JPCC Online Service (26 February 2023)
Saudara siap, menerima firman Tuhan? Hari ini saya beri judul khotbah saya “Set Your Priorities Right” (“Tetapkan Prioritas dengan Benar”). Kita akan mulai dengan Matius 6:25 tetapi sebelum saya membacakannya, Saudara perlu tahu bahwa Tuhan bekerja dari dalam keluar.
Beberapa minggu yang lalu saya sudah sampaikan kepada Saudara semua bahwa menurut Alkitab, kita semua telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: “for all have sinned and fall short of God’s glorious standard.”
Jadi, karena kita berdosa, kita gagal mencapai standar Tuhan, gagal mencapai mutu atau kualitas Tuhan dalam kehidupan kita. Karena itulah pada saat kita bertobat, pada saat kita menerima dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat hidup kita diperbarui, dosa kita dihapuskan, dan kita pun menjadi manusia baru.
Kita tersambung kembali dengan Tuhan, sehingga kita terekspos dengan standar Tuhan, kita terekspos dengan jalan-jalan Tuhan, dan kita tahu bahwa jalan Tuhan berbeda dengan jalan yang ditawarkan oleh dunia. Saudara mengerti yang saya maksud?
Tuhan punya jalan-Nya sendiri, yang berbeda dengan jalan yang sering kali ditempuh dunia ini. Tuhan punya standar-Nya sendiri, yang berbeda dengan standar yang ditawarkan dunia ini. Yesus berkata dalam Matius 6:25 (TB).
Opening Verse – Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Matius 6:25 (TB)
“Lebih penting”; ini menarik.Jangan sampai kita salah fokus, jangan sampai kita salah prioritas. “Hidup itu lebih penting,” Yesus bilang, “daripada makanan”.
Saudara bisa membeli makanan terenak, tetapi kalau hati Saudara amburadul, pikiran Saudara kacau, Saudara tak akan bisa menikmati makanan enak di hadapan Saudara. Betul atau tidak?
Saudara bisa punya koleksi baju yang luar biasa dan semuanya bermerek, tetapi kalau Saudara sakit dan dirawat di rumah sakit, paling banter Saudara akan memakai baju pasien rumah sakit, dan tidak bisa memakai semua baju yang Saudara beli. Makanya penting bagi kita untuk memprioritaskan hidup kita lebih dahulu supaya kita bisa makan enak, supaya kita bisa menikmati semua hal yang kita beli. Kita bisa berpakaian dengan baik karena kita punya tubuh yang sehat.
Jadi, jangan salah fokus! Jangan salah prioritas. Kemudian di ayat 31 dari pasal yang sama Yesus berkata:
Supporting Verse – Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu—perhatikan— dicari; garis bawahi kata ‘dicari’ atau soroti kata ‘dicari’— semuanya itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Artinya, dicari oleh orang-orang yang tidak mengenal Yesus, dicari oleh orang-orang yang hidup di dalam dosa. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu— ’semuanya itu’ maksudnya adalah semua hal yang dicari oleh orang-orang dunia yang tidak mengenal Allah—akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Matius 6:31-34 (TB)
Di sini Yesus memberi tahu bahwa kita harus berbeda dalam hal cara kita hidup dibandingkan dengan orang-orang yang tak mengenal Allah. Jangan tiru mereka! Saudara punya Tuhan. Saudara, Tuhan kita punya standar yang berbeda, yang lebih tinggi. Dia punya jalan yang berbeda dengan jalan yang ditawarkan dunia ini.
Kalau orang dunia ini mencari ketenaran, kekayaan, dan kekuasaan terlebih dahulu, jangan demikian dengan Saudara. Saudara tak perlu mencari semua itu, tetapi harus mencari lebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.
Bicara tentang Kerajaan Allah adalah bicara tentang Sang Raja dan ketetapan-ketetapannya. Karena kalau Saudara tinggal dalam sebuah kerajaan, ketetapan raja menjadi gaya hidup dan harus dilakukan oleh semua warga kerajaan. Betul atau tidak?
Jadi cari tahu dan kenalilah Raja kita, kenali semua yang menjadi nilai-nilai-Nya dan perintah-Nya, karena itu pula kita perlu membaca firman Tuhan. Pada saat kita membaca firman Tuhan kita bisa mengetahui bahwa Tuhan punya cara yang berbeda.
