JPCC Kota Kasablanka Service 3 (6 Mei 2018)
Bulan ini kita akan berbicara mengenai “Habits” atau Kebiasaan. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Tema tahunan JPCC adalah “Reimagine”, suatu kesempatan bagi kita untuk membayangkan ulang, membuka mata dan diri akan imaginasi yang Tuhan sudah berikan untuk kita semua.
Seringkali Tuhan memberikan kita Visi dalam hidup, itu adalah Gambaran yang Tuhan ingin kita capai dalam hidup kita. Dan tanpa Iman dan Pengharapan, akan sulit bagi kita untuk bisa Reimagine dan Membayangkan apa yang sudah Tuhan siapkan untuk kita semua.
Bayangkan Abraham yang sudah begitu tua bersama dengan Sara dan disuruh untuk membayangkan sesuatu yang mustahil seperti mempunyai anak. Diperlukan Iman untuk melakukan-nya karena tanpa Iman, susah untuk membayangkan apa yang sudah Tuhan siapkan baginya.
Kita perlu Iman untuk bisa melihat apa yang Tuhan ingin kita lihat, Kita perlu Pengharapan untuk bisa melangkah karena tanpa perbuatan, Iman itu mati ada-nya. Itu sebab-nya kita perlu Iman dan Pengharapan.
Namun, semua itu tidak akan berguna kalau kita tidak menindaklanjuti dengan tindakan yang terus menerus kita lakukan.
Kalau kita punya visi, cita-cita dan pengharapan, tetapi kita tidak menindaklanjuti dengan tindakan yang dilakukan secara terus-menerus, yang kemudian akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita yang akan membawa kita kepada masa depan yang kita harapkan.
Kebanyakan Orang Kristen mengalami kegagalan untuk mencapai apa yang Tuhan sudah siapkan bagi mereka, bukan karena Tuhan tidak berjanji kepada mereka, tetapi karena mereka lalai untuk menindaklanjuti apa yang Tuhan siapkan bagi mereka.
Banyak orang ingin punya pernikahan yang baik, tetapi diperlukan lebih dari sekedar “Cinta” untuk mencapai itu. Untuk bisa membangun dan mempertanankan pernikahan yang sehat, dibutuhkan hikmat, pengertian dan pengetahuan untuk membangun pernikahan yang sehat.
Ada banyak orang bisa memulai tetapi tidak bisa berhasil membangun-nya sedemikian rupa, karena itu diperlukan kegigihan dan ketekunan dalam membangun.
Ketekunan adalah “Kebiasaan” yang harus kita bangun dalam hidup, tidak semua dari kita terbiasa untuk gigih dan tekun. Ketekunan adalah sebuah kebiasaan yang harus kita bangun.
Abraham setelah dikasih janji oleh Tuhan tentu tidak hanya duduk-duduk saja dan menantikan anaknya lahir. Semua pernikahan yang bergumul untuk mendapatkan anak tahu bahwa betapa besarnya perjuangan yang dibutuhkan untuk bisa mendapatkan anak.
Abraham tidak mungkin hanya duduk-duduk saja, tidak berbuat apa-apa dan menunggu Kuasa Tuhan datang, tentu dia tidak hanya memelototi Sara agar dia menjadi hamil, bukan?
Perlu kegigihan, perseverance atau resilience, dan tekun untuk bisa mencapai apa yang Tuhan sediakan bagi kita. Itu sebabnya Kebiasaan perlu untuk kita bangun dalam kehidupan.
Kebiasaan akan membangun Karakter dalam kehidupan kita. Character is build on Good Habits, Karakter dibangun atas kebiasaan yang baik.
Kebiasaan itu mungkin kecil setiap hari-nya, dan terlihat sepele, tetapi itu bisa membangun Dasar Fondasi yang Kokoh.
Suatu hari saya pernah melihat Poster dari Menara Pisa di Italia, kemudian ada tulisan yang berkata bahwa Gedung yang tampilan-nya Indah luarnya tetapi dasar-nya rusak; Dasar-nya akan menentukan Kekokohan sebuah Gedung.
