Disiplin atau Diselipin By Ps. Ary Wibowo

JPCC Online Service (12 Maret 2023)

Apa kabar saudara semua? Saudara dalam keadaan baik? Mari kita berikan apresiasi buat teman-teman yang sudah melayani disini. Terima kasih buat teman-teman, yang baik di atas panggung, ataupun mereka yang di bawah panggung, rekan yang terlihat ataupun yang tidak kelihatan, karena mereka semua melayani bukan supaya mereka tambah diberkati, tetapi mereka melayani karena Tuhan sudah mengasihi dan melayani mereka terlebih dahulu. Demikianlah kita hidup sebagai keluarga Allah.

Saudara siap belajar? Sepanjang bulan lalu kita telah belajar tentang 4 Core Habits. Ada empat kebiasaan yang harus kita bangun di dalam membangun hubungan dalam tema relationship bulan lalu. Dalam membangun hubungan tentu kebiasaan-kebiasaan tidak bisa muncul dengan sendirinya, kebiasaan-kebiasaan sampai bisa menjadi sebuah budaya di dalam kehidupan karena kita harus melatihnya dengan disiplin.

Siapa yang setuju dengan saya?

Tidak ada satupun di antara kita yang lahir dengan sebuah kebiasaan. Kita lahir dengan sebuah pola pikir dan dengan sebuah mindset, lalu kemudian pola pikir atau mindset itu menjelma ke dalam tindakan atau perilaku kita, dan perilaku yang diulang-ulang atau dilatih dengan disiplin ini akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan ketika kebiasaan itu kemudian diikuti oleh orang-orang di sekitar kita, maka itu menjadi sebuah budaya.

Pertanyaan saya kepada saudara semua, Apa budaya keluarga Allah? Kalau tadi kita percaya bahwa kita adalah keluarga Allah, Dia adalah Allah yang hidup.  Apa budaya keluarga Allah?

Budaya keluarga Allah adalah bicara tentang bagaimana kita tidak melepaskan diri dari latihan-latihan di dalam kehidupan kita, khususnya bagaimana kita berlatih atau mengembangkan/melatih kerohanian kita, karena itu di bulan ini seperti tadi sudah disampaikan di awal, kita akan belajar tentang spiritual training.

Katakan bersama dengan saya, spiritual training / latihan rohani.  Melatih kehidupan rohani saya akan mulai dengan sebuah premis seperti ini, saya percaya bahwa semua orang ingin hidup sehat.

Berapa banyak saudara yang ingin hidup sehat? Saya juga.

Dan hampir semua orang memahami yang percaya memahami bahwa di dalam kehidupan yang sehat terdapat kebiasaan-kebiasaan atau disiplin dalam kehidupan yang perlu dilatih, karena hidup sehat tidak muncul dengan sendirinya.

Saudara perlu melatih diri saudara untuk mengalami kesehatan. Setidaknya ada tiga disiplin yang harus dilakukan yaitu mengatur pola makan, itu yang pertama. 

Yang kedua,  adalah berolahraga secara teratur ada. Yang ketiga, istirahat yang cukup.  Perlu ditekankan bahwa istirahat yang cukup itu bukan mager ya, Bukan malas gerak. Istirahat yang cukup jadi artinya adalah istirahat pada saat harus istirahat.

Ada tiga displin disini  yang harus dilakukan untuk kita bisa mengalami kehidupan yang sehat, yaitu mengatur pola makan, berolahraga secara teratur, dan istirahat yang cukup. Tetapi mengapa tidak semua orang lantas secara otomatis melakukannya? Padahal kebanyakan orang sudah paham dan setuju.

Nah, demikian juga saya percaya bahwa setiap dari kita menginginkan kehidupan yang berdampak. Siapa yang ingin hidupnya berdampak?

Saya juga, karena kita percaya bahwa hidup kita di dunia ini bukan cuma numpang lewat, tidak ada yang bercita-cita hanya lahir, tumbuh dewasa dan habis itu numpang lewat aja. Katanya keluarga Allah? Untuk berdampak sama seperti dalam hal hidup sehat, kita perlu membangun disiplin.