Kita jadi terekspos dengan standar dan kualitas Tuhan! Tuhan bilang, “Kamu tak perlu menjadi seperti orang-orang yang tak mengenal Allah. Biarkan saja mereka mencari semuanya itu. Tetapi kamu, jangan. Prioritaskanlah supaya Saudara mengenal Tuhan lebih dahulu. Kenali siapa Tuhan Saudara; perhatikan ketetapan-ketetapan-Nya dan lakukan; temukan kebenaran-Nya, dan Saudara akan lihat bahwa semua hal yang dicari oleh orang-orang yang tak mengenal Allah akan ditambahkan kepada Saudara.
Kalau belum ditambahkan, berarti Saudara belum sungguh-sungguh mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya Karena demikianlah janji-Nya; “Kalau engkau sungguh-sungguh, kalau engkau sungguh-sungguh mencari kerajaan Allah dan kebenarannya,maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.”
Kalau Saudara tanya, “Kenapa semuanya belum ditambahkan kepada saya, Pak?” Ya, karena Saudara belum sungguh-sungguh mencari kerajaan Allah dan kebenarannya. Jadi, pilihannya ada di tangan Saudara. Saudara mau hidup sesuai standar yang dunia berikan, yaitu dengan pergi keluar dan mencari “semuanya itu”, atau Saudara mau mengikuti kualitas dan standar yang Tuhan tawarkan, yang lebih tinggi, yaitu “semuanya itu” bisa ditambahkan kepada Saudara kalau Saudara mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dahulu.
Makanya saya pernah katakan bahwa Saudara tidak perlu mencari semua hal yang bisa datang sendiri. Kalau Saudara bertanya, ”Bagaimana, Pak, bisa datang sendiri?” Karena Saudara sudah berubah! Karena Saudara mengasah diri sendiri; karena Saudara sibuk mengisi dirimu sendiri. Karena Saudara mengenal Tuhan, Saudara mengenal ketetapan-ketetapan-Nya, Saudara mengenal jalan-jalan-Nya, maka cara berpikir Saudara pun akan berubah.
Pada saat cara berpikir Saudara berubah, maka kelakuan Saudara pun berubah. Pada saat kelakuan Saudara berubah, maka hasilnya pun akan berubah; tidak sama lagi. Saudara akan menjadi manusia yang berbeda. You need to be become before you can attract; Saudara harus terlebih dahulu menjadi pribadi yang bisa menarik berkat Tuhan.
Ada orang-orang yang sibuk keluar rumah untuk mencari pekerjaan, tapi ada orang-orang yang sibuk dicari-cari pekerjaan. Tidak lagi mencari pekerjaan, tapi malah dihubungi oleh banyak perusahaan multinasional, ditawarkan pekerjaan dan posisi.
Apa beda keduanya?
Kalau Saudara tahu perbedaannya, maka Saudara akan berbahagia. Atau contoh lainnya: Ada para artis yang sibuk cari pekerjaan tapi ada artis yang sibuk ditawari pekerjaan. Apa bedanya? Ada pula hamba Tuhan yang sibuk menawarkan dirinya ke sana kemari, “Jadwal pelayanan saya masih kosong. Belum diisi. Mau undang saya?” dan lain sebagainya.
Sebaliknya, ada hamba-hamba Tuhan yang walau diam saja, dicari-cari orang, diminta untuk berkhotbah di sana-sini, diminta untuk pelayananan di sana-sini. Apa yang membedakan mereka? Saudara mau menjadi yang mana? Kalau Saudara mau dicari-cari, kalau Saudara mau semuanya ditambahkan kepada Saudara, maka Saudara perlu mengembangkan diri sendiri.
Saudara harus berusaha mengeluarkan potensi dengan disiplin, dalam hidup Saudara, Saudara harus sibuk mengasah diri sendiri, Saudara harus menaikkan nilai diri sendiri, sehingga Saudara tidak sama dengan orang-orang yang lain. Saudara perlu menjadi seorang pribadi yang bisa menarik berkat.
Saya senang A.R. Bernard berkata seperti ini: “The spiritual renewal is always followed by economic revitalization.”
