Teladan Hidup By Ps Sidney Mohede

JPCC Kota Kasablanka (26 September 2021)

Hai Saudara, apa kabarnya? Saya selalu berdoa dan berharap agar kita semua ada dalam keadaan yang sehat dan yang baik. Dan saya sangat bersyukur melihat beberapa waktu terakhir ini keadaan bangsa kita berangsur pulih kembali, dan harapan saya bahwa Indonesia akan terus menjadi sehat kembali dan keadaan kita semua menjadi lebih baik. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Saudara semua yang selalu turut mengambil bagian dari JPCC Online Service kami selama hampir 18 bulan terakhir ini, sejak Maret tahun lalu.

Sungguh saya ucapkan, terima kasih! Karena meskipun Saudara tidak terbiasa, tapi Saudara tetap mau ambil bagian dalam ibadah online kami, untuk terus belajar, bertumbuh dan berbuah dalam sebuah komunitas dalam kondisi dan musim yang sulit ini. Saudara semua sangat luar biasa dan kami sangat bangga dan bersyukur ada dalam sebuah komunitas bersama dengan Saudara. 

Selama beberapa minggu ini kita sudah diajarkan banyak hal, dari tema kita ‘PLANTED TO LOVE’; tema tentang komunitas dalam gereja kita. Kita belajar tentang makna sebuah komunitas dari Pastor Jeffrey, bahwa di dalam sebuah komunitas yang benar kita bisa mencapai sesuatu yang tidak pernah dapat kita capai sendirian. Itu memang benar! Saya tidak mungkin bisa berkreasi sedemikian rupa dalam 25 tahun terakhir ini, tanpa orang-orang hebat yang terus mendukung dan mengasah kreatifitas saya.

Saya tidak bisa membayangkan saya akan ada di mana hari ini, jika saya tidak tertanam dan berakar di dalam komunitas Kristus yang sehat dan yang baik, seperti yang saya miliki hari ini. Well, dari Pastor Alvi kita belajar betapa pentingnya hidup berkomunitas dalam Kristus, yang tidak sekedar ‘tertancap’ dalam gereja, tetapi benar-benar mau untuk tertanam dan berakar sampai sedalam-dalamnya untuk menjadi seorang murid dan bukan menjadi seorang penikmat yang harus selalu dihibur untuk tidak kabur dari komunitasnya.

Pastor Kenny minggu lalu mengajarkan bahwa sebuah komunitas Kristus yang sejati selalu ditandai dengan kasih karunia (grace), kebenaran (truth) dan menggunakan waktu dengan baik. Bahwa komunitas yang kita maksud di sini bukanlah sekedar sebuah klub; you know, JPCC Bakmi Club, JPCC Toys Club—saya ada di dalamnya—atau JPCC Naik-Sepeda-Keliling-Jakarta Club. Namun, kita menjadi bagian dari sebuah komunitas di mana pusatnya adalah Yesus Kristus. A Christ-centered community, dimana Yesus adalah pusatnya.

Bukan hobi atau passion kita yang menjadi pusatnya, namun Yesus; yang menjadi Sumber kasih anugerah dan kebenaran, agar kita bisa saling membangun, saling mendorong dan menguatkan, dan saling membantu satu dengan yang lain agar kita semua menjadi lebih serupa dengan Kristus di dalam dunia kita sehari-hari. Hal ini membawa kita kepada pesan saya hari ini. Saya akan mulai dengan pemikiran ini: Saya belajar bahwa, sebuah komunitas bukanlah sekadar tentang titik lokasi kita namun tentang sumber informasi dan nilai kita.

Saya yakin banyak orang sadar akan ini, bahwa komunitas kita bukan dilihat dari geografi dan lokasi, tapi sebuah komunitas adalah tempat di mana kita mendapatkan informasi dan nilai-nilai yang kita miliki. Contoh, Saudara bisa berkumpul di sebuah tempat dan lingkungan yang mungkin, Saudara tidak merasa dekat dengan mereka sebagai sebuah komunitas. Sebaliknya, malah Saudara bisa merasa lebih hangat dan erat dengan orang-orang yang ada di chat group Saudara atau di hape Saudara.

