JPCC Online Service (25 April 2021)
Hello, Church! Apa kabar semuanya hari ini? Saya berdoa, setiap dari kita yang sedang beribadah di online service kita hari ini, tetap ada dalam keadaan yang baik, dan yang sehat, dalam perlindungan Tuhan kita.
Ini adalah minggu terakhir,kita membahas tema bulanan JPCC tentang “SUFFERING“. Dan jujur sejak awal tahun, saya sangat menikmati, dan banyak belajar dari setiap tema bulanan kita. Saya berharap kita bisa mendengarkan semua khotbah dan pengajaran,tentang makna penderitaan dan pergumulan selama bulan ini; Dari khotbah Ps. Jeffrey Rachmat, Ps. Mike Kai,dan juga khotbah minggu lalu dari Ps. Alvi Radjagukguk yang sangat luar biasa.
Well, ketika kita pertama kali membuat keputusan untuk mengikuti Yesus, saya yakin banyak dari kita yang dipenuhi dengan sukacita,kegembiraan, dan gairah. Tetapi seiringnya dengan berjalannya waktu, kebanyakan dari kita pada suatu saat dan lainnya akan bertanya-tanya, “Mengapa sih, Tuhan mengizinkan manusia menderita dan memiliki pergumulan?”
Well, tidak dapat disangkal bahwa penderitaan dan pergumulan merupakan bagian dari keberadaan setiap manusia. Namun ini yang harus kita sadari, bahwa meskipun jalan hidup kita tetap sulit dan penuh pergumulan, hanya pengenalan dan pengalaman dalam setiap langkah kita bersama dengan Yesus yang bisa membuat kita mempunyai respons yang berbeda dalam setiap pergumulan kita.
Opening Verse – Aku telah memberitahukan kepada kalian segala hal ini agar kalian mendapat sejahtera di dalam hati dan pikiran. Di dalam dunia ini kalian akan mengalami banyak penderitaan dan kesusahan; tetapi bergembiralah, karena Aku telah mengalahkan dunia ini. Yohanes 16:33 (FAYH)
Everything I’ve taught you is so that the peace which is in Me will be in you and will give you great confidence as you rest in Me. For in this unbelieving world you will experience trouble and sorrows, but you must be courageous, for I have conquered the world! John 16:33 TPT
Ketika Alkitab berbicara tentang dunia yang secara umum, berarti sebuah dunia fisik, dunia yang dapat kita lihat dengan mata jasmani yang penuh dengan penyakit, kelaparan; penuh dengan dosa, kemarahan, kebencian, dan kematian.
Well, ingat khotbah saya bulan lalu tentang melatih mata rohani kita, dan bukan sekadar mata jasmani kita? Dunia yang dimaksudkan adalah sistem dan kepercayaan duniawi. Dan apa yang Yesus katakan kepada kita semua adalah ini:
“Meskipun Saudara dan saya akan mengalami kesusahan dan penderitaan,
namun jangan takut, jangan khawatir, malah bergembiralah! Karena dunia yang kelihatan ini sudah dikalahkan dan ditaklukkan, dan kerajaan Tuhan yang tidak bisa dilihat dengan mata jasmani kita, sudah siap untuk menerima kita suatu hari kelak.”
Pertanyaannya: Apakah kita akan menaruh iman kita pada aturan dan tradisi buatan manusia— semua yang jasmani— daripada kita menempatkan iman kita kepada Tuhan—spirit, dan juga rohani?
Karena penderitaan itu universal. Semua ciptaan Tuhan pasti mengalami penderitaan dan pergumulan. Dalam pelayanan saya, pertanyaan yang sering saya dengar adalah ini:
“Well, kalau, jika Tuhan itu baik, Pastor, mengapa saya harus menderita?” “Jika Tuhan itu Mahakuasa, Pastor, mengapa Dia tidak menyembuhkan saya?” “Kenapa Tuhan tidak membebaskan hutang saya?” Dan lain sebagainya. “Kenapa Tuhan tidak membawa saya dan keluarga keluar dari masalah kami?” Dan seterusnya, dan seterusnya.