“Pembaruan spiritual selalu diikuti oleh revitalisasi ekonomi” Itulah akibat yang terjadi kalau Tuhan bekerja dalam kehidupan kita, dari dalam keluar, dan itu pula yang perlu menjadi fokus Saudara.
Sama seperti—karena kita berbicara soal hubungan— sebelum Saudara menikah, seharusnya Saudara fokus untuk menjadi orang yang ‘single‘ lebih dahulu. Kalau bicara soal kata single, ada dua pengertian: dunia mengartikan ‘single’ sebagai orang yang tidak atau belum menikah.
Padahal seharusnya arti kata ‘single’ adalah utuh, tunggal, dan penuh. Itulah arti ‘single’ sebenarnya. Kita seharusnya menjadi pribadi yang utuh lebih dahulu sebelum kita menikah.
Kenapa semua diam?
Kalau Saudara utuh, Saudara tidak perlu orang lain untuk membuat Saudara komplit. Saudara sudah utuh dan bisa berfungsi sendiri. Saudara harus mengerti diri Saudara sendiri. Bisa menjalani hidup Saudara sendiri.
Kalau begitu, apa gunanya menikah??
Tunggu sebentar! Kalau Saudara menikah dengan orang yang juga utuh, maka dua orang yang utuh bertemu dan menjadi sebuah sinergi. Pernikahan mereka akan menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Makanya dikatakan pernikahan merupakan sebuah pertemuan; yaitu pertemuan dua aliran aliran air menjadi lebih deras.
Sinergi yang—kalau saya pakai istilah menurut Alkitab—:”kalau satu orang bisa kalahkan seribu, dua orang bisa kalahkan sepuluh ribu”
Supporting Verse – Bagaimana mungkin satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang, kalau tidak gunung batu mereka telah menjual mereka, dan TUHAN telah menyerahkan mereka! Ulangan 32:30 (TB)
Ketika mereka bersinergi, kekuatannya jauh lebih besar. Sama seperti ketika orang bermain bulutangkis atau tenis. Pemain single artinya pemain tunggal. Dia tidak butuh orang lain, bisa menjaga seluruh lapangan sendirian. Makanya dia disebut pemain tunggal. Kalau bermain berdua, bisa tidak? Bisa! Lebih gampang buatnya.
Namun, apakah dia perlu orang lain untuk menjaga seluruh lapangannya? Tidak perlu. Dia sendirian bisa.Namun, kalau bermain ganda, jadi lebih ringan buatnya. Bisa mengerti yang saya maksud? Kita harus menjadi pribadi yang utuh.
Menjadi pribadi yang utuh, seharusnya merupakan tujuan semua orang. Sebelum kita menikah seharusnya kita menjadi pribadi yang utuh lebih dahulu, sehingga kita bisa saling menolong, membentuk sebuah interdependensi dalam pernikahan kita. Menjadi sebuah rekanan yang sepadan dalam pernikahan.
Supporting Verse – Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” Ulangan 30:19-20 (TB)
Saya mau pakai ayat ini dalam konteks pernikahan. Tuhan di ayat ini sedang berbicara kepada bangsa Israel. Agak aneh sebetulnya pertanyaan yang Tuhan lemparkan. Kenapa agak aneh?
Karena jawabannya jelas; seolah-olah sebetulnya tak perlu ditanyakan. Coba bayangkan, Tuhan berkata begini: “Kepadamu Kuperhadapkan pada hari ini kehidupan dan kematian.”
Sepertinya tidak perlu dipertanyakan, bukan? Kita semua sudah tahu jawabannya. Tidak ada seorang pun yang akan pilih kematian. “Kepadamu Kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk.” Tidak perlu dipertanyakan, sebetulnya, karena semua orang pasti akan memilih kehidupan dan berkat.
Sampai ada semacam “contekan” dari Tuhan, ”Pilihlah kehidupan,” seolah-olah bakal ada yang memilih kematian. Tidak perlu sebenarnya menanyakan hal seperti ini, betul atau tidak?
Namun, karena Tuhan yang bertanya, pasti ini penting! Tidak mungkin tidak penting, karena Dia yang bertanya! Kita perlu tahu bahwa jalan Tuhan berbeda dengan jalan kita. Memang kita semua mau memilih “kehidupan” sehingga bisa diberkati dalam pernikahan kita. Namun, jalan menuju kepada kehidupan belum tentu sama dengan jalan Tuhan.