Karena apa? Saudara mempunyai nilai-nilai yang sama. Banyak teman-teman yang sudah pindah ke kota lain, tapi tetap mengganggap JPCC sebagai komunitas mereka, kenapa? Karena itulah yang menjadi sumber informasi dan nilai mereka. Jadi meskipun kita berada di sebuah lokasi bersama dengan orang banyak, belum tentu Saudara menganggap mereka sebagai komunitasmu. 

Opening Verse – Aku tidak meminta supaya Engkau— Tuhan— mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari si jahat. Mereka tidak berasal dari dunia, — lokasi— sama seperti Aku tidak berasal dari dunia. Sucikanlah mereka dalam kebenaran. Firman-Mu adalah kebenaran. Aku mengutus mereka ke dalam dunia, seperti Engkau mengutus Aku ke dalam dunia Yohanes 17:15-18 (TB)

See, kita ada dalam dunia— sebuah titik lokasi—tapi kita tidak berasal dari dunia— sumber nilai kita berasal dari surga. Itu sebabnya sangat penting bagi komunitas kita untuk selalu menyelaraskan pemikiran kita dengan fondasi kebenaran firman Tuhan, dan bukan sekadar berkumpul hanya sekadar untuk berkumpul saja. 

Supporting Verse – Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu— pemikiranmu, nilai hidupmu— sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.‘ Roma 12:2 (TB)

Berubah dalam pembaharuan pemikiranmu’ itu sangat terbantu dalam komunitas yang membuat kita bertumbuh dalam nilai-nilai dan informasi akan kebenaran firman Tuhan. Artinya, kalau kita sekadar berkumpul dan berkomunitas namun hidup kita tidak ada perubahan sama sekali, dalam perbuatan kita, pikiran dan tabiat kita, yah berarti kita cuman sekadar menjadi sebuah social club saja, bukan?

Kebenarannya memang sederhana: bahwa kita tertanam dan berakar dalam komunitas gereja yang kecil ini adalah supaya kita bisa mencontohkan Pribadi Yesus Kristus melalui kehidupan kita kepada komunitas yang lebih besar, yaitu masyarakat di dalam dunia di mana kita di tempatkan. Sebuah komunitas kecil, di mana kita mendapatkan nilai dan informasi kita, berdampak kepada komunitas besar, titik lokasi di mana kita berada.

Cukup sederhana bukan? Dan ini yang membawa saya kepada pemikiran saya yang berikutnya, bahwa komunitas orang percaya— secara keseluruhan,—memiliki sebuah tujuan yang agung, selain dari tujuan kehidupan pribadi kita sendiri. Selain dari kita mengetahui tujuan kehidupan kita secara pribadi—our personal purpose,—kita sebagai komunitas orang-orang yang mengikuti Kristuspun memiliki sebuah tujuan [kolektif]— a collective purpose.

Kita harus sadar, bahwa seorang individu, saya, memang dapat mempengaruhi orang lain, tetapi sendirian, saya tidak cukup mempunyai pengaruh untuk mengubah sebuah budaya. Hanya sebuah komunitas dengan jumlah yang besar yang dapat melakukan ini. Dalam sebuah komunitas Kristus yang sehat, yang penuh dengan kasih anugerah dan kebenaran, kita harus dapat menanamkan nilai-nilai Kerajaan Tuhan—yang kita sebut sebagai pemuridan dan discipleship ini—dan juga menularkannya ke lingkungan di sekeliling kita.

Ini yang disebut penginjilan (evangelism). Sederhananya adalah ini: kita—individu—tertanam dan berakar di tanah yang subur—komunitas Kristus—dan berbuah di masyarakat di sekeliling kita, di dunia kita.

Kata kuncinya adalah ‘sekeliling kita’. Sebab itulah tujuan sebenarnya! Tujuan dari mengapa kita mempunyai kelompok-kelompok kecil di JPCC—yang bernama DATE—yaitu untuk kita bisa saling belajar dan saling memuridkan satu dengan yang lain, untuk menjadi duta besar Kristus di dalam dunia kita sehari-hari. Dari komunitas orang-orang percaya, kita menularkan nilai-nilai kerajaan Tuhan dalam komunitas dunia. Sebab suka atau tidak, kita adalah bagian dari sebuah komunitas masyarakat yang lebih besar daripada sekadar komunitas gereja kita.