Ada latihan-latihan dan kebiasaan-kebiasaan yang harus dilakukan secara konsisten. Jadi, saudara setuju dan paham bahwa untuk mengalami kehidupan yang berdampak, kita harus melakukan disiplin dan latihan-latihan tertentu.

Lantas, Mengapa tidak semua orang mau melakukannya? katanya paham, katanya setuju. Ada banyak orang yang berkata bahwa mereka paham dan setuju dengan kebenaran firman yang disampaikan, datang setiap hari Minggu, dan kemudian mengikuti ibadah tetapi hanya sekedar menerima kebenaran firman itu sebagai sebuah pemahaman dan pada akhirnya tidak dilakukan.

Apa yang membuat orang paham tetapi kemudian tidak melakukannya? Karena ada jarak di antara paham sampai menjadi sebuah tindakan.  Karena tadi, tindakan yang diulang-ulang atau dilatih dengan disiplin, maka kemudian akan menjadi sebuah kelebihan dan kebiasaan yang kemudian diikuti oleh orang-orang di sekitar kita menjadi sebuah budaya.

Artinya, untuk kita mencapai atau hidup di dalam budaya keluarga Allah. Ada hal yang perlu kita latih secara disiplin dan itu bukan terjadi secara otomatis. Persoalannya adalah tadi, ada jarak antara pemahaman sampai menjadi sebuah tindakan. Jaraknya itu namanya keyakinan.

Jadi paham, yakin, bertindak.  Kalau kita sekedar paham bahwa untuk hidup sehat perlu latihan ini dan itu, untuk hidup berdampak perlu latihan ini dan itu, tetapi kalau kita sekedar paham tapi tidak menjadi keyakinan maka akan sulit sekali bagi kita untuk bertindak secara konsisten dan menjadikan itu sebuah kebiasaan.

Lantas, apa yang membuat seseorang merasa sulit untuk mengubah pemahamannya menjadi sebuah keyakinan?

Menurut saya salah satu sebabnya adalah ketidakmengertian kita terhadap posisi kita. Berapa banyak dari saudara yang suka sepak bola? Saya suka, tentunya bukan bermain sepak bola, tetapi lebih menjadi pengamat sepak bola dan fans dari salah satu klub sepak bola.

Kalau saudara mau mengikuti sebuah klub atau mengikuti seseorang, lihat dulu baik-baik apakah ada filosofi alkitabiah di situ ya. Karena klub sepakbola yang saya ikuti filosofinya adalah from Glory to Glory. Bukankah itu janji Tuhan di dalam kehidupan keluarga Allah?

Jadi, perhatikan dulu filosofinya dan jangan asal ngikut aja. Disaat kita bicara soal sepak bola atau olahraga bola basket misalnya, atau bahkan rugby atau olahraga apapun. Kita mengenal ada yang namanya Liga. Liga itu ada Liga bawah dan ada Liga atas atau Liga utama. walaupun di dalam Liga paling bawah sampai Liga utama tentunya ada urutannya, ada Liga 1, Liga 2, Liga 3 sampai kemudian Liga utama.

Tetapi apa yang saya ingin bagikan kepada saudara adalah sebuah perspektif. Bahwa ada yang namanya Liga yang posisinya lebih di bawah dan ada Liga utama. Nah, Liga utama ini ya Liga yang paling tinggi di dalam sebuah industri sepak bola itu, atau bahkan dalam olahraga apapun.

Tadi salah satu yang menyebabkan seseorang atau seorang pemain kemudian menjadi sulit untuk berpindah dari paham kemudian menjadi yakin adalah ketidakmengertian posisinya. Tetapi, sebelum mengerti tentang posisinya, juga bicara tentang di posisi itu apa yang menjadi batasan dia.

Saya kasih contoh seorang pemain yang bermain di Liga bawah, padahal trofi utama itu adanya di Liga utama, maka mau tidak mau, dia kemudian melakukan segala perjuangan latihan dengan disiplin sedemikian rupa untuk kemudian meraih trofi utama.