Dalam kehidupan kita, Karakter-lah yang akan menjadi dasar kekokohan hidup kita. Untuk punya Dasar yang Kokoh, kehidupan atau Karakter yang Kokoh, Kebiasaan kita sehari-seharilah yang akan menentukan kesana. Karakter tidak akan terbangun begitu saja tanpa kebiasaan sehari-hari.
Kebiasan sehari-hari akan menentukan karakter dan fondasi di dalam kehidupan kita, itu sebabnya selama bulan ini kita akan belajar mengenai Kebiasaan.
Opening Verse – “dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5:4 TB
“and endurance, proven character (spiritual maturity); and proven character, hope and confident assurance [of eternal salvation].” ROMANS 5:4 AMP
Pengharapan dan ketekunan yang sudah teruji akan membangun sebuah kebiasaan untuk punya Pengharapan yang tidak mengecewakan.
Saya temukan bahwa banyak Pernikahan gagal bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena kedua pihak disana tidak lagi bersedia untuk berjuang dan gigih mempertahankan pernikahan mereka sampai maut memisahkan.
When you said “I do”, you have to finish it. Untuk menyelesaikan, dibutuhkan kebiasaan untuk memulai dan juga kegigihan untuk menyelesaikan-nya.
Oleh sebab itu kebiasaan meski terlihat sepele, ada sesuatu yang vital agar kita bisa melihat apa yang Tuhan janjikan kepada kita untuk menjadi kenyataan.
Saya lebih suka antisipasi daripada pengobatan, persiapan daripada penyesalan, oleh karena itu belajarlah untuk mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik dan menghindar dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk.
Character is build on Good Habits, Habit to our life is like the Foundation to a Building.
Kebiasaan ibaratnya seperti Fondasi sebuah Gedung yang tidak kelihatan, tetapi akan teruji disaat gempa datang.
Begitu juga Karakter Kehidupan kita, itu sebabnya kebiasaan kitalah yang akan membentuk karakter yang bisa menopang kehidupan kita. Itu sebab-nya berhati-hatilah dengan hal-hal dan kebiasaan yang kita lakukan setiap harinya.
Manusia adalah manusia yang membangun kebiasaan tanpa kita sadari. Baik dari saat kita mandi atau sikat gigi, ada yang berkumur searah dengan jarum jam atau malahan sebaliknya. Sabun dan Shampoo juga ditaruh di tempat, urutan dan cara yang sama.
Kita secara terpola akan melakukan kebiasaan yang sama, sebagian besar dari hidup kita sehari-hari terpola dalam kebiasaan tertentu, kebiasaan termasuk sesuatu yang kita lakukan tanpa berpikir lagi tetapi kita akan merasa kehilangan jika tidak melakukan-nya, semuanya itu, kebiasaan baik ataupun buruk.
Itu sebabnya saya mau membawa kita mempertimbangkan kebiasaan kita sehari-hari, karena itu akan membawa anda ke masa depan anda.
Apa yang setiap hari kita lakukan akan membawa kita kepada masa depan kita, baik dalam kebiasaan baik atau buruk.
Kebiasaan adalah sesuatu yang begitu kecil kelihatan-nya, tetapi memiliki potensi pengaruh yang begitu besar. Kebiasaan baik ataupun buruk ini tidak akan langsung terasa konseskuensinya.
Kita sikat gigi, tidak akan langsung membuat gigi anda begitu bersinar-nya, bahkan kalau kita tidak sikat gigi, tidak akan langsung ketahuan. Kita mandi atau tidak, perbedaan-nya tidak terlalu signifikan.
Tetapi kalau kita terus menerus tidak mandi, suatu hari-nya kita akan melihat konsekuensi yang tidak terelakan dan terlewatkan. Itu sebab-nya meski Kebiasaan terlihat sepele, tetapi akan punya daya ikat dan dampak yang sangat besar dalam kehidupan kita, Itulah Habits atau Kebiasaan.