Betul bukan? Tujuan akhir dari kehidupan berkomunitas kita dalam gereja bukanlah sekadar untuk keuntungan diri kita sendiri, namun agar kita— Saudara dan saya, dan bukan sekadar para pastors dan hamba-hamba Tuhan saja, tapi agar kita semua menjadi perwakilan Kristus di dunia kita ini. Untuk apa? Untuk mengasihi mereka yang ada di luar lingkup gereja, menjadi contoh bagi sekeliling kita dalam kasih dan kebenaran dan menuntun orang-orang di sekeliling kita agar mereka bisa mengenal dan mengikuti Kristus.

Dengan adanya komunitas Kristus yang sehat, kita bisa lakukan ini dengan jauh lebih hebat. Seperti yang dikatakan oleh Helen Keller:  “Alone we can do so little; together we can do so much.”“Sendiri kita bisa melakukan begitu sedikit;namun bersama-sama kita bisa melakukan banyak hal.” Dalam konteks komunitas kita, kepercayaan kepada Yesus sebagai Tuhan dan Mesiaslah yang menyatukan kita semua dan memberikan identitas bersama.

Keyakinan kita inilah yang menciptakan sebuah komunitas; mengubah kita dari kumpulan individu dari berbagai suku, keluarga dan latar belakang, dengan perbedaan status sosial, jenis kelamin dan usia, menjadi kita satu tubuh dengan identitas Ilahi, dengan komitmen dan tujuan yang sama. Nah, “Tujuannya apa?” Saudara bertanya. Izinkan saya membacakan ‘Amanat Agung’ (The Great Commision) yang diberikan kepada kita semua sebagai tubuh Kristus.

Supporting Verse – ‘Lalu Yesus mendekati kami dan berkata, “Allah sudah memberikan segala kuasa kepada-Ku untuk memerintah semua ciptaan-Nya—baik yang ada di surga, maupun yang ada di bumi. Karena itu, — perhatikan—pergilah dan ajarlah orang-orang dari setiap suku-bangsa supaya mereka menjadi murid-Ku. Baptislah mereka sebagai orang yang mengikut Aku, Bapa-Ku, dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka supaya taat kepada semua yang sudah Ku-ajarkan kepada kalian. Dan yakinlah: — I love this— Roh-Ku akan selalu menyertai setiap kalian sampai akhir dunia.”’Matius 28:18-20 (TSI)

Ini dia, Amanat Agung bagi kita semua. Yesus, yang adalah sumber kasih anugerah dan kebenaran, diutus oleh Bapa di Surga untuk datang ke dunia, untuk menaklukkan kerajaan si Iblis, dengan mati di kayu salib dan bangkit kembali. Dan dengan demikian, Ia mematahkan belenggu dosa bagi seluruh umat manusia—yaitu Saudara dan saya—yang sekarang kita sudah tidak lagi hidup dalam kutuk dosa, karena kita telah menerima Dia sebagai Juru selamat kita. Tapi, tidak berakhir di sini! Setelah kita menerima anugerah pengampunan dan kehidupan kekal ini, kita pun diberikan tugas oleh Dia.

Kita pun diutus oleh Tuhan untuk “Great Comission”; co-mission (co=bersama, mission=misi), misi yang kita lakukan bersama-sama, nangkap ya? Untuk apa? Untuk mendamaikan kembali dunia yang sudah jatuh dalam dosa kembali kepada Bapa. Nah, kata ‘pergilah dan ajarlah orang-orang dari setiap suku bangsa’ di sini seringkali membuat orang-orang berpikir bahwa“Wah, kita harus menjadi ‘misionaris’ dan pergi ke pelosok-pelosok, tempat-tempat terpencil yang belum ada gereja dan lain sebagainya.” Sehingga banyak orang Kristen menjadi kecil hati karena mereka berpikir bahwa “Oh, untuk mengerjakan Amanat Agung ini, artinya harus meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke pelosok-pelosok terpencil.

Namun kita lupa, bahwa selain ada the Great Commission, kita tetap memiliki the Great Commandment; bahwa misi terbesar kita adalah orang-orang di sekeliling kita. Firman Tuhan mengatakan begini:[

Supporting Verse – Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22:37-39 (TB)

Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesama; love your neighbor. Tidak semua dari kita perlu untuk pergi ke daerah-daerah terpencil untuk melakukan Amanat Agung. Nah, jika Saudara terpanggil menjadi missionaris, praise God! Namun kita, Saudara dan saya, bisa memulai Amanat Agung kita dengan mencerminkan anugerah dan kasih Tuhan kepada orang-orang terdekat kita, our neighbor.