Supporting Verse – Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. 1 Korintus 15:36 TB
Jadi, jalannya menuju kehidupan harus melewati apa? Kematian. Kita semua mau memilih kehidupan, tapi kalau kita tidak mau mati terhadap keingingan diri sendiri, maka pernikahan kita tidak akan mengalami kehidupan, dan kita tidak akan mengalami berkat Tuhan; itu maksud ayat tadi.
Siapa di sini yang sudah menikah? Angkat tangan kalau sudah menikah. Saudara mau pernikahan Saudara hidup dan terima berkat? Saya mau beritahu: Jalan menuju kepada kehidupan, jalan menuju kepada berkat Tuhan, adalah berani mati terhadap keinginan diri sendiri.
Kalau Saudara mau menang sendiri, tidak mau mengalah, harus kehendak Saudara yang terjadi, harus keinginan Saudara yang diikuti, “Tidak bisa! Pokoknya harus seperti ini!”, mengatur makan harus seperti ini, mengatur meja harus seperti itu. “Pokoknya tidak bisa! Di rumah ini peraturannya harus seperti ini!”
Tak ada yang mau mengalah sama sekali. Tak ada yang mau mengampuni. Tak ada yang mau duluan mempersilakan. Semua mau menang sendiri. Itu semua bukan jalan menuju kehidupan. Namun, kalau Saudara berani mengalahkan kepentingan diri sendiri, berani mendahulukan kepentingan pasangan Saudara— istri atau suami Saudara—Saudara saling mendahului dalam mengampuni, Saudara saling mendahului dalam melayani, maka Saudara akan berjalan menuju kepada kehidupan.
Meskipun sangat capek, tapi Saudara rela berkorban supaya istri Saudara senang. Tetap melakukan yang dia minta; meskipun capek, Saudara tetap melakukannya, maka itulah jalan menuju kehidupan.
Namun, kalau Saudara bilang, ”Enak saja! Saya juga capek!” Ya sudah. Makanya Tuhan berkata, ”Pilihlah kehidupan.” Namun, jalan menuju kehidupan adalah berani mati terhadap keinginan diri sendiri. Pernikahan itu sebetulnya tempat di mana kita belajar mati, terhadap keinginan diri sendiri.
Karena itu, penting untuk Saudara dengar sebelum Saudara menikah. Puji Tuhan kalau Saudara belum menikah, sudah mendengar ini dahulu. Sekarang, mumpung masih belum menikah cobalah menjadi pribadi yang utuh lebih dahulu. Belajarlah untuk mengalah, sekarang.
Kalau Saudara dalam masa pacaran, belajarlah sekarang untuk mengalah. Belajar untuk menyenangkan pasangan, meskipun Saudara harus berkorban. Belajar untuk memaafkan lebih dahulu, tanpa diminta. Pada saat Saudara menikah nanti, ketahuilah, ketika Saudara berjalan di altar, itu artinya Saudara sudah siap untuk mempraktikkan pengetahuan bahwa kalalu Saudara mau memilih kehidupan, Saudara harus berani mati terhadap keinginan diri sendiri. Saya jamin, pernikahan Saudara akan bisa Saudara nikmati.
Tak cuma sekadar bertahan, tapi Saudara bisa menikmati pernikahan Saudara. Kenapa banyak orang yang sekadar bertahan dalam pernikahannya, tanpa bisa menikmati?Karena tidak ada yang mau mengalah, keduanya mau menang sendiri. Mereka lupa bahwa mereka satu tim; dua orang sudah menjadi satu.
Jadi, Saudara yang belum menikah pun perlu mendengar berita ini, dan perlu melatih diri Saudara dari sekarang. Ada empat hal yang kita mau perkenalkan hari ini yang disebut dengan: “The Four Core Habits” (“Empat Kebiasaan Terpenting”), yang perlu kita kembangkan supaya kita bisa menikmati pernikahan kita.
Tanggal 7 Februari lalu saya dan istri merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke-25. Saya mau bersaksi bahwa kami bukan cuma sekadar bertahan dalam pernikahan. Kami menikmati pernikahan kami! Sedemikian rupa sehingga tidak terasa sudah 25 tahun.Waktu cepat berlalu saat kita bersenang-senang.