Jadi, perlu dipertimbangkan apa yang perlu kita miliki dan bangun, dan apa yang perlu kita hindari dan singkirkan dalam kebiasaan kita. Setiap dari kita berbeda-beda, dan saya berdoa agar Roh Kudus bisa melayani kita secara pribadi, karena Dia tahu yang terbaik dan perlu kita lakukan, kebiasaan apa yang perlu kita singkirkan sehingga kita bisa menerima apa yang Tuhan sudah sediakan dalam hidup kita.
Kebiasaan adalah sesuatu yang kecil yang kita lakukan tetapi punya potensi yang besar dalam mempengaruhi hidup kita, kalau kebiasaan ini dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama, maka kebiasaan itu bisa menjadi sebuah Budaya.
Budaya terbentuk karena ada sekelompok orang melakukan yang sama. Di Indonesia, mengantri bukan-lah suatu budaya. Saya masih ingat pada saat kita kebaktian awal-awal dan terlambat selama 6 menit, saya langsung panik tetapi teman-teman yang lain mengatakan kepada saya untuk santai karena di Indonesia telat selama 30 menit itu biasa.
Kita memulai kebiasaan yang baru untuk JPCC, saya rasa jam karet bukan-lah hal yang bagus untuk dipertahankan. Mulai dari hal yang kecil, seperti mengantri, mendahulukan dan menghormati orang lain, say sorry and thank you, tepat waktu, dan bersih, bahkan dari WC kita bisa mengenali budaya gereja beserta budaya pekerja dan pemimpin-nya, begitu juga saat kita ke rumah seseorang.
Budaya adalah sesuatu yang terbangun karena ada banyak orang yang melakukan secara bersamaan, baik budaya rumah tangga dan keluarga, budaya dalam hidup sangat ditentukan oleh kebiasaan dan rutinitas yang kita punya setiap hari-nya. Itu sebab-nya meski terlihat sepele, ini bisa menentukan masa depan kita.
Quality is not an Act, It is a Habit – Aristotle
Kualitas bukan hanya sekedar tindakan saja, tetapi Kualitas adalah kebiasaan, dimulai dari kita terbiasa untuk memberikan yang terbaik atau Excellent. Tanpa kita sadari, kualitas akan menjadi citra dari kebiasaan yang kita lakukan.
Tetapi kalau kita tidak memperhatikan yang terbaik, kita menerima apa ada-nya, kita akan mengalami degradasi dari kualitas dan kita akan berada dalam tempat yang tidak kita inginkan, dan ini berlaku dalam segala hal dalam hidup kita. Kualitas adalah Kebiasaan.
Winning is Habit, Unfortunately so is Losing – Vince Lombardi
Kalau kita tidak membiasakan diri untuk menang, kita tidak akan merasa gigih dan mudah menyerah, tetapi jika kita membiasakan diri kita untuk menang, maka kita akan menjadi terbiasa untuk menang.
Itu sebabnya saya ingin kita membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik, Bagaimana caranya?
1. Intentionally
Kita harus membangun itu dengan sengaja, Kebiasaan yang baik harus dibangun dengan sengaja, Lakukan kebiasaan yang baik dengan sengaja atau kebiasaan buruk yang akan mengambil alih kehidupan kita.
Sharing Ps. Jose – Saya sebenarnya bukan orang yang suka diam dan berpikir. Saya adalah orang outdoor, dan harus bergerak untuk berpikir. Sementara istri saya adalah orang yang indoor.
Jadi, Saya harus bergerak agar bisa berpikir dengan baik, sementara Hanna lebih bisa berpikir disaat diam. Itu sebabnya Saya tidak suka mengantor, tetapi saya “melatih diri” untuk mempunyai kebiasaan mengantor dan menyukainya.
Karena saya banyak berada di luar, seringkali saya berpikir disaat bergerak dan ada begitu banyak pemikiran baik yang tidak bisa saya catat. Saya tidak bisa mencatat disaat bergerak, untungnya saya memiliki daya ingat yang cukup baik, hal ini bisa terlihat disaat saya bisa menerjemahkan pembicara asing yang berkunjung ke JPCC.