Itu ya tidak mungkin bisa. Kenapa? Karena trofi itu adanya di Liga utama.

Nah, sehingga ketika posisinya dia ada di Liga bawah, maka semua upaya apapun yang dia lakukan ada batasnya. Sampai di satu titik, pemain ini tidak bisa melihat ada harapan. Percuma saya latihan ini itu, bangun disiplin ini itu, kerja keras ini itu, tetapi pada akhirnya ini semua terasa sia-sia karena trofinya hanya ada di Liga utama.

Sudah bisa mengerti yang saya maksud? Jadi satu-satunya cara untuk dia bisa bermain di pertandingan-pertandingan yang lebih tinggi nilainya, untuk mendapatkan atau meraih trofi utama itu berarti dia harus berpindah dari liga bawah ke Liga utama.

Tetapi masalahnya begini, kalau di dalam pertandingan sepak bola atau pertandingan bola basket, pada umumnya untuk sebuah klub atau pemain bisa berpindah dari liga bawah ke Liga yang lebih tinggi atau Liga utama. Dalam hal ini, dia harus memenangkan beberapa pertandingan terlebih dahulu.

Tetapi dalam konteks yang saya sampaikan kepada saudara, sekeras apapun upaya dari pemain di Liga bawah ini untuk memenangkan pertandingan, dia tidak akan pernah bisa masuk ke Liga utama.

Dalam konteks ini, kalau pemilik Liga itu tidak membukakan akses di industri olahraga pada umumnya. Tidak ada pemilik Liga yang dengan sukarela membukakan akses itu.

“Kalau kamu mau pindah ke Liga utama, kamu harus menang dulu di Liga bawah itu”.  Masalahnya ini liganya beda, karena dia main di Liga bawah, mau usaha seperti apapun dan mau memenangkan pertandingan berapapun, dia tidak akan pernah bisa pindah ke Liga utama kalau memang pemilik Liga itu tidak membukakan akses buat dia.

Nah, masalahnya begini. Walaupun dia pemilik Liga, dia tentu akan mempertaruhkan sesuatu yang begitu besar, pada saat pemain ini yang mentalnya masih di Liga bawah terus langsung dipindahkan di Liga utama, tentu tidak bisa.

Jadi, pemilik Liga ini “membayar harga” kepada para pemain di Liga bawah ini, dan kemudian dibukakan akses tanpa mereka harus memenangkan pertandingan apapun untuk kemudian berpindah ke Liga utama.

Bukankah itu yang Yesus lakukan di dalam kehidupan saudara dan saya? Kita yang tadinya ada di Liga bawah, yang latihan ini itu, kerja keras ini itu tidak ada tujuannya dan bahkan tanpa pengharapan, karena kita tidak tahu apa yang sebetulnya harus kita capai atau kita tuju pada akhirnya.

Semua latihan kita menjadi latihan-latihan yang terbatas sampai pada satu titik kita kemudian memutuskan untuk menyerah. Itu yang sudah daftar gym cuma membershipnya aja mungkin bisa bertobat hari ini.

Jadi, itu yang pertama. Harus dibukakan akses tapi untuk membukakan akses itu pemilik Liga itu harus menanggung semua resiko dari pemain di Liga bawah tadi.

Nah, sekarang pemain Liga bawah yang sudah pindah ke Liga utama. Pertanyaannya apa yang kemudian dia perlu lakukan? Apakah kemudian berkata begini, “Aduh Terima kasih, Tadinya saya di Liga bawah kemudian saya sekarang sudah pindah dan dibukakan akses untuk ke Liga utama… terima kasih, kalau begitu saya bisa menikmati hidup saya pada saat ini sesuai dengan caranya saya… mau mager kek, mau melakukan dengan pikiran saya sendiri dengan nilai-nilai saya sendiri, semua terserah”.

Apakah itu sikap yang kemudian dibangun?

Bayangkan, kalau ada pemain yang sikapnya seperti itu. Dia pindah ke Liga utama secara posisi, secara faktanya dia sudah pindah ke Liga utama. Tetapi berarti kalau dia kemudian berpikiran seperti apa yang saya sampaikan tadi, artinya pikiran dan mentalnya itu masih ketinggalan di Liga bawah.