Selama beberapa minggu ini, kita telah belajar begitu banyak pelajaran yang sangat luar biasa, dalam menjawab pertanyaan dan pergumulan ini. Tapi hari ini,
izinkan saya untuk membagikan pergumulan pribadi saya, dengan sebuah pengharapan bahwa kisah pergumulan yang saya masih alami sampai detik ini,
bisa “relate” dengan pergumulan Saudara, dan membuat Saudara sadar akan kasih Tuhan bagi kita semua, dan bahwa Saudara tidak sendirian dalam pergumulan Saudara.
Sharing Ps. Sidney – Well, pergumulan yang saya alami selama beberapa tahun terakhir ini, telah banyak mengubah cara saya berpikir dan banyak menantang iman saya. Jujur, saya selalu berpikir berkali-kali sebelum saya membagikan pergumulan kesehatan saya secara detail, karena saya tidak mau membagikan kesan yang salah kepada orang-orang. Saya tidak ingin Saudara berpikir bahwa,
saya sedang mencari simpati atau minta dikasihani.
Malah sebaliknya, alasan saya ingin membagikan pergumulan saya adalah untuk bisa menunjukkan bahwa saya bisa tegar dan kuat sampai hari ini, bukan karena kekuatan dan kehebatan saya sama sekali, namun hanya karena kasih anugerah Tuhan dalam hidup saya semata-mata. Namun saya juga harus sadar, bahwa dalam mengalami pergumulan saya ini, yang sampai hari ini, yang bisa membuat pemikiran saya diubahkan sedemikian rupa.
Dan saya akan bagikan pembelajaran saya dari penderitaan saya sendiri. Jika Saudara adalah jemaat JPCC, mungkin Saudara sudah pernah mendengar bahwa saya mengidap sebuah sindrom yang bernama sindrom Meniere atau penyakit Meniere. Sindrom Meniere adalah sebuah kelainan yang terjadi pada telinga di bagian dalam, di koklea, dengan beberapa gejala seperti, gejala pusing berputar (vertigo), yang biasa saya alami bisa berjam-jam, jika saya mendapatkan sebuah serangan; telinga yang berdenging (tinitus) yang permanen dan kronis, suara ngiiiiing; dan juga tekanan pada telinga.
Penyakit Meniere ini juga menyebabkan kehilangan kemampuan pendengaran di satu telinga, yang berujung pada tuli permanen. Karena sindrom Meniere ini bersifat degeneratif, artinya, dari tahun ke tahun, kondisinya akan terus menurun,
dan terus menurun.
Dalam kasus saya, bagian sebelah kiri saya yang kena dampaknya, sehingga dalam beberapa tahun terakhir ini telinga kiri saya harus memakai sebuah alat bantu dengar. But here’s the thing. Semua gejala yang saya alami ini tidak kelihatan oleh mata. Dari luar saya kelihatan biasa-biasa saja, baik-baik saja. Jika saya tadi tidak menunjukkan alat bantu dengar saya, juga mungkin Saudara tidak tahu apa yang sedang saya alami.
Dan saya rasa ini alasan sindrom Meniere juga disebut sebagai salah satu “invisible diseases”. Namun, karena hari ini adalah sebuah online service,
izinkan saya menunjukkan kepada Saudara kira-kira apa yang saya rasakan dan apa yang saya gumuli sehari-hari. Well, minus vertigonya, karena saya enggak bisa menunjukkan perasaan dunia sedang berputar-putar melalui video ini.
Saya akan mencoba untuk menunjukkan (kepada) Saudara apa yang saya “dengar” setiap saat. Beberapa saat lagi, Saudara akan mendengarkan frequency ringing saya, yang saya dengar nonstop, setiap saat, dan juga bunyi audio yang lebih teredam dari biasanya, karena pendengaran saya yang berkurang di telinga kiri saya.
Saya minta maaf jika suara ini akan mengganggu Saudara, tetapi saya ingin bagikan sebagian dari apa yang saya alami dalam setiap detik di setiap hari saya.