Kebiasaan yang pertama: ”Love God”, berusahalah untuk mencintai Tuhan.
Kenapa ini menjadi terutama?
Supporting Verse – Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:34-40 (TB)
Jadi urutannya jangan sampai terbalik! Cintailah Allah terlebih dahulu. Kenalilah Tuhan lebih dahulu. Sebab saat Saudara mengenal Tuhan, Saudara tahu bahwa Saudara diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan.
Jadi, semakin Saudara mengenal Tuhan semakin Saudara mengenal diri Saudara sendiri. Karena Saudara diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan. Pada saat Saudara mencintai Tuhan, Saudara pun menerima cinta Tuhan.
Setelah Saudara menerima cinta Tuhan, barulah Saudara bisa meneruskannya kepada orang lain. Sebab Saudara tidak bisa memberi sesuatu yang Saudara tidak punya.
Jadi urutan pertama adalah mencintai Tuhan lebih dahulu, mengenali Dia dan kehendak-Nya lebih dahulu, kemudian barulah Saudara bisa mengerti, siapa diri Saudara di mata Tuhan. Saudara bisa menerima cinta-Nya sehingga Saudara bisa mencintai orang lain. Itulah urutannya yang benar. Jadi yang paling penting cintai Tuhan agar bisa mencintai diri sendiri.
Yang kedua, mencintai dan menghormati.
Supporting Verse – Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya. Efesus 5:33 (TB)
Alkitab itu sangat detil. Alkitab tidak berkata, “Hai suami, hormatilah istrimu seperti dirimu sendiri, dan istri hendaklah mengasihi suaminya.” Tidak.
Alkitab tulis secara detail dan berkata, “Suami, kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.” Ada buku yang berjudul “Love and Respect” (Cinta dan Hormat) ditulis oleh Dr. Emerson Eggerichs, PhD.
Buku ini ditulis berdasarkan survei yang diambil tentang kebutuhan utama yang dirasakan oleh laki-laki dan kebutuhan utama yang dirasakan oleh seorang wanita, dalam sebuah pernikahan. Mereka ingin mencari tahu bahan dasar utama agar sebuah pernikahan bisa berhasil.
Survei ini bukan sembarangan, dilakukan oleh University of Washington, di Amerika Serikat. Dilakukan oleh Dr. John Gottman, survei ini berlangsung selama 20 tahun, terhadap 2.000 pasangan. Dokter John Gottman ingin mencari tahu bahan dasar terpenting baik untuk suami maupun untuk istri, agar pernikahan mereka bisa sukses.
Mereka keluar dengan kesimpulan: rasa cinta dan rasa hormat. Penjelasannya seperti ini: ”Ketika seorang istri merasa tidak dicintai, maka sulit bagi dia untuk bisa menghormati suaminya. Ketika seorang suami tidak merasa dihormati maka sulit bagi dia untuk bisa mencintai istrinya.
Tanpa cinta, istri akan meresponi tanpa hormat. Tanpa hormat, suami akan meresponi tanpa cinta. ”Kemudian mereka katakan, ”Seperti sebuah crazy/vicious cycle, atay lingkaran gila.”Lingkaran gila seperti gambar di sini, dikatakan: Tanpa cinta, istri akan meresponi tanpa hormat. Tanpa hormat, suami akan meresponi tanpa cinta.”

Kejadiannya akan terus-terusan begitu, seperti seseorang yang menutup botol. Tanpa cinta, istri meresponi tanpa hormat. Suami tidak menerima hormat, dia meresponi tanpa cinta. Jadi seperti botol yang terus diputar, menjadi tertutup; tidak ada kehidupan yang keluar dari pernikahan tersebut. Tidak ada berkat yang yang keluar dari pernikahan tersebut, Karena tidak ada yang mau mengalah, “Enak saja! Dia kan tidak menghormati saya. Kenapa saya mesti mencintai dia?” “Enak saja! Kan saya tidak dicintai, kenapa saya mesti menghormati?”
Yah, terus saja begitu tidak ada yang mau mengalah! Karena mau hidup terhadap keinginan sendiri, maka yang mereka pilih adalah kematian. Karena tidak ada yang mau mengalah. Jalan keluarnya adalah yang disebut dengan ‘rewarded cycle’ (siklus penghargaan).