Teman kos-mu yang ada di sebelah kamarmu.Opa, oma dan saudara yang ada di rumahmu, teman main basketmu, teman-teman alumni universitasmu yang ada di chat group di WhatsApp, and the list goes on and on. Pastor John Stott mengatakannya begini: “Amanat Agung tidak menjelaskan atau menggantikan Perintah Agung (Great Commandment). Apa yang dilakukannya adalah menambahkan persyaratan untuk mengasihi sesama kita dan melayani sesama manusia. Jika kita benar-benar mengasihi sesama kita, kita pasti akan membagikan kabar baik tentang Yesus kepadanya.”That’s the goal!

Artinya, kita hidup berkomunitas bersama, bersekutu bersama (koinonia),bukan untuk kita sekadar bersenang-senang dan bertumbuh bersama dengan orang-orang percaya saja, tapi tugas kita adalah untuk menghidupi ajaran Yesus dan hidup kita ini mencerminkan semua nilai-nilai dari apa yang Yesus sudah lakukan dan ajarkan selama pelayanan-Nya di bumi ini. Artinya dengan kita sungguh-sungguh mengasihi orang-orang yang berada di luar komunitas gereja kita di dalam grace and truth, itu adalah sebuah demonstrasi nyata dalam mengabarkan Injil.

Kata-kata ‘ajarlah orang-orang dari setiap suku-bangsa supaya mereka menjadi murid-Ku’ seringkali diartikan bahwa kita harus pintar, menjadi guru (teachers) dan pintar berkhotbah dan membagikan sekadar informasi tentang Yesus saja. Saya ingat di era tahun 90-an, kita di gereja, sering diminta untuk membagikan traktat; buku-buku kecil, informasi tentang Yesus. Membagikannya di jalanan sebagai metode penginjilan, karena banyak yang mengartikan bahwa mengajar dalam pemuridan itu, sekadar membagikan informasi atau satu arah saja.

Namun kita seharusnya melihat, tujuan pemuridan itu lebih dari sekadar ‘men-transfer’ informasi. Bahwa tujuan kita seharusnya adalah untuk mengembangkan hati orang-orang bagi Tuhan; agar orang-orang di sekeliling kita, mengenal-Nya dan mengasihi-Nya. Bagaimana caranya, Saudara bertanya? Dengan menjadi contoh bagi orang lain,akan kehidupan yang mengenal dan mengasihi Tuhan.

Bukan sekadar mengutip ayat-ayat yang sudah kita hafalkan, tapi dengan menghidupi firman Tuhan tersebut. William Arthur Ward mengatakan begini: “Seorang guru yang biasa-biasa saja sekadar memberi tahu.Seorang guru yang baik menjelaskan. Seorang guru yang unggul menunjukkan. Namun seorang guru yang hebat menginspirasi, memberikan contoh.”

I often say this kepada tim kita di JPCC Worship: “Never underestimate the power of our example.” Jangan pernah meremehkan kuasa dari contoh yang kita tunjukkan. Seringkali yang saya temukan adalah banyak orang-orang Kristen yang sibuk menghakimi satu dengan yang lain. Mengutip ayat-ayat, tanpa mereka menjadi contoh anugerah yang Yesus sudah berikan dalam hidup mereka.

Almarhum Billy Graham mengatakan ini, bahwa “Kita adalah Alkitab yang sedang dibaca dunia; kita adalah pernyataan iman yang dibutuhkan dunia; dan kita adalah khotbah yang sedang diperhatikan dunia.” So powerful! Kita, adalah injil yang sedang dibaca oleh lingkungan di sekeliling kita. Think about that! Bukan sekadar mempunyai gelar penginjil atau evangelis, tapi kita menghidupi Injil dalam hidup kita sehari-hari, saat kita berinteraksi dengan masyarakat.