Dia sudah hidup sebagai bagian dari keluarga Allah dan Kerajaan Allah, Tetapi pikiran dan mentalnya masih ketinggalan di luar kerajaan, dia masih berpikir gini, “kok saya latihan-latihan itu, kerja keras ini, kerja keras itu adalah terbatas pada mengejar hal-hal yang sifatnya fisik atau jasmani atau bahkan materi saja.”

Itu pola pikir pemain Liga bawah, bapak ibu dan saudara sekalian. Jadi, mereka berpikir dan melakukan segala sesuatu latihan Demi mengejar kemenangan yang ada di dalam pemikiran mereka tapi pada kenyataannya mau menang berapa pertandingan pun tidak akan pernah bisa meraih trofi utama.

Karena yang namanya latihan fisik dan latihan jasmani itu terbatas, makanya dikatakan sedikit saja gunanya, tetapi bukan itu tidak dilakukan, tetap perlu dilakukan tetapi dengan mental bukan seorang loser yang berusaha menjadi pemenang di Liga bawah, dan sebaliknya dilakukan dengan mental seorang pemenang yang bermain di Liga utama.

Latihannya beda, Betul apa tidak? pemain yang bermain di Liga bawah sama pemain yang sekarang bermain di Liga utama latihannya beda, lebih intens dan kualitasnya juga lebih tinggi.

Nah, kalau cara berlatihnya dia sama seperti dia bermain di Liga bawah karena pikiran dan mentalnya masih ada di Liga bawah, ya dia tidak akan menjadi apa-apa di Liga utama ini.

Maksud saya, yang saya maksud dengan tidak jadi apa-apa itu bukan tentang meraih kesuksesan materi. Tetapi yang saya maksud dengan tidak jadi apa-apa itu adalah dia walaupun posisinya di Liga utama, Tetapi dia tetap saja tidak bisa melihat apa yang menjadi tujuan pemilik Liga itu, akan kenapa dia dipindahkan ke Liga utama.

Hari ini, pertanyaan saya kepada saudara yang hadir di tempat ini. Posisi saudara sekarang ada di mana? kalau posisi saudara masih ada di Liga bawah, alias saudara belum pernah menerima dan mengakui Yesus sang pemilik Liga itu sebagai Tuhan dan satu-satunya juru selamat di dalam kehidupan saudara, maka sekeras apapun saudara berusaha, saudara tidak akan pernah bisa bermain di Liga utama dan tidak akan pernah bertemu dengan trofi yang dijanjikan yang hanya bisa dilakukan di Liga utama.

Saudara harus merespon dengan menerima mengakui terlebih dahulu Yesus sebagai Tuhan dan satu-satunya juru selamat di dalam kehidupan saudara, dan situlah Saudara akan melihat dan menerima akses untuk masuk ke Liga utama.

Sebaliknya kalau saudara hari ini ada di posisi Liga utama, pertanyaan saya apakah saudara berpikir sebagai pemain di Liga utama, atau saudara masih berpikir sebagai pemain di Liga bawah?

Sudahkah saudara bersikap dan bertindak seperti pemain di Liga utama atau saudara masih bersikap dan bertindak seperti pemain di Liga bawah, apakah saudara sudah membangun kebiasaan-kebiasaan seperti selayaknya pemain di Liga utama atau saudara masih tetap bermalas-malasan seperti pemain di Liga bawah yang sudah berjuang dan bekerja keras selayaknya seperti pemain di Liga utama, atau saudara mudah menyerah seperti pemain di Liga bawah.

Ada di mana posisi saudara hari ini? karena pada dasarnya saya ulangi lagi, ada jarak antara pemahaman sampai menjadi sebuah tindakan dan jarak tersebut adalah keyakinan.

