tetapi jawab Saul: “Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?” 1 Samuel 9:21 TB
“Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” 1 Korintus 15:9 TB
“The first thing I did was place before you what was placed so emphatically before me: that the Messiah died for our sins, exactly as Scripture tells it; that he was buried; that he was raised from death on the third day, again exactly as Scripture says; that he presented himself alive to Peter, then to his closest followers, and later to more than five hundred of his followers all at the same time, most of them still around (although a few have since died); that he then spent time with James and the rest of those he commissioned to represent him; and that he finally presented himself alive to me. It was fitting that I bring up the rear. I don’t deserve to be included in that inner circle, as you well know, having spent all those early years trying my best to stamp God’s church right out of existence.” 1 Corinthians 15:3-9 MSG
Setiap dari kita tentu mempunyai rasa tidak aman atau insecurity, seperti misalnya ada orang yang mempunyai rasa tidak aman dalam berbicara di depan umum atau public speaking. Beberapa orang bahkan memilih untuk mati daripada melakukan ini.
Ada juga orang yang meresponi rasa tidak aman dengan merasa malu dan menarik diri, sementara ada juga orang yang sebaliknya membusungkan data untuk menutupi rasa tidak aman mereka.
Kita bisa menjadi percaya diri tetapi tetap merasa tidak aman didalamnya, Kalau kita mau terbuka mengenai hal insecurity, berita baiknya kita menjadi orang yang asli atau Autentik.
Kalau kita merendahkan hati dan mengijinkan rasa tidak aman ini menghalangi kita, dan tidak berpura-pura menjadi orang lain, maka kita menjadi orang yang menarik atau Magnetik.
Kalau kita suka menutupkan rasa sakit yang kita punya, dan selalu berkata bahwa kita baik-baik saja, maka kita menjadi orang yang Sintentis, Sebaliknya jika kita suka hidup dengan memberikan alasan, mempunyai mentalitas korban dan selalu menyalahkan orang lain, kita akan menjadi Patetis.
Apakah itu Autentik, Magnetik, Sintetis, atau Patetis, itu semua adalah pilihan kita. Kita bisa menjadi Saul yang pertama atau Saul yang kedua, itu semua adalah pilihan kita.
Ada beberapa kesamaan dari orang yang tidak menghadapi rasa tidak aman atau insecurity mereka dengan baik, sebagaimana kita bisa melihat dari kehidupan Raja Saul atau Saul yang pertama, mereka cenderung untuk menolak instruksi dan koreksi, serta merasa cemburu dan iri hati sehingga karakter mereka akan tercemar, tidak stabil secara emosional, sehingga pada akhirnya mereka akan menghindari tanggung jawab dan kemudian menyalahkan orang lain.
Kita terlalu kuatir akan apa orang pikirkan dan katakan tentang diri kita, atau disebut juga Rasa Sadar Diri atau Self Consciousness. Reputasi kita berharga, dan hal ini harus bisa diimbangi dengan rasa sadar diri secara pribadi.
Contohnya mungkin sekarang saat saya sedang berkotbah, ada beberapa orang yang mengantuk karena saya tidak melakukan beberapa hal yang mencolok dan menarik seperti “menyiksa” Ps. Jose Carol di kotbah-kotbah sebelumnya. Mereka bahkan mungkin menilai kotbah saya hari ini membosankan, Tetapi saya tidak terlalu mempedulikan Hal itu, karena saya percaya ada satu pesan penting dari kotbah hari ini yang perlu didengar salah satu dari kita disini.
Dunia sekarang ini, karena tidak punya Tuhan, maka mereka menempatkan rasa aman mereka di dalam sesuatu seperti Uang. Tetapi jika kita menempatkan rasa aman ini kepada uang, kita akan mudah merasa kecewa karena hal ini, kondisi finansial dan uang begitu tidak stabil dari waktu ke waktu.
Rasul Saul atau Saul yang kedua belajar untuk mencukupkan diri dalam segala sesuatu, dengan kata lain uang bukanlah sumber dari rasa aman atau keamanan-nya.
Selian Uang, Dunia juga menempatkan rasa aman kepada Cinta, tetapi kita perlu tahu bahwa manusia pada akhirnya juga akan mengecewakan kita. Hal yang sama juga berlaku di dalam kesehatan, dan fashion atau penampilan.
Masalahnya dalam penampilan adalah tren selalu berubah, kita tidak bisa menempatkan rasa aman kita di penampilan, begitu juga di dalam pencapaian kita. Sesuatu yang nyata seperti kepemilikan akan barang-barang berharga juga bukanlah sesuatu yang bisa dipertahankan.
Tetapi hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang paling penting, milikilah Tuhan, pada saat Dia mengundang setiap dari kita untuk mempunyai hubungan yang pribadi dengan diriNya. Kehidupan Kekristenan adalah Hubungan, dan bukan hanya agama.