Inilah bagaimana saya mendengar dunia sekarang ini. Suara berdenging yang Saudara dengar, bunyi yang Saudara dengar adalah bunyi di sekitar 9300-9600 kHz, cukup keras suaranya di otak dan pendengaran saya.
Dan suara yang saya dengar pun sudah tidak terlalu terdengar jelas, seperti waktu pendengaran dan saraf-saraf saya masih normal. Dan ini yang saya alami setiap saat dalam hidup saya. Yang barusan Saudara dengar selama beberapa detik ini saja, adalah apa yang saya rasakan dan saya gumuli setiap saat, nonstop,
24 jam sehari dalam beberapa tahun terakhir ini.
Gangguan pendengaran, suara berdenging (tinitus) yang tidak pernah berhenti,
dan juga serangan vertigo yang cukup sering, dan membuat saya harus memejamkan mata saya berjam-jam dengan kepala berputar, dan bahkan sampai muntah-muntah. Dan inilah penderitaan saya setiap saat dalam setiap hari saya.
Sekali lagi, saya tekankan kembali, saya tidak membagikan ini untuk mencari perhatian atau mencari simpati Saudara. Dan saya juga sama sekali tidak mau membuat Saudara berpikir bahwa saya ini kuat atau hebat, karena jujur,
sama sekali saya tidak merasa demikian dalam pergumulan saya.
Namun dari pergumulan saya ini, saya terus belajar berserah kepada Tuhan,
terus belajar untuk bisa melihat, tidak sekadar dari mata jasmani atau telinga jasmani saya, namun melalui mata iman, bahwa dalam situasi dan kondisi yang sama sekali tidak sempurna, kasih Tuhan untuk Saudara dan saya selalu sempurna.
Saya katakan sekali lagi— karena saya tahu ada banyak yang perlu mendengarkan kata-kata ini— bahwa dalam segala situasi dan kondisi kehidupan yang sama sekali tidak sempurna sekalipun, kasih-Nya dan anugerah-Nya, itu selalu sempurna untuk kita.
Dan bahkan sekarang, saat saya– Saya bisa membaca pikiran beberapa Saudara saat ini, karena saya sering mendapatkan pertanyaan-pertanyaan ini di DM saya,
pertanyaan ini:
“Mengapa Tuhan mengizinkan hal itu terjadi pada Anda?”
“Mengapa Tuhan mengizinkan seorang hamba Tuhan mendapatkan sesuatu pergumulan yang bisa mempengaruhi talenta dan pelayanannya?”
Atau, ada juga yang bertanya begini,
“Kok, pendeta bisa sakit, sih? Apa mungkin ada dosa yang belum beres di hadapan Tuhan?”
Ada juga yang bertanya, “Apa Tuhan lagi menghukum kamu, Pastor?” Percayalah,
sebelum Saudara berpikir demikian, saya pun sudah pernah bertanya kepada diri saya sendiri, dan pernah bergumul dengan jawaban-jawabannya. Karena saya pun adalah seorang manusia biasa.
Ingat yang saya katakan bulan lalu, bahwa (memiliki) iman, bukannya (berarti) kita tidak mempunyai keraguan sama sekali. Iman adalah mempercayai Bapa di surga, bahkan saat ada keraguan di dalam hati kita. Sama seperti teman-teman sekalian, saya juga tidak punya semua jawabannya. Sama seperti Saudara, saya pun punya pertanyaan. Namun saya punya iman dan keyakinan, bahwa Dia adalah Bapa yang baik, Bapa yang tahu yang terbaik untuk anak-anak-Nya, meskipun kita tidak mengerti kondisi dan situasi yang harus kita lewati.
Ini yang saya pelajari, bahwa dalam setiap pergumulan dan penderitaan manusia,
kita semua diberikan pilihan dalam meresponi keadaan kita. Choice.
Dan saya sering sekali mendengar ini, “Yah, Pastor, what choice do I have? Mau gimana lagi, ya memang begini keadaan saya. Saya punya pilihan apa?” Memang kita tidak bisa memilih keadaan dan situasi kita. Saya tidak bisa memilih apa yang terjadi atas diri saya. Saya tidak bisa memilih penyakit saya, atau kondisi keluarga di mana saya dilahirkan. Namun kita, Saudara dan saya, bisa memilih bagaimana cara kita meresponi pergumulan dan penderitaan kita.