Keyakinan saudara hari ini, saudara ada di posisi mana? Tetapi sebelum saya pergi terlalu jauh. Saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada saudara, tadi kita semua setuju dan paham bahwa kita menginginkan kehidupan yang berdampak dan kita setuju bahwa kalau kita menginginkan kehidupan yang berdampak, maka kita tidak bisa melakukan itu pada saat kita ada di Liga bawah, kita hanya bisa melakukannya pada saat kita ada di Liga utama.

Tetapi untuk masuk ke Liga utama, dalam konteks ini harus pemilik liganya sendiri yang membukakan akses dan pada saat kita bertemu dengan akses itu, dan kemudian kita masuk ke Liga utama. Pertanyaan saya adalah apa yang saudara pahami tentang kehidupan yang berdampak di Liga utama karena batasan pemahaman Saudara akan menentukan batasan perilaku dan kebiasaan-kebiasaan saudara.

Batasan pemahaman Saudara akan menentukan batasan disiplin dan latihan-latihan saudara. Sebagai contoh, jika pemahaman saudara mengenai kehidupan yang berdampak adalah sekedar tentang kehidupan yang berhubungan dengan aspek fisik jasmani atau materi, maka Saudara akan berlatih dan bekerja keras secara disiplin seperti pemain di Liga bawah, anda hanya mengejar atau berlatih untuk mengejar hal-hal yang sifatnya terbatas, maka latihan-latihan juga akan terbatas dan membuat saudara berhenti dan menyerah.

Disiplin berlatih mengejar keberhasilan untuk badan yang lebih sehat dan bagus, status lebih kaya dan lebih banyak uang, tentu boleh, tetapi kalau tujuan saudara di dalam berlatih hanya terbatas sampai di situ maka latihan-latihan saudara pasti juga akan terbatas.

Karena latihan saudara hanya saudara lakukan demi kepentingan kenyamanan hidup saudara, makanya ada istilah sindrom “Me, I and Myself”. Terbatas cuman sampai di situ saja, Pertanyaan saya, pemain di Liga utama terbatas seperti itu atau tidak?

Menariknya Paulus berpesan kepada Timotius muridnya di satu Timotius 4 ayat 8.

Supporting Verse – Latihan jasmani sedikit saja gunanya, tetapi latihan rohani berguna dalam segala hal, sebab mengandung janji untuk hidup pada masa kini dan masa yang akan datang. 1 Timotius 4:8 BIMK

Jadi, latihan jasmani sedikit atau hanya memiliki nilai yang terbatas sedangkan latihan rohani mengandung janji untuk hidup saat ini maupun hidup di masa yang akan datang.

Jadi kalau saya parafrase, latihan jasmani itu berguna hanya untuk hidup saat ini dan terbatas untuk hidup saat ini. Nah, karena berpikir hanya terbatas untuk hidup saat ini makanya sindromnya tadi “Me, I and Myself”.

Tetapi latihan rohani mengandung janji untuk hidup saat ini dan hidup di masa yang akan datang dan tidak terbatas. Dengan demikian sebagai murid Kristus, melatih kesehatan jasmani penting, tetapi jangan berhenti sampai di situ karena latihan jasmani saja tidak cukup.

Kita harus melatih kesehatan rohani menjadi gaya hidup karena kesehatan rohani tidak terbatas untuk dirimu sendiri saja, kalau latihan jasmani saja yang dikejar, makanya mungkin sedikit-sedikit butuh Healing. Tetapi latihan rohani tidak terbatas, karena saudara tidak akan memikirkan terus-menerus healing untuk diri sendiri, tetapi sudah memikirkan bagaimana orang lain juga bisa pindah ke Liga utama seperti saya.

Pertanyaannya, seperti apa yang disebut dengan sedikit atau terbatas itu?

Apa janji untuk hidup masa kini? apa janji untuk hidup masa depan? Kalau saudara bisa mengerti dan menangkap apa yang saya sampaikan tadi? maka anda akan bisa mengisi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tadi. Renungkan itu di dalam kehidupan saudara.

Terkait dengan kehidupan yang berdampak yang kita bicarakan di awal, menurut saudara Tuhan mau kehidupan kita berdampak terbatas atau tak terbatas?