Bagi setiap dari kita yang menempatkan harapan dan rasa percaya diri kita kepada Tuhan, tidak ada rasa aman yang lebih besar yang bisa kita dapatkan di dalam seseorang seperti Yesus.
Kita mungkin masih bisa merasakan rasa aman dari waktu ke waktu, tetapi ada 3 kunci yang bisa kita pelajari agar bisa menolong kita membuka dan menemukan rasa aman baru dan bisa kita miliki.
Supporting Verse – ““Because he loves me,” says the Lord, “I will rescue him; I will protect him, for he acknowledges my name. He will call on me, and I will answer him; I will be with him in trouble, I will deliver him and honor him. With long life I will satisfy him and show him my salvation.” Psalm 91:14-16 NIV
““Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” Mazmur 91:14-16 TB
3 Kunci untuk membuka dan menemukan rasa aman yang baru dan bisa kita miliki.
1. Compare Yourself to Care Yourself
Bandingkan dirimu untuk merawat dirimu, jangan bandingkan diri kita dengan orang lain disaat kita merasa tidak aman.
Orang-orang kebanyakan menampilkan sisi atau highlight yang tidak nyata di dalam kehidupan mereka di media sosial. Kita tidak bisa melihat sisi “bad hair day” mereka di media sosial.
Tetapi jika disaat ada orang-orang yang menampikan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka, dan kita mulai merasa tidak aman, insecure, dan iri akan hal itu, maka itu berbicara mengenai identitas kita yang rusak, dan akan lebih baik jika kita membandingkan diri kita untuk merawat diri kita sendiri.
Jadi jangan membandingkan untuk bersaing atau menjadi lebih baik antara satu sama lain, tetapi bandingkan diri kita untuk merawat diri kita sendiri.
2. Feel Insecure more frequently
Kedua adalah merasa tidak aman lebih sering lagi. Mungkin terkesan tidak masuk akal, tetapi satu-satunya cara untuk menaklukan rasa takut dan rasa aman adalah menghadapinya, semua ini berbicara tentang kenyamanan atau comfort zone.
Disaat kita keluar dari zona aman, kita harus berani untuk lebih sering lagi menghadapi rasa tidak aman atau insecurity kita.
Semakin sering kita mengadapi rasa tidak aman ini, kita akan temukan bahwa rasa tidak aman itu tidak lagi begitu mengendalikan diri kita dan menakutkan seperti sebelumnya, semakin lama kita menghadapi rasa tidak takut atau rasa tidak aman ini, hal itu tidak lagi akan menghalangi kita, dan tetapi malah menjadi menyenangkan.
Kapankah kita terakhir kali melakukan sesuatu untuk pertama kalinya?
Kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan, yang harus kita lakukan adalah melakukan hal-hal yang kita tidak ingin lakukan sebelumnya.
Jadi kita bisa memiliki rasa aman dengan cara berani lebih sering dalam menghadapi rasa tidak aman yang kita alami.
3. Don’t Think, Just Do.
Disaat kita tahu siapa diri kita di dalam Yesus, bertindaklah dan jangan pikirkan terlalu jauh.
Rasul Saul atau Saul yang kedua berkata bahwa bukan lagi dia yang hidup, tetapi Yesus yang hidup di dalam dirinya. Musuh kita selalu ingin mengintimidasi kita tetapi susah untuk mengintimidasi orang yang telah mati dan bangkit kembali.
Jika kita bisa menjadi seperti Saul kedua, maka rasa takut tidak akan menjadi faktor yang menghalangi kita lagi.
Supporting Verse – “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2:20 TB
Seorang filsuf bernama Rene Descartes, berkata “Cigito, ergo sum”, dengan artian : “I think, therefore I am. Artinya adalah, karena aku berpikir, aku menjadi seperti itu.
Bahasa ini adalah Bahasa Latin yang tentunya adalah salah satu bahasa Tertua di dunia, tetapi bahasa Ibrani atau Hebrew adalah bahasa yang secara umur jauh lebih tua.
Supporting Verse – “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Keluaran 3:14 TB
Disini dikatakan bahwa sebaliknya Tuhan berkata “I am Who I am, Aku adalah Aku”, Manusia harus berpikir dahulu, tetapi Tuhan langsung melakukan, seperti Nike yang mempunyau tagline “Just Do it”, Yesus juga punya tagline yaitu “Just Done it”.
Masa lalu kita bisa menentukan kita, tetapi tidak peduli apa yang terjadi dengan masa lalu kita, keputusan kitalah selanjutnya yang akan menentukan masa depan kita. Saya harap pesan hari ini bisa membuat kita semua berani untuk mengambil langkah selanjutnya untuk mengubah masa depan kita.