Supporting Verse – Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Firman Tuhan katakan, Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, Pilihlah kehidupan, bukan kematian. Ulangan 30:19 (TB)
Pilihlah! Ketika pergumulan kita bertambah, kita harus segera menyadari bahwa ada dua pilihan bagaimana kita dapat menanggapi situasi kita: meresponi dengan kepahitan atau berusaha mengubah pergumulan kita menjadi sebuah kekuatan iman dan keyakinan. Saya berdoa, bahwa dalam pergumulan Saudara hari ini,
Saudara tidak memilih untuk merespon dengan kepahitan, tetapi Saudara memilih untuk merespon dengan iman dan kepercayaan yang teguh akan kasih Tuhan.
Saya temukan bahwa jika kita meresponi setiap pergumulan kita dengan benar di hadapan Tuhan, pergumulan dan penderitaan kita akan selalu membawa kita kepada pertobatan, pergumulan kita akan membuat kita lebih bergantung lagi kepada anugerah Tuhan, penderitaan kita akan mentransformasikan dan mengubah kita menjadi lebih serupa dengan Kristus, dan pergumulan kita— perhatikan— akan terus mengingatkan kita akan penderitaan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus Saudara dan saya.
Seseorang bertanya kepada the great C.S. Lewis, “Mengapa orang benar menderita?” “Why do the righteous suffer?” “Kenapa tidak?” dia membalas,
“Hanya merekalah satu-satunya yang bisa menanggungnya.” Itu benar.
Sharing Ps. Sidney – Putri saya, Chelsea, umurnya 15 (tahun), mengatakan ini kepada saya suatu malam, “Dad, I think without your Meniere’s Disease, you would not be as strong as you are now, and your faith wouldn’t be this strong today.”
“Jika Daddy tidak sakit Meniere’s ini, Daddy tidak akan menjadi sekuat sekarang
dan iman Daddy tidak akan sekuat sekarang.” Bahkan putri saya pun tahu,
bahwa pergumulan manusia ada tujuannya.
Ada satu spektrum pemikiran bahwa orang-orang percaya itu tidak boleh hidup dalam pergumulan dan penderitaan; bahwa kalau kita bergumul kalau kita menderita atau sakit, artinya Tuhan sedang marah dan menghukum kita; bahwa standar kekristenan kita terlihat dari kesuksesan kita atau kebahagiaan kita.
“Kalau kamu menderita, artinya kamu kurang rohani, kurang doa, kurang iman.”
Well, itu satu spektrum pemikiran. Ada juga, di spektrum yang berlawanan, yang berpikir bahwa kekristenan itu harus berfokus pada kesengsaraan dan penderitaan. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga!” “Wah, kamu hidupnya berkelimpahan berarti kamu kurang rohani dan terlalu duniawi.” “Berbahagialah orang yang berdukacita!” “Berbahagialah orang yang haus dan lapar,” dan lain sebagainya. Inilah spektrum lain dari pengajaran Kristen. Kalau kamu tidak hidup sengsara, artinya kamu kurang cinta Tuhan.
Ada yang pernah berkata begini kepada saya, “Oh, ada berkat di balik penderitaan.”
Saya rasa itu tidak benar. Karena berkatnya bukanlah di dalam penderitaannya,
namun di dalam iman dalam penderitaan kita. Berkat ada di dalam iman kita dalam penderitaan kita. Saya mau Saudara mengerti ini hari ini, bahwa kita tidak mengajarkan bahwa penderitaan dan pergumulan itu adalah tujuan kekristenan.
Bukan itu. Karena jika penderitaan adalah sesuatu yang baik yang Tuhan inginkan bagi kita semua, berarti akan ada penderitaan juga nanti di Surga. Penderitaan dan pergumulan bukanlah apa yang Tuhan inginkan bagi kita, dan bukanlah alasan dari penebusan Yesus Kristus bagi dunia.