Tak terbatas! Kenapa? karena Tuhan adalah Tuhan yang tak terbatas. Dampak yang tidak terbatas dimulai dari apa? latihan rohani yang tidak terbatas gunanya.

Tidak terbatas bicara tentang tidak terbatas hanya tentang diri kita sendiri saja, tidak terbatas hanya tentang mengejar hal-hal yang bersifat jasmani atau material saja. Dengan demikian, Apa yang dimaksud dengan dampak kehidupan yang tidak terbatas tersebut? Mari kita baca ayat selanjutnya.

Supporting Verse – Hal itu benar dan patut diterima serta dipercayai sepenuhnya. Itulah sebabnya kita berjuang dan bekerja keras, sebab kita berharap sepenuhnya kepada Allah yang hidup; Ialah Penyelamat semua orang, terutama sekali orang-orang yang percaya.
Ajarkanlah semuanya itu dan suruhlah orang-orang menurutinya. Janganlah membiarkan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau masih muda. Sebaliknya, hendaklah engkau menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam percakapanmu dan kelakuanmu, dalam cara engkau mengasihi sesama dan percaya kepada Yesus Kristus, dan dengan hidupmu yang murni. 1 Timotius 4:9-12 BIMK

Nah, itu yang diperjuangkan di Liga utama. Tidak lagi memperjuangkan yang ada di Liga bawah yang cuma urusan dirimu sendiri. Sekarang di Liga utama, yang diperjuangkan adalah menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam percakapanmu dan kelakuanmu.

Dalam cara engkau mengasihi sesama dan percaya kepada Yesus Kristus dan dengan hidupmu yang murni, menjadi dampak Kehidupan yang tak terbatas. Itu adalah keteladanan hidup yang tidak terbatas, karena dalam hal ini Timotius melakukan latihan rohani yang gunanya tidak terbatas baik di usia mudanya saat ini atau di kehidupannya saat ini maupun nanti di usia tuanya, bahkan sampai kembali kepada Bapa di surga.

Sekarang berjuangnya lebih asik nggak? karena kita tahu apa yang kita perjuangkan. Kita tidak lagi berjuang hanya untuk mengejar hal-hal yang sifatnya jasmani tetapi kita berjuang untuk mengerjakan, melatih dengan disiplin hal-hal yang bersifat rohani.

Nah, karena gunanya tidak terbatas, disiplin dalam latihan rohani bersifat progresif. Jangan berhenti, Sama halnya keintiman dengan Tuhan bersifat progressive. Jangan cuma puas bahwa hari ini keintiman dengan Tuhan, “Ya saya sudah intim”,  tetapi terus memiliki gairah untuk semakin intim dengan dia setiap hari sehingga kita betul-betul bisa mengenal lebih dalam hati pikiran dan kehendak dari sang pemilik Liga utama itu, karena sudah ada aksesnya.

Kalau yang di Liga bawah mau ketemu sama yang Liga utama yang pemilik Liga utama, susah nggak Bapak Ibu? tidak mungkin bahkan! Tetapi ini yang sudah di Liga utama malah tidak bisa melihat bahwa seharusnya setiap hari saya bisa berkomunikasi menggunakan akses yang disediakan itu untuk semakin dalam mengenal pikiran hati dan kehendak dari sang pemilik Liga utama ini.

Karena saya tahu bahwa apa yang dia janjikan tentang trofi utama itu, Dia tidak akan pernah mengingkarinya. Kita juga mengerti bagaimana cara melatih latihan rohani itu, pengenalan kita terhadap karakter Kristus bersifat progresif karena jika disiplin latihan kita statis, maka dampak keteladanan hidup kita juga menjadi statis atau terbatas.

Nah, itulah mengapa di ayat 1 Korintus 11 : 1,  Paulus berkata :

Supporting Verse – Jadi ikutilah teladan saya, sama seperti saya juga mengikuti teladan Kristus. 1 Korintus 11:1 TSI

Nah, saya ingin memberikan sebuah ilustrasi kepada saudara. Ada seorang teman saya tadi teman saya Adit. Berikantepuk tangan dulu buat Adit, karena kami melakukan ini sudah sekitar 120 kali, dan ini menjadi bukti latihan rohani yang tidak statis.