Tetapi kelebihan yang satu ini bisa menjadi kelemahan yang lain, Kelebihan ini membuat saya kurang suka dan perlu untuk mencatat. Ingatan saya yang baik ini bersifat short-term dan hanya pada saat itu saja.
Karena itu, Saya harus secara intentional atau dengan sengaja memaksa diri saya untuk menulis. Sekarang Pensil adalah sahabat saya untuk mencatat pemikiran yang luput dalam hidup saya, kemanapun saya pergi. Hal ini saya lakukan bukan untuk orang lain, tetapi karena saya mengasihi dan menghormati diri saya sendiri.
Kebiasaan apapun yang kita butuhkan harus dibangun dengan sengaja. Kalau kita tidak melakukan hal ini, kebiasaan buruk-lah yang akan merampas kehidupan kita.
2. Daily
Kebiasaan harus dibangun setiap hari. Kita tidak bisa hanya membangun kebiasaan sekali saja, tetapi harus dilakukan dengan konsisten.
Kebiasaan tidak dibangun dalam sehari saja, tetapi harus dibangun setiap hari. Rutinitas penting dan tidak selalu negatif. Rutinitas tidak harus membosankan, ada banyak hal dalam hidup kita yang harus terjadi secara rutin setiap hari-nya (Contoh : Mandi dan Sikat Gigi).
Supporting Verse – “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” Lukas 11:3 TB
Mengapa Tuhan mengajar kita untuk berdoa secara “harian”? Dan bukan secara “bulanan”? Atau bahkan sepanjang tahun? Tetapi saya menyadari bahwa Tuhan ingin kita untuk membangun kebiasaan untuk bergantung kepada-Nya.
Mengapa Bangsa Israel memungut Manna setiap harinya? Untuk membuat mereka belajar bergantung dan bersyukur kepada Tuhan setiap harinya. Kebiasaan untuk bergantung dan bersyukur kepada Tuhan harus dibangun setiap hari.
Dari hal kecil, Kalau kita tidak membangun kebiasaan untuk mencium istri sebelum pergi ke kantor, maka kita akan kesulitan untuk melakukan hal yang lebih besar dari itu. Kebiasaan kecil dan terkesan sepele yang kita bangun setiap hari akan membangun dasar yang kokoh untuk masa depan kita.
The Secret of your future is hidden in your Daily Routine.
Setiap hari kita diberi 24 jam dikali 60 menit, dan 60 menit itu-lah yang akan menjadi modal untuk membangun masa depan kita. Show me your Day and I will you, your Future:
Sharing Ps Jose – Beberapa hari yang lalu saya pergi untuk mempersiapkan tempat kuliah untuk anak saya, dan saya pergi dengan sepasang Hamba Tuhan yang memakai sebuah applikasi yang bisa menunjukkan aktifitas yang dia lakukan setiap hari dan selama 24 jam (bagainana dia menghabiskan sepanjang harinya, seperti tidur, makan dimana dan dengan siapa contohnya).
Saya jadi terpikir dan mungkin memerlukan itu, agar saya bisa membiasakan diri saya dengan mempunyai hal-hal kecil dan rutinitas yang bisa membawa saya ke masa depan saya, Rutinitas kita akan menjadi rahasia masa depan kita.
3. Consistency
Seorang ayah yang ingin membangun karakter dalam kehidupan anak-nya tidak bisa dilakukan sesekali saja, tetapi harus dilakukan secara terus menerus.
Membangun karakter dan kebiasaan tidak bisa secara “occasionally”, it takes consistency. Perlu 40 tahun bagu Tuhan untuk mengeluarkan kebiasaan mesir dalam kehidupan orang israel.
Supporting Verse – “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ulangan 6:7 TB
Kita ingin anak kita hidupnya penuh dengan rasa hormat? Kita harus mengajari-nya setiap hari, disaat bertemu orang selalu melakukan eye contact, “Say Hi” salam dan bahkan peluk mereka. Dan ini harus dilakukan secara konsisten dan dikoreksi dengan berkala.