Supporting Verse – Ia akan menyeka segala air mata dari mata mereka. Kematian tidak akan ada lagi; kesedihan, tangisan, atau kesakitan pun akan tidak ada pula.
Hal-hal yang lama sudah lenyap. Wahyu 21:4 (BIMK)
Lagipula, kesulitan dan penderitaan kami tidaklah seberapa dan tidak akan berlangsung lama. Masa sulit yang pendek ini akan menghasilkan bagi kita kemuliaan yang jauh melebihi kesusahan itu dan akan bertahan selamanya! 2 Korintus 4:17 (FAYH)
Penderitaan ada dalam inti iman Kristen. Namun suffering (penderitaan) bukanlah tujuannya. Pergumulan yang saya alami, sindrom Meniere saya dan semua gejalanya, semua apa yang Saudara alami hari-hari ini, semua pergumulan ini hanyalah salah satu cara untuk mengubahkan kita menjadi serupa dengan Yesus
dan mengalami penebusan-Nya.
Artinya, semua penderitaan dan pergumulan kita, meskipun menyakitkan, ada gunanya, dan juga dipenuhi dengan sebuah tujuan ilahi. Anugerah-Nya—
inilah kebenarannya— anugerah-Nya, His grace, untuk memampukan kita melewati semua tantangan dan pergumulan, sudah tersedia untuk kita. Namun tugas kita adalah untuk memilih, memilih anugerah-Nya, memilih pilihan yang tepat. Hidup dan mati, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan.
Alkitab penuh dengan pilihan-pilihan seperti ini. Pilihan dalam meresponi anugerah Tuhan dalam pergumulan. Salah satu kisah favorit saya adalah
cerita dua orang penjahat yang disalibkan bersama dengan Tuhan Yesus.
Perhatikan kedua respons yang berbeda di hadapan hadirat Yesus, pada saat mereka sedang dalam penderitaan.
Supporting Verse – Salah seorang penjahat yang disalibkan di samping Yesus mengejek, “Bukankah Engkau ini Mesias? Kalau begitu, buktikanlah dengan menyelamatkan diri-Mu, dan kami juga!” Tetapi penjahat yang lain menegur dia—
ayat 40— “Tidakkah engkau takut akan Allah? Engkau dihukum mati seperti Ia. Memang— perhatikan—sepantasnyalah kita mati, sebab perbuatan kita jahat, tetapi Orang ini— Yesus— tidak pernah berbuat suatu kejahatan apa pun.” Kemudian ia berkata, “Yesus, ingatlah akan saya bila Engkau memasuki Kerajaan-Mu.” Yesus menyahut, “Sesungguhnya, pada hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” Lukas 23:39-43 (FAYH)
See, penjahat yang satu memilih untuk merespons dengan kepahitan dan ejekan,
namun, yang satu lagi memilih untuk merespons dengan pertobatan dan penyerahan penuh. Bahkan di akhir kehidupan sang penjahat itu pun, Tuhan Yesus tetap mengulurkan anugerah dan pengampunan-Nya. Apalagi kepada Saudara dan saya saat ini juga.
Contoh indah lainnya adalah Yesus sendiri, saat Yesus tidak menginginkan cawan-Nya di malam sebelum Dia disalibkan. Markus 14:36 dalam terjemahan Tazi Study Bible mengatakan begini:
Supporting Verse – “Bapa, ya Bapa,”— ini doa Yesus—kata-Nya, “tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Bapa. Angkatlah penderitaan ini daripada-Ku.
Itu yang Yesus minta. Angkatlah penderitaan ini daripada-Ku. Namun, Hanya janganlah mengikuti kemauan-Ku melainkan kemauan Bapa.” Markus 14:36
Seluruh kemanusiaan Yesus berkata, Bapa kalau boleh cawan atau salib itu dijauhkan dari-Nya. Namun saat Dia berbicara kepada Bapa di surga, Yesus sangat sadar bahwa ada dua pilihan, ada dua cara merespon: ada kehendak-Ku dan ada kehendaknya Tuhan (Allah Bapa).