Kalau saya bisa melihat bahwa Tuhan saya adalah Tuhan yang tak terbatas, saya melakukan latihan-latihan yang tak terbatas berarti latihan rohani yang tidak terbatas, berarti keteladanan saya juga tidak terbatas. Betul apa tidak? tapi keteladanan saya yang tidak terbatas itu bukan karena kemampuan saya, dan kemudian saya membatasi diri saya untuk berhenti di satu titik, melainkan saya terus berjalan. Itu yang disebut dengan progresif. Berjalan maju, dan berjalan semakin naik.

Jadi, kalau saya berjalan lebih jauh, Adit jalannya lebih jauh dan kalau saya berjalan naik lebih tinggi, maka Adit bakalan naik lebih tinggi, dia juga akan mengikuti saya dan jika saya lebih cepat, dia juga akan mengikuti saya. Tetapi  ada satu titik jika saya berhenti, maka apa yang terjadi, dia akan menabrak saya, betul nggak?

Karena saya berhenti, dia juga terhenti. Masalahnya, kalau dia terhenti itu apakah kemudian satu-satunya atau dia tidak bisa lagi lebih maju hanya gara-gara saya? Tidak.

Karena yang saya ikuti adalah Tuhan yang tidak terbatas. Artinya apa? tanpa saya pun, Tuhan bisa melakukannya kepada Adit sehingga suatu hari dia akan melewati saya. Jadi yang rugi siapa? saya sendiri. Karena saya terbatas, padahal saya tahu bahwa Tuhan yang saya ikuti tidak terbatas.

Maka, Ikuti aku, teladani aku, seperti aku mengikuti Kristus. Jadi, posisinya nggak seperti ini, posisinya seperti aku mengikuti Kristus Yesus yang tidak terbatas, dan maka latihan-latihan rohani kita juga tidak terbatas, dan kasihNya dan apa yang mau dinyatakan dalam kehidupan kita juga tidak terbatas.

Progresivitas keteladanan hidup semakin bertumbuh seiring pertumbuhan iman kita di dalam pengenalan akan Dia. Nah, sekarang untuk Saudara bawa pulang, namanya latihan, tentu ada menunya dan programnya.

Yang pertama, dalam latihan rohani, kita harus membangun keintiman dengan Tuhan.

Semakin kita intim dengan yang tak terbatas itu, latihan-latihan rohani kita menjadi tak terbatas. Keteladanan kita menjadi tak terbatas. Tuhanlah adalah Tuhan yang ingin berelasi dengan kita, Tuhan yang ingin membangun hubungan kita dan itulah kenapa dia memindahkan kita dari liga bawah ke Liga utama.

Dia mau pada saat kita ada di Liga utama, kita menjalani kehidupan kita sebagai dan selayaknya seorang pemenang yang berjuang bekerja keras dengan sebuah tujuan yang jelas, bukan untuk sesuatu yang terbatas tetapi untuk sesuatu yang tidak terbatas.

Semakin dia menyingkapkan dirinya, semakin kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, respon apa yang kitaberikan pada saat dia menyingkapkan dirinya.

Supporting Verse – Sementara itu, sampai saya datang nanti, engkau harus bersungguh-sungguh membacakan Alkitab kepada orang-orang, dan mendorong serta mengajar mereka. 1 Timotius 4:13 BIMK

Pertanyaan saya, Mampukah Timotius melakukan tugas itu kalau dia sendiri tidak dengan merespon dengan melatih dirinya dalam disiplin membaca Alkitab? Bagaimana dia bisa meneladankan dan membangun budaya orang lain atau kebiasaan orang lain untuk membaca Alkitab? kok dia sendiri tidak melakukannya. Betul apa tidak?

Bagaimana dia bisa mengajarkan keteladanan untuk membangun keintiman dengan Tuhan kok dia sendiri tidak membangun keintiman dengan Tuhan. Itulah kenapa di awal tadi, ada rahasia di dalam ibadah ini, karena Ini bukan tentang hal-hal yang bersifat jasmani atau materi saja.