Dan jujur, itu jauh lebih sulit dari sekadar menggelar KKR di mana-mana, karena artinya kita harus menghidupi nilai-nilai Kerajaan Tuhan selama 24 jam kepada setiap orang yang [dengan mereka] kita berinteraksi. Amanat atau Perintah Agung, untuk menjadi contoh dan memuridkan lingkungan di sekeliling kita itu berasal dari Raja kita. Artinya perintah dan amanat ini bukan sebuah pilihan; perintah ini berlaku untuk semua yang hidup dalam kerajaan-Nya; and that’s you and me.

Bukan sekadar untuk hamba Tuhan, pendeta atau full-time staff dalam gereja saja. Dr. Michael Goheen, seorang profesor bidang misiologi, mengatakan begini: “Amanat Agung bukanlah tugasyang diberikan kepada seorang individu yang terisolasi; namun adalah sebuah identitas yang diberikan kepada sebuah komunitas.”It is an identity given to a community. So, apakah identitas komunitas kita?

Supporting Verse – “Tetapi kalian akan mendapat kuasa, kalau Roh Allah sudah datang kepadamu. Dan kalian— perhatikan ini—akan menjadi saksi-saksi untuk-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1:8 (BIMK)

Apakah kita sudah menjadi saksi, menjadi contoh, menjadi cermin akan kebaikan dan anugerah Tuhan dalam setiap titik lokasi dan lingkungan di mana kita ditempatkan?Atau kita hanya sekadar menjadi a fancy Christian social club? Saudara mungkin berkata begini, “Tapi boleh dong, Pastor,  kita ngumpul-ngumpul naik sepeda, makan bakmi bareng, bikin komunitas fotografi, komunitas crypto, NFT club, dan lain sebagainya?”

Yah, of course, boleh banget! Karena common interest itu menjadi sebuah lem, sebuah glue yang sangat kuat, dalam membangun hubungan dalam komunitas. Tapi, jangan berhenti di situ saja, kan? Pertanyaan yang sederhana buat kita dalam pertanyaan ini, adalah ini, “Apakah dengan saya berada di dalam komunitas Kristus ini, membuat saya lebih menjadi contoh dan saksi bagi lingkungan dunia, agar saya bisa– agar mereka bisa mengenal Kristus?” Apakah dengan saya berkomunitas, bertumbuh dan berakar, sesudah dimuridkan dan belajar banyak hal ini, membuat saya menjadi cermin akan kebaikan Tuhan Yesus bagi masyarakat yang belum mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Raja?”

Jangan salah mengartikan perkataan saya ini ya! Saya bukan sedang berbicara tentang ‘meng-Kristenisasi’ lingkungan kita, tapi saya berbicara tentang sebuah kehidupan berkomunitas yang benar-benar berbuah dan terang ,yang membuat orang-orang di sekeliling kita sadar bahwa kita adalah pengikut-pengikut Kristus, dan membuat mereka melihat kebaikan dan anugerah Tuhan melalui hidup kita.

Saya ingat kejadian saya lagi mengobrol dengan teman-teman saya dan ada yang menyebut nama seseorang kenalan mereka yang baru saja mereka ketemu di gereja Dan teman saya satu lagi menyeletuk, ”Wah, ternyata dia orang Kristen juga yah? Saya baru tahu, nih! Kok kalo di kantornya dia enggak kayak gitu ya? Enggak kaya gaya orang Kristen yah?” Mungkin Saudara juga pernah mengalami hal yang sama. Maksudnya, enggak lucu, kan, jika kita berkomunitas dengan pengikut Kristus, namun ternyata orang-orang di lingkungan kita tidak melihat Kristus dalam kehidupan kita.

I mean, kalo sampai ada yang berkata,“Oh, si Sidney Mohede itu ternyata orang Kristen, yah? Ya ampun, baru tau lho!”, saya bisa menangis darah! Bulan ini kita belajar pentingnya kita semua berkomunitas dengan benar, dimuridkan dengan benar dalam anugerah dan kebenaran. Tapi sekarang, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri,setelah kita sadar dan melakukan semua ini, apakah hidup kita sudah menjadi saksi bagi orang-orang di luar komunitas kita, dan bisa membuat mereka melihat kebaikan dan kemurahan Tuhan melalui kehidupan Saudara dan saya?