Dan ini yang saya pelajari, dan saya berdoa teman-teman terkasih juga mengerti hari ini. Bukan berarti bahwa kita memilih dan memutuskan untuk menderita,
bukan itu maksud kami. Namun yang saya maksud adalah kita harus memilih untuk mempercayai kehendak Tuhan, bahkan jika pilihan tersebut berarti kita mengalami penderitaan.
Jika kita adalah anak-anak Tuhan berarti kita memilih kehendak Bapa, sama seperti yang dilakukan oleh Yesus. Meskipun itu berarti kita mengalami penderitaan atau pergumulan. Tetapi di tengah penderitaan kita itulah, kita memilih untuk percaya bahwa Tuhan mengasihi Saudara dan saya.
Dengan cepat, bagaimana mengaplikasikan ini semua. Ada dua hal yang aku selalu pilih dalam pergumulan saya setiap hari. Ya, kita tidak bisa memilih situasi kita,
tetapi kita dalam memilih bagaimana kita merespons. Dan ini dua pilihan saya, nomor satu: Choose the peace of God. Pilihlah damai sejahtera Tuhan.
Supporting Verse – Dan semua yang Kuajarkan kepadamu adalah supaya damai sejahtera yang ada dalam Yesus ada di dalammu dan memberimu keyakinan saat engkau beristirahat dalam Yesus. Yohanes 16:33 TPT
Saya suka khotbah Pastor Alvi minggu lalu, “Rest in our Suffering”. Ada akronim dari kata REST:
R: Run to God’s presence (Berlari ke hadirat Tuhan), E: Experience God’s love and peace (Alami kasih dan damai Tuhan), S: Submit to God’s leading (Tunduk pada pimpinan Tuhan), dan, T: Trust God’s heart (Percaya hati Tuhan). Sangat bagus.
Bahwa kita harus mengejar hadirat Tuhan dan damai sejahtera-Nya. Saya perhatikan dalam pergumulan banyak orang, banyak dari mereka lebih memilih mencari kesenangan (happiness) dibandingkan damai sejahtera dan ketenangan dalam hati dan pikiran. Mereka berkata, “Well, daripada gue stres, daripada gue begini, gue mau cari yang happy-happy aja deh” Tapi teman-teman, saya berdoa kita memilih damai Allah. Bukan sekadar mencari kesenangan, cari damai Allah.
Dalam kebisingan bunyi tinitus saya, seringkali saya berharap untuk bisa hening saja, biar hanya sepuluh detik saja. Sepuluh detik. And in those moments, saya mengejar damai sejahtera Tuhan.
Dalam penyembahan saya, dalam mengejar hadirat-Nya, dalam keluarga saya.
Saya sadar, kadang-kadang pergumulan dan penderitaan kita semua bisa membawa kita kepada sebuah keputusasaan. Di bulan Maret lalu, saya membaca sebuah berita tentang seorang pria, seorang CEO yang berumur 65 tahun di Texas, di Amerika. Dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena dia tidak tahan lagi akan suara berdenging (tinitus) yang dia derita.
Suara yang sama, yang saya dengar nonstop selama beberapa tahun ini. Banyak orang memilih, dalam pergumulan mereka, malah mencoba untuk mengejar kebahagiaan. Mereka sibuk mencari hal-hal yang bisa membuat mereka senang
dan melupakan pergumulan dan penderitaan mereka. Banyak yang larinya ke narkoba, larinya ke seks bebas, dan hal-hal yang lainnya, yang hanya menolong sementara. Tapi hari ini saya berdoa, Saudara memilih untuk mengejar kedamaian di dalam Yesus, agar kita bisa selalu mendapatkan sejahtera. di dalam hati dan pikiran kita dalam Kristus dan tidak terjebak dalam keputusasaan dalam pergumulan kita.
Kebahagiaan semata tidak akan membantu kita, hanya damai sejahtera Tuhan.
C.S. Lewis mengatakan begini, “Life with God is not immunity from difficulties,
but peace in difficulties.” Hidup bersama Tuhan bukan berarti kita kebal dari pergumulan, namun kita mendapatkan kedamaian di dalam kesulitan.