Di layar yang ada di depan saudara itu adalah sebuah diagram perjalanan Iman atau pertumbuhan iman. Salvation adalah akses yang tadi saya sampaikan. Di bawah Salvation adalah Liga bawah, tapi sekarang kita ada di Liga utama dimana kita bertumbuh di dalam keintiman kita dengan Tuhan.

Tetapi perhatikan, setiap kali Tuhan menyatakan diriNya. Apa yang kita lakukan? respon. Respon itu adalah latihan rohani dan semakin kita melatih rohani kita, kemudian kita naik dan Tuhan menyikapi diriNya, kita responi lagi dan Tuhan akan semakin menyingkapkan diriNya.

Semakin jelas kita bisa mengenal dia, naik lagi dan seterusnya, itu yang disebut dengan pertumbuhan iman yang progresif.  Tapi ingat ingat diagram ini, saudara ada di Liga atas atau saudara posisinya ada di Liga bawah. Hanya yang ada di Liga atas yang bisa mengalami atau melakukan seperti diagram yang ada di layar saudara.

Menu yang kedua adalah melakukan kehendak Tuhan.

Dallas Williard, seorang teolog berkata demikian, “spiritual training enables you to do what you cannot do by willpowers alone”. 

Tidak cukup tekad, tapi kita perlu kuasa Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Kuasa Tuhan yang tidak terbatas untuk memampukan kita meneladankan nilai-nilai Kristus sebagai gaya hidup orang percaya atau keluarga Allah.

Pada akhirnya Paulus melanjutkan pesannya kepada Timotius di ayat 15 dan 16.

Closing Verse – Kerjakanlah semuanya itu dengan bersungguh-sungguh supaya kemajuanmu dilihat oleh semua orang. Awasilah dirimu dan awasilah juga pengajaranmu. Hendaklah engkau setia melakukan semuanya itu, sebab dengan demikian engkau akan menyelamatkan baik dirimu sendiri maupun orang-orang yang mendengarmu. 1 Timotius 4: 15-16 BIMK

Ini bukan tentang kehebatan kita, tapi tentang kehebatan Roh Kudus yang tak terbatas, yang berdiam di dalam diri kita, yang menyertai kita dan tidak pernah meninggalkan kita pada saat kita bermain di Liga utama untuk meraih trofi yang dijanjikan pemilik Liga itu di dalam kehidupan kita.

Misi JPCC adalah membangun Generasi Bintang yang kehidupannya berkenan di mata tuhan dan dihormati oleh manusia. Generasi Bintang merupakan generasi yang memancarkan kebintangan Tuhan yang tinggal di dalam dirinya melalui gaya hidup meneladankan Kasih Kristus yang tak terbatas bagi dunia.

Itulah apa yang berkenan di mata Tuhan dan membuat dunia menghormati Tuhan yang berdiam di dalam diri kita. Saya berdoa agar Hikmat Tuhan sendiri yang menolong kehidupan saudara untuk memberikan pengertian-pengertian yang tak terbatas dalam kehidupan saudara supaya saudara semakin excited dan antusias di dalam melakukan latihan-latihan rohani saudara, karena di dalam bulan ini, di minggu-minggu berikutnya kita akan memperdalam apa yang dibicarakan hari ini.

Saudara akan belajar tentang Apa itu Alkitab dan bagaimana cara membaca Alkitab dan saudara juga akan belajar bagaimana bersaksi di dalam kehidupan saudara, belajar bagaimana berdoa dalam kehidupan saudara.

Disiplin berarti tentang kuantitas dan kualitas pengelolaan waktu yang direncanakan dengan sengaja dan dilakukan secara konsisten. Saudara hanya bisa melakukan latihan rohani dengan disiplin bukan di-selipin, bukan disisa-sisa waktu Saudara, bukan tidak diagendakan, bukan tidak direncanakan, tapi disiplin dan bukan diselipin. Tuhan Yesus memberkati.

P.S : If you like our site, and would like to contribute, please feel free to do so at : https://saweria.co/316notes