Artinya, Saudara tetap mencintai meskipun tidak dihormati; jadi suami tetap mencintai meskipun tidak menerima hormat dari istrinya. Istri tetap menghormati meskipun tidak menerima cinta dari suaminya. Jadi bukan bilang, “Enak saja!” melainkan, “Tidak! Saya tetap akan mencintai istri saya, meskipun dia tidak menghormati saya!”Istri mengambil keputusan, ”Tidak! Saya tetap akan menghormati suami saya meskipun saya tidak merasakan cinta dari dia.”
Nah, pada saat itu apa yang terjadi?
Saudara mulai memutar arahnya terbalik! Mulai terbuka! Kalau Saudara buka botol ini, mungkin enggak satu kali putar Saudara langsung kebuka, mungkin butuh 2 atau 3 kali baru terbuka. Mungkin enggak sekali engkau melakukan langsung suamimu berubah, atau enggak sekali engkau melakukan langsung istrimu berubah.
Tetapi kalau kalau engkau melakukannya berkali-kali suatu kali engkau akan kaget bahwa pernikahanmu mulai hidup lagi, berkat Tuhan mulai mengalir kembali. Itu kalau engkau pilih kehidupan: jalannya adalah berani mati terhadap keinginan diri sendiri.
Dan ternyata, research ini mengkonfirmasi apa yang ditulis sama Rasul Paulus dalam Efesus 5:33. Padahal research ini tidak dilakukan untuk untuk itu; ini bukan reset rohani! Ini riset yang dilakukan oleh sebuah university terkenal di Amerika. Tapi mereka menemukan ternyata Rasul Paulus sudah menuliskan secara spesifik:“Hai suami, kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan hai istri, hendaklah menghormati suaminya.”
Kemudian mereka berikan pertanyaan yang perlu diingat. Pertama, untuk suami dia katakan begini:“Apakah istri saya tidak hormat karena dia tidak merasa dicintai?”
Jadi kalau istri tidak hormat kepada engkau, suami, cek dirimu sendiri!“Apakah dia tidak mencintai tidak menghormati karena dia tidak merasa dicintai?”
Yang kedua, “Akankah apa yang saya katakan atau lakukan akan dilihat sebagai mencintai atau tidak mencintai oleh istri saya?”
So, daripada sibuk cari pendeta cari konselor pernikahan, mendingan ini ditanyakan pada diri sendiri. “Kenapa sih ya, istri saya enggak hormat sama saya? Apakah mungkin karena dia tidak merasa bahwa saya cinta sama dia? So work on yourself lebih dahulu.
Ini pertanyaan buat istri sekarang: “Apakah suami saya tidak mencintai karena dia tidak merasa dihormati?”Jadi tanyakan diri Saudara sendiri. Jangan cari pendeta atau konselor dulu. Kasihan pendetanya.Karena orang mau konseling, biasanya cuma mencari pembenaran; siapa yang paling benar, iya kan?
Orang mau konseling cuma mau cari tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Mereka lupa bahwa mereka satu tim. Yang ditunggu dari pendetanya malah:“Pemenangnya adalah….” Percuma! Kalau yang dimenangkan istri, suami tidak akan senang; keluar mencari pendeta lain, “Ini pendeta kurang diurapi Tuhan.” Dia akan mencari sampai dia dimenangkan!
Padahal sebenarnya sederhana! Pertanyaan kedua untuk para istri adalah: “Apakah perkataan atau perbuatan saya akan dilihat sebagai menghormati atau tidak, oleh suami saya?”
Makanya kita perlu saling jujur satu sama lain. Jujurlah, kalau Saudara tidak merasa dihormati, meskipun istri Saudara merasa sudah melakukan sesuatu yang dia pikir cukup menghormati Saudara, tapi Saudara bisa bilang, “Apa yang kamu lakukan dan katakan…sebetulnya bukan menghormati saya. Lebih baik kamu bicara seperti ini, atau lebih baik kamu lakukan seperti ini. Itu membuat saya lebih merasa dihormati.
”Kalau suami bisa bilang seperti itu, maka istri bisa mencatat baik-baik: “Oke, lain kali itu yang harus saya lakukan. Bukan keinginan saya sendiri, melainkan apa yang dia mau.” Demikian juga sebaliknya untuk suami kepada istri. Bisa mengerti yang saya maksud?