Supporting Verse – Hidup orang Kristen”. Dikatakan begini: Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.Ayat delapan, Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara,— perhatikan ini—baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin. 1 Petrus 4:7-11 (TB)

Cara termudah dan tercepat bagi kita untuk mulai berpartisipasi dalam mengerjakan Amanat Agung ini adalah dengan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan orang-orang terdekat kita, baik dekat dalam jarak maupun dalam relasi. Dan itu dimulai dengan kita mengasihi sungguh-sungguh seorang akan yang lain. Dimulai dengan melayani orang-orang di sekeliling kita; to really serve the needs of the people. Kita, Saudara dan saya, memiliki kesempatan luar biasa setiap hari untuk membangun reputasi, karakter dan integritas yang kuat, di mata masyarakat sekitar kita, sesuai dengan karakter dan nilai Kristus, sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

Dan ini sangat bisa berlaku juga dalam perilaku kita di dunia maya, dalam interaksi kita di social media dan chat groups bahkan. Karena dari situlah kita bisa membangun hubungan yang mendalam dengan orang-orang dalam lingkungan dunia kita. Dalam Matius, dikatakan bahwa kita adalah garam dan terang ‘dunia’ (the big community) dan melalui reputasi kita, kita dapat membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Supporting Verse – Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:14-16 (TB)

Jadi, bangunlah hubungan yang baik dalam lingkungan besarmu, dalam dunia Saudara, in our sphere of influence (dalam lingkup pengaruh kita), di manapun kita berada dan jadilah terang di situ. Kata kuncinya adalah ‘supaya terangmu bercahaya bagi semua orang’. Artinya, bukan kita yang mengikuti tabiat atau kebiasaan orang-orang dalam lingkup besarmu, tapi malah sebaliknya, keberadaan kita yang bisa mengubah dan menerangi jalan mereka yang gelap. And I hope you’re getting this, friends!

Nah, pasti ada yang bertanya begini, “Pastor, bagaimana saya bisa tahu kalau lingkungan itu tidak lagi baik untuk saya?” Well, ingat apa yang saya katakan di awal khotbah saya: Bahwa sebuah komunitas bukanlah sekadar tentang titik lokasi kita, namun tentang sumber informasi dan nilai kita. Dan jawaban saya untuk pertanyaan tadi adalah ini: bahwa saya akan keluar dari lingkungan tersebut ketika saya menyadari bahwa titik lokasi saya telah menjadi sumber informasi saya. Ketika saya menyadari bahwa lingkungan saya mulai mengubah cara saya berpikir [menyimpang] dari kebenaran Firman Tuhan, itulah saatnya saya akan menjauh.

Saya berada, saat ini, berada dalam banyak WhatsApp group di luar dari grup komunitas JPCC. Saya yakin, sama seperti banyak dari Saudara, yang mempunyai banyak pergaulandan ruang lingkup di luar komunitas gereja saja, betul? Nah, karena dalam musim ini saya lagi banyak melukis dan menggambar—terutama dalam NFT (Non Fungible Token) Marketplace—saya diajak bergabung oleh teman-teman dalam banyak sekali WhatsApp group. Dari group Cryptocurrency, NFT Art groups,bahkan saya diundang masuk di beberapa Art Community di Indonesia, dalam Discord—Yes! I’m on Discord; Pastor di Discord.

Karena itu, saya berinteraksi dan berteman dengan banyak sekali orang-orang yang luar biasa yang bukan dari komunitas gereja, dalam grup-grup tersebut. Dan ini yang terjadi, beberapa kali saya di-private message, saya di-japri dan di DM (direct message)oleh orang-orang yang saya kenalan dalam grup tersebut. Ada yang businessman, ada yang seniman, ada yang politikus dan lain sebagainya, dan mereka bukanlah orang-orang gereja dan tidak kenal saya sama sekali. Dan dalam private message mereka, mereka berkata kira-kira begini,‘ Hey man, I like you! Ada sesuatu yang berbeda setiap kamu ngomong di grup. Please, tell me more about yourself!”

Bahkan ada yang mengajak saya ketemuan untuk bisa berkolaborasi bersama dan lain sebagainya, tanpa saya sebut bahwa saya adalah seorang pastor. Dan waktu saya bercerita bahwa saya adalah seorang pendeta, banyak dari mereka yang terkejut, dan mereka bilang bahwa saya–saya ini satu-satunya pastor atau pendeta yang pernah mereka jumpai dan kenalan dalam lingkungan mereka.