Di sisi lain, jika Saudara saat ini dalam keadaan yang baik-baik saja dan sedang tidak dalam pergumulan yang hebat— perhatikan— pilihlah untuk menjadi
pembawa damai sejahtera Tuhan, bagi teman-temanmu yang sedang bergumul.
Kadang-kadang, hanya sekadar memberitahu kepada mereka, yang sedang dalam pergumulan yang hebat, bahwa engkau memikirkan mereka dan mendoakan mereka, itu cukup untuk membawakan damai, Saudara enggak perlu memberikan nasihat, apalagi dihakimi. Tidak perlu.
Saya ingat ada satu masa, dua tahun yang lalu, di mana saya sedang bergumul karena ada tumor dalam tiroid saya, yang pada saat itu saya tidak tahu apakah itu berbahaya atau tidak. Masa-masa yang sangat menegangkan bagi saya dan keluarga saya, dan di saat-saat itulah lagu “Jujur” saya tuliskan.
Ada begitu banyak pesan di WhatsApp dan di media sosial saya, yang memberikan nasihat dan memberikan alasan kenapa Tuhan izinkan ini terjadi. Ada juga yang memberikan ayat-ayat Firman Tuhan, bahkan ada juga yang mempertanyakan kelemahan iman saya. Tidak mengapa.
Namun ada satu pesan dari Pastor Jeffrey Rachmat, pesan sederhana yang berkata,
“I feel you. Know that you are covered by our prayers.” “I feel you. Know that you are covered–” “Aku merasakan apa yang engkau rasakan.” “And know that you are covered.” “Engkau dilindungi oleh doa-doa kami.” Itu saja. Kata-kata sederhana. Namun membawa damai dalam hati saya.
Yesus lakukan hal yang sama buat kita. Dia turut merasakan pergumulan kita, dan bukan menghakimi kita. Nomor dua. Choose the story you tell. Pilihlah kisah yang akan engkau ceritakan.
Supporting Verse – Di dalam dunia ini, kalian akan mengalami banyak penderitaan dan kesusahan; Perhatikan, “titik koma”, tetapi bergembiralah, karena Aku telah mengalahkan dunia ini.” tetapi bergembiralah— Alkitab katakan—karena Aku (Yesus) telah mengalahkan dunia. Yohanes 16:33 (FAYH)
Ya, ada penderitaan dan kesusahan, tetapi baca baik-baik, Saudara-saudara,
ada “titik koma” di situ, Kisahnya tidak berhenti di sana. Kita tidak bisa memilih situasi hidup kita, terutama dalam pergumulan kita, tetapi kita bisa memilih kisah kita. Kita dapat memilih kisah yang kita ceritakan pada diri sendiri, dan pada orang lain, Jangan berhenti jika masih ada “titik koma”, karena ada lanjutan kisah kita.
Kita bisa katakan, “Oh, hidup sulit. Tuhan sudah melupakan saya. Kenapa Tuhan jahat banget, sih, izinkan ini terjadi sama saya? Tuhan yang membuat saya menderita hari ini.” Kita bisa memilih untuk menceritakan itu, atau saya juga bisa bilang begini, “Kok, Tuhan tega, sih, membiarkan saya kehilangan pendengaran saya dan membuat saya seperti ini?” Atau, saya bisa memilih untuk berkata begini,
“Memang, ini musim yang sulit buat saya, namun saya tahu (bahwa) Tuhan sedang bekerja di balik ini semua, bahwa Dia tetap Tuhan yang baik, dan Tuhan yang menjaga hidup saya.”
Saya bisa memilih untuk bercerita, “Ya, memang ada raksasa, ada gunung dan badai di depan saya, tetapi saya pun yakin, Tuhan tetap ada di sisi saya.” Pilih ceritamu. Saya Sidney, mengidap penyakit sindrom Meniere— koma— namun Tuhan tetap baik dan memegang kendali dalam segala hal. Apa ceritamu, teman-teman?
Saudara mungkin berkata, “Keluargaku kehilangan segalanya— koma— namun Tuhan…” “Saya belum mendapatkan pekerjaan sampai hari ini— koma—
namun Tuhan…” Lihat kan, tidak berakhir dengan “titik”.
Supporting Verse – Lidah mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya; orang harus menanggung akibat ucapannya. Amsal 18:21 (BIMK)
Berbahaya kalau kita hanya menceritakan sisi negatifnya saja. “Oh, enggak ada orang yang peduli sama saya.” “Oh, hidup saya tidak diberkati oleh Tuhan.” Masa? Kamu benar-benar percaya itu? Jangan samakan seluruh kisah hidup kita
dengan situasi kita yang sedang kita gumuli dalam sebuah musim kehidupan.
Putri saya yang cantik, Chelsea, berkata demikian saat kami sedang mengobrol tentang hal ini. Dia berkata begini, “Dad, satu bab yang ditentukan buat kita
tidak menentukan seluruh kisah kita.” Satu bab yang ditentukan buat kita–
Satu bab tidak mewakili seluruh bukunya. Yang namanya pergumulan dan penderitaan itu lumrah dan wajar. Itulah hidup.
Memang kita enggak bisa memilih situasi kita, tetapi kita bisa memilih kisah kita.
Saya datang dari keluarga yang tidak utuh, sejak usia saya masih sangat muda.
Banyak orang yang mempunyai situasi yang sama dengan saya; orang tuanya bercerai, jatuh miskin dan lain sebagainya. Namun ada yang menggunakan bab hidup tersebut untuk mewakili seluruh kisah hidup mereka. Tapi saya menolak untuk menjadikan satu musim dalam hidup saya untuk mewakili keseluruhan kisah hidup saya.
Ya, saya tahu, teman-teman— saya akan menutup pesan ini—saya tahu, teman-teman, saat Saudara mengalami penderitaan, rasanya sudah cukup. Situasi Saudara berat, penyakit Saudara dan saya berat, betul. Tetapi jangan ditambahkan dengan kisah yang salah, yang engkau ulang-ulang di pikiranmu dan kata-katamu,
sampai engkau berpikir bahwa, Tuhan tidak bersama dengan engkau di tengah-tengah penderitaanmu. Tolong, hentikan kisah itu.
Meskipun saat ini mungkin adalah musim penderitaan yang terberat dalam kehidupan Saudara dan saya, inilah kebenarannya: Kita masih tetap bisa memilih kisah kita. Kisah saya tidak didikte oleh situasi dan keadaan saya dalam musim ini. Tetapi kisah kita sudah ditetapkan sejak semula, bahwa jika kita memilih untuk hidup bagi Tuhan Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Juruselamat— perhatikan— maka tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan. Bahkan kematian kita pun— dengarkan saya baik-baik— bahkan saat kematian kita pun tiba, itu bukanlah sebuah “titik”, namun sebuah “titik koma”,
karena kita akan masuk ke dalam bab yang baru dalam kekekalan. Dan itulah keseluruhan kisah kita.
Itulah kisah yang akan selalu saya ceritakan ke diri saya, ke keluarga saya, anak-anak saya dan orang-orang di sekeliling saya. Hari ini, Saudara lagi melewati lembah kekelaman, engkau dalam penderitaan dan pergumulan.
Mari bersama-sama, engkau tetap masih bisa memilih untuk menceritakan kisahmu dari perspektifnya Tuhan. “Mari bergembiralah,” firman Tuhan katakan,
“karena Yesus telah mengalahkan dunia ini.” Saya mau kita berdoa.
Closing Verse – Meskipun aku melalui lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau menemani aku. Engkau melindungi aku, seperti seorang gembala melindungi dombanya dengan tongkat dan gada. Engkau menyiapkan pesta bagiku di depan mata lawanku, Engkau menyambut aku sebagai tamu terhormat.
Engkau menyuguhi aku dengan minuman lezat berlimpah-limpah. Perhatikan ayat-ayat ini. Aku tahu Engkau baik kepadaku dan selalu mengasihi aku. Maka aku boleh diam di rumah-Mu selama hidupku. Mazmur 23:4-6 (BIMK)
P.S : Hi Friends! I need a favor, please do let me know if any of you know a freelance opportunity for a copywriter (content, social media, press release, company profile, etc). Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!