Yang ketiga adalah teruslah memenuhi janji Saudara.
Tahukah Saudara bahwa kepercayaan adalah dasar dari semua hubungan. Termasuk dalam hubungan bisnis, tanpa kepercayaan, tidak akan berjalan. Kepercayaan adalah dasar dari semua hubungan.
Namun, kepercayaan tidak bisa dibeli; kepercayaan harus didapatkan. Kepercayaan akan terbentuk semakin kuat kalau kita rajin menepati janji-janji kita. Kalau tidak bisa menepati, jangan berjanji. Kalau sudah keburu janji, tidak bisa menepati, beranilah meminta maaf, sebelum Saudara dipojokkan.
Rasa percayaa atau kepercayaanlah yang membuat cinta mudah ditemukan. Sulit untuk bisa menemukan cinta kalau tidak ada kepercayaan satu sama lain. Semakin besar kepercayaan maka Saudara semakin tenang.
Kenapa istri saya merasa tenang kalau saya pergi ke luar kota atau pergi pelayanan sendirian —meskipun jarang saya lakukan? Dia bisa tenang karena dia tahu suaminya bisa dipercaya. Semakin besar kepercayaan semakin tenang perasaannya.
Kenapa banyak suami dan istri tidak bisa tenang dalam hidup mereka? Karena tidak percaya kepada pasangannya. Kenapa tidak percaya? Karena kalau janji kecil saja tidak ditepati, bagaimana dengan janji yang besar?
Yang keempat: ambil waktu untuk bersenang-senang.
Bersenang-senanglah dengan pasangan Saudara. Kesenangan semasa jatuh cinta dengan cepat menghilang setelah menikah. Ayo, tadi yang angkat tangan dan sudah menikah, betul atau tidak?
Kesukaan dan kesenangan yang Saudara rasakan pada saat Saudara jatuh cinta, akan segera hilang pada saat Saudara menikah kalau tidak dipelihara dengan sengaja. Apalagi kalau setelah menikah Saudara sibuk mencari uang, kekuasaan, dan ketenaran.
Yang lebih menyedihkan lagi, saya sering lihat bahwa suami atau istri lebih menikmati menongkrong bersama teman-teman daripada pasangan hidupnya. Suami lebih senang menongkrong bersama teman-temannya daripada sama istrinya sendiri. Istri lebih senang menongkrong bersama teman-temannya daripada sama suaminya sendiri.
Tidak heran kalau pernikahan mereka tidak bisa menjadi baik, karena mereka tidak lagi bisa menemukan kesukaan bersama-sama. Makanya saya selalu bilang: “Tetaplah berpacaran meskipun sudah menikah.”
Jadi, pada saat Saudara menikah, jangan berhenti berpacaran; tetaplah berpacaran selama Saudara menikah. Ada juga pasangan suami istri yang lebih menikmati waktunya bersama anak-anak daripada sama pasangan hidupnya sendiri. Saya tidak bilang bahwa itu tidak boleh; tetapi jangan sampai Saudara mengorbankan pasangan hidup sendiri hanya karena anak-anak.
Keberadaan anak-anak bersama Saudara cuma bersifat sementara. Karena firman Tuhan berkata:
Supporting Verse – “Seorang laki-laki akan meninggalkan Ayah dan Ibunya.” Kejadian. 2:24 TB
Kata “meninggalkan” berarti sebagai orang tua, Saudara akan ditinggalkan. Betul kan? Saudara akan ditinggalkan. “Oh, kalau begitu saya akan mengikuti, Pak!” Tidak boleh! Karena mereka “akan meninggalkan ayah dan ibunya” berarti Saudara yang akan ditinggalkan,
Sebagai Ibu, Saudara akan ditinggalkan. Sebagai Ayah, Saudara akan ditinggalkan. Seperti anak-anak saya yang usianya sudah semakin dewasa. Saya harus siap-siap karena suatu hari nanti mereka akan meninggalkan saya. Kalau Saudara ditinggalkan, yang ada bersama Saudara cuma dia yang kepadanya kita janji untuk setia sampai mati.
Begitu kita ditinggalkan, kita jadi, “Wah, dia lagi, dia lagi! Jadi kalau kita tidak punya waktu untuk bersenang-senang bersama-sama, pada saat anak-anak kita meninggalkan kita, kita jadi kebingungan dengan pasangan hidup kita.