Dan mereka berkata, “Wah pantasan! Aura kamu beda banget yah!’—“aura”, “aura”.Dan mereka sangat senang bisa mengobrol dan bertukar pikiran dengan saya tentang kehidupan, tentang pernikahan, kreativitas dan lain sebagainya. See, melalui teladan hidup kita, yang kita jalani bagi Kristus Yesus, kita— Saudara dan saya—dapat menunjukkan nilai kebenaran Firman Tuhan yang dapat mengubah kehidupan orang-orang di sekeliling kita.

Bukan sekadar dalam lingkup komunitas gereja kita saja, tetapi terlebih pula bagi dunia di sekeliling kita. Firman Tuhan tadi mengatakan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. Berbuat baik—bukan untuk menghakimi, bukan untuk berdebat, bukan untuk merendahkan orang lain atau komunitas lain, tetapi, berbuat kebaikan untuk orang lain.

Menjadi orang yang sopan santun yang selalu siap untuk membangun, menolong dan mendorong orang lain, menghibur sesama kita pada saat mereka sedang terluka. Intinya, menjadi sama seperti Kristus di dalam lingkup dunia kita sehari-hari. Kita yang sudah menerima anugerah, menerima anugerah dari Tuhan kita ,harus selalu siap untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberikan anugerah dan pengampunan bagi orang lain. Terutama bagi orang-orang yang menyakitkan kita.

And this, ini, yang akan membuat dunia kita tercengang dan membuat mereka melihat Kristus di dalam kita. To be a generation of stars— yang selalu menjadi misi dari JPCC—supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak berceladi tengah-tengah generasi yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia sambil berpegang pada firman kehidupan.

Dan ini, berlaku juga dalam kita berinteraksi secara online, dalam social media kita atau mungkin di grup WhatsApp kantor Saudara. Di manapun di dalam dunia Saudara ditempatkan, bersinarlah terang! Supaya mereka melihat perbuatanmu yang baikdan memuliakan Bapamu yang ada di sorga. Ada kalimat sederhana— yang saya mau tutup dengan ini. Ada kalimat sederhana yang selalu saya coba terapkan dalam kehidupan saya selama ini dalam apa pun yang saya perbuat.

Kalimatnya seperti ini: “Saya mau hidup sedemikian rupa, sehingga mereka yang mengenal saya tetapi tidak mengenal Yesus, akan mengenal Yesus karena mereka mengenal saya.” Let me– let me repeat this: “Saya mau hidup sedemikian rupa, sehingga mereka yang mengenal saya tetapi tidak mengenal Yesus, akan mengenal Yesus karena mereka mengenal saya.” Bisakah kita melakukan itu, Saudara?

Secara individu kita diselamatkan oleh anugerah Tuhan Yesus yang mati di kayu salib untuk kita. Dan kita bisa berkumpul bersama dalam satu komunitas orang-orang percaya; di sinilah kita tertanam, berakar,saling mengasihi, saling menolong, saling mendorong dan menguatkan di dalam anugerah dan kebenaran akan Firman Tuhan. Kita bersama-sama memuji dan menyembah Tuhan kita yang ajaib, tetapi, jangan berhenti di sini!

Karena dari komunitas inilah kita bisa terus berbuah pada musimnya. Dan buah tidak dinikmati oleh pohonnya, namun dinikmati oleh lingkungannya. Marilah kita menghidupi Injil dalam keseharian kita di dalam masyarakat. Marilah kita terus berupaya untuk membawa perubahan dan dampak positif dalam lingkungan dan bangsa kita.

Dimulai dari empathy dan compassion kita. Dimulai dari anugerah dan pengampunan kita untuk sesama.Dimulai dari kemauan kita untuk menolong orang lain. Dimulai dengan sungguh-sungguh mengasihi seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. If and when we do this church, saya sangat yakin, kita bisa melihat ‘titik lokasi’ di mana kita berada, diubahkan, dan nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Because we are planted to love God and to love one another.

P.S : Hi Friends! I need a favor in terms of a freelancing job opportunity, please do let me know if any of you know a freelance opportunity for a copywriter (content, social media, press release, company profile, etc). My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com, Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!