Ada banyak orang dan gereja ingin budaya seperti JPCC, tetapi mereka berpikir bahwa itu bisa dilakukan dalam 1 kali seminar atau KKR, tetapi ini harus dilakukan secara “babak belur”, dan perlu dilakukan secara berulang kali dan konsisten.
Kenapa kita mempersiapkan kebaktian dengan baik? Karena kita menghormati setiap menit yang jemaat punya, dan perlu agar bisa diisi waktunya dengan baik dan berkualitas, bahkan waktu untuk menunggu ibadah pun diperpendek sekarang.
Budaya tidak terbangun secara “overnight” dan harus dibangun dengan konsisten setiap hari dan dengan sengaja. Saya tidak melakukan “motivational speaking”, karena Alkitab-lah yang mengatakan hal ini.
4. Community
Kita perlu komunitas dan orang lain untuk menolong kita memutus kebiasaan yang buruk atau sebaliknya malah menciptakan kebiasaan yang baik.
Supporting Verse – “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15:33 TB
Sebaliknya, jika kita punya pergaulan yang baik maka itu akan membantu kita dalam menghindari keputusan yang bodoh.
Kalau kita ingin berhenti merokok, akan sangat mudah jika kita berada dalam komunitas orang yang tidak merokok. Sebaliknya kalau kita tidak minum dan bergantung dengan lingkungan yang suka minum, maka dari hal dan kebiasaan kecil kita akan ikut terbawa.
Itu sebabnya, Komunitas penting untuk bisa menolong kita membangun yang baik atau sebaliknya memutus yang buruk.
Supporting Verse – “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10:25 TB
Beribadah dan berkumpul adalah kebiasaan, san jika dilakukan dengan konsisten setiap minggu, akan memberkati kita seperti saling menasihati, menegur, itu adalah kebiasaan yang baik dan bisa kita bangun dalam komunitas. Hal-hal kecil akan membangun platform dan kebiasaan yang sehat, dan membuat kita jadi tidak mudah jatuh sakit.
It takes a community to build a good habit.
Saya juga ingin share sedikit mengenai kebiasaan untuk mendengarkan dengan baik atau Listening.

Dalam tulisan kanji diatas yang berarti mendengarkan, ada begitu banyak elemen disini.
Ada kata Telinga atau Ear, Raja atau King, selanjutnya ada kata 10 or maximum, serta dibawahnya ada kata “Mata” dan Alkitabiah yang juga dikenal dengan Eye or Focus, dan selanjutnya ada kata one or single dan di paling bawah ada kata Hati atau Heart, dengan keseluruhan arti yaitu Memberikan hati, telinga dan mata yang fokus dan maksimum kepada seorang Raja.
Di jaman sekarang, kita terbiasa dengan kebiasaan untuk multi-tasking, mendengar dengan tidak fokus. Susah untuk belajar fokus dan memberikan perhatian kepada apa yang kita dengar. Bukan kepada yang sedang berbicar, tetapi untuk kita sendiri karena kita menghormati diri kita. Kita menganggap sesuatu yang kita dengar penting untuk diri kita sendiri.
Kita juga mencatat karena kita mengasihi diri kita sendiri, membangun self respect, begitu juga mendengar dengan penuh respek kepada diri kita dan juga orang yang berbicara, mendengar dengan penuh hati dan fokus kepada Sang Raja.
Bicara dan lakukan eye contact, ajar anak kita untuk meresponi dengan baik apa yang orang lain katakan kepadanya. Bangun budaya respek untuk diri kita sendiri, dan kepada orang yang berbicara kepada kita.
Bangun kebiasaan untuk mendengar, Duduk dan dengarkan dengan respek kepada orang yang sedang berbicara kepada kita, baik di keluarga, pasangan, orang tua dan juga dalam pekerjaan. Kita akan terkejut akan seberapa banyak hal yang kita luput untuk dengar sebelumnya.
Build a Culture of Respect, Bangun Kebiasaan yang baik untuk kehidupan kita supaya apa yang Tuhan sudah sediakan tidak lepas dan luput dari kehidupan kita.