Kita tidak tahu bagaimana harus meresponi. Seolah-olah ada alien, di rumah. Kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Jadi mulailah mencari kesenangan bersama-sama.
Riset menyatakan bahwa pasangan yang berbahagia, merasa berbahagia karena mereka bisa bersenang-senang bersama-sama. Kita tahu, dalam setiap hubungan apalagi hubungan suami istri, pasti ada konflik.
Namun, jangan sampai konflik tersebut mengurangi keintiman satu sama lain. Sebagai penutup, saya mau katakan bahwa pernikahan kita adalah hadiah yang terbaik. Pernikahan kita, jika bisa menjadi pernikahan yang berhasil, sukses, dan sehat adalah hadiah yang terbaik yang kita bisa berikan kepada orang tua kita, adalah hadiah yang terbaik yang kita bisa berikan kepada anak dan cucu kita, adalah hadiah yang terbaik yang kita bisa berikan kepada teman-teman kita dan juga kepada komunitas kita.
Pikirkan baik-baik; Saudara mungkin bisa membelikan mertua Saudara rumah atau apartemen yang luar biasa mahal. Namun pertanyaan saya, bagaimana mereka bisa tidur dengan tenang di apartemen yang Saudara berikan, kalau mereka tahu bahwa anak mereka tidak diperlakukan dengan baik oleh suaminya, atau kalau anak mereka selalu berantem hebat dengan istrinya?
Bagaimana mereka bisa hidup tenang? Saudara bisa memberikan yang terbaik buat anak-anak Saudara, bahkan mungkin mengirim anak-anak Saudara ke sekolah yang terbaik di luar negeri. Namun bagaimana anak-anak bisa belajar dengan tenang, kalau kedua orang tuanya selalu ribut di rumah.
Hadiah yang terbaik yang Saudara bisa berikan kepada teman-teman dan lingkungan Saudara adalah pernikahan yang baik dan berhasil. Sebab kalau pernikahan Saudara tidak berhasil, sebagai teman baik, mana bisa mereka tenang, karena mereka juga kepikiran, “Aduh, kasihan sekali dia. Kasihan sekali. Dia itu, aduh, diusir oleh suaminya.” “Aduh, kasihan sekali! Istrinya selingkuh dengan orang lain!”
Mana bisa teman Saudara tenang. Jadi, hadiah yang terbaik yang Saudara bisa berikan kepada orang tua, anak cucu, teman-teman, dan lingkungan Saudara adalah pernikahan yang baik.
Hadiah yang saya bisa berikan kepada jemaat JPCC adalah pernikahan kami. Sebab, kalau terjadi sesuatu dengan pernikahan kami, Saudara bisa bayangkan apa yang terjadi. Jadi, tetapkanlah prioritas Saudara dengan tepat.
“The Four Core Habits” (“Empat Kebiasaan Terpenting”). Yang pertama dan ini menurut saya sesuai urutannya, karena kalau Saudara melakukan yang satu poin-poin berikutnya bisa jauh lebih baik. Kalau Saudara bisa mencintai Tuhan lebih dahulu,Saudara menjadi pribadi yang penuh, maka mudah buat Saudara untuk bisa mencintai pasangan Saudara. Mudah buat Saudara [para istri] untuk bisa menghormati suamimu, mudah buat Saudara—sebagai suami— untuk bisa mencintai istrimu, karena Saudara sudah lebih dahulu menerima kasih dari Tuhan.
Kalau Saudara bisa menghormati suami, kalau Saudara bisa mencintai istrinya, maka mudah buat Saudara untuk menepati janji, karena Saudara menganggap dia pribadi penting yang tidak bisa Saudara biarkan begitu saja; pribadi berharga yang setiap kali Saudara berjanji kepadanya, pasti akan Saudara penuhi, karena Saudara cinta dan hormat kepadanya.
Kalau Saudara punya kepercayaan satu sama lain, hubungan Saudara pun kuat dan akan mudah untuk bersenang-senang bersama. Itulah The Four Core Habits yang kita mau Saudara lakukan dalam pernikahan. Mari kita berikan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita. Tuhan Yesus memberkati Saudara.
P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes



