Life Changing Encounter with Jesus By Ps. Rick Godwin

JPCC Kota Kasablanka Service 3 (22 April 2018)

Suatu Kehormatan bagi saya bisa berada disini, kita boleh menjadi orang percaya dan tetap menikmati kehidupan, bukan? Pada kotbah sekarang ini, Saya akan memberikan Kotbah yang berbeda dari ibadah sebelumnya. Saya ingin berbicara mengenai perjumpaan dengan Kristus yang mengubahkan.

Opening Verse – “A man with leprosy came and knelt in front of Jesus, begging to be healed. “If you are willing, you can heal me and make me clean,” he said. Moved with compassion, Jesus reached out and touched him. “I am willing,” he said. “Be healed!” Instantly the leprosy disappeared, and the man was healed. Then Jesus sent him on his way with a stern warning: “Don’t tell anyone about this. Instead, go to the priest and let him examine you. Take along the offering required in the law of Moses for those who have been healed of leprosy. This will be a public testimony that you have been cleansed.” But the man went and spread the word, proclaiming to everyone what had happened. As a result, large crowds soon surrounded Jesus, and he couldn’t publicly enter a town anywhere. He had to stay out in the secluded places, but people from everywhere kept coming to him.” ‭‭Mark‬ ‭1:40-45‬ ‭NLT‬‬

Seperti yang kita tahu, sebaliknya orang ini menceritakan kisah penyembuhan yang ia dapat dari Yesus, dan membuat Yesus menjauh dari kota. Ini adalah kisah seorang manusia yang berjumpa dengan Yesus.

Kita semua tahu bahwa di jaman itu, penderita kusta tidak boleh disentuh sama sekali, orang kusta pada jaman itu wajib untuk mengumandangkan bahwa diri mereka adalah najis dan menakutkan, dan merupakan kebenaran di dunia kita bahwa setiap kehidupan manusia dan masyarakat kita sekarang ini juga penuh dengan orang-orang seperti itu, yang tidak layak baik karena suku, status ekonomi, bahasa, pendidikan, atau bahkan penampilan fisik, dan itu membuat mereka berada di tangga terbawah dalam kehidupan masyarakat, dan kisah ini merupakan perasaan Yesus atas orang-orang yang tidak boleh disentuh.

Orang kusta mengalami begitu banyak penderitaan, dan menakutkan orang banyak karena tidak ada obat untuk penyakit mereka, penuh dengan luka di tubuh mereka, membusuk dan memberikan bau yang busuk, bahkan sampai dimana mereka tidak lagi merasakan apa-apa, mereka kehilangan kemampuan untuk merasakan rasa sakit. Bahkan seekor tikus bisa memakan tangan dan jari mereka, dan mereka tidak merasakan apa-apa, begitu banyak komplikasi kesehatan yang mereka alami sampai mereka meninggal, Kusta adalah sebuah vonis mati bagi seseorang.

Supporting Verse – “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” ‭‭Imamat‬ ‭13:45-46‬ ‭TB‬‬

“Those who suffer from a serious skin disease must tear their clothing and leave their hair uncombed. They must cover their mouth and call out, ‘Unclean! Unclean!’ As long as the serious disease lasts, they will be ceremonially unclean. They must live in isolation in their place outside the camp.” ‭‭Leviticus‬ ‭13:45-46‬ ‭NLT‬‬

Begitulah gambaran kehidupan buat penderita kusta, para pemimpin agamawi atau rabbi melihat keadaan ini dan mengembangkan strategi untuk mengasingkan mereka.

Jadi disaat penderita lusta datang ke rumah seseorang, rumah itu menjadi najis dan harus dibakar, dan disaat menyentuh seorang kista, kita menjadi tidak bersih, jadi bayangkan menjadi mereka, yang tidak boleh disentuh siapapun seumur hidupnya.

Kusta bukan hanya berbicara mengenai kehilangan secara jasmani, tetapi ada stigma moral yang melekat, dimana hal ini dikaitkan dengankutukan yang datang dari Tuhan, seandainya mereka sembuh, mereka akan disebut sebagai “sudah dibersihkan”, dan bukan “disembuhkan”, mereka harus dikuduskan, karena mereka begitu najis, seorang rabbi yang begitu bersihnya tidak akan pernah dekat dan datang ke mereka.

Kisah ini adalah seorang manusia yang tidak punya pilihan dan putus ada, dia datang mendekatkan diri kepada Yesus dan tidak ragu atas kuasa Yesus, dia tidak bilang “Kalau Engkau mampu”, dia mengenali otoritas Yesus, dan datang dengan penuh rasa malu, dia tidak bersih, karena tidak seharusnya dia ada disana. Dalam budaya itu, ini adalah sesuatu yang mengejutkan, bagaimana Yesus menghadapinya karena ada hukum saat itu yang dengan jelas berkata “Jangan Sentuh!”.

Semua pemimpin agamawi, bahkan sampai hari ini juga masih menggunakan strategi “isolasi” yang sama, ingatkah anda bahkan Petrus tidak pergi ke rumah Cornelius karena dia adalah seorang “Gentiles”. Itu adalah sebuah masalah rasial, dan terjadi hingga hari ini.

Ada gereja yang dibuat berdasarkan dan berbasis suku, warna kulit, dan eknik tertentu, sungguh sangat bodoh karena kita seharusnya menyelamatkan jiwa-jiwa, jadi strategi untuk pengembangan jiwa atau kerohanian seseorang adalah mengasingkan mereka, cara untuk menjauhkan hidup dari dosa atau penderitaan adalah menjauhi. Karena dosa bisa membuat kita terjangkit, bukanlah lebih baik tinggal dalam sebuah lingkungan yang jauh dari hal ini?

Berapa banyak dari orang tua yang punya anak, semua dari kita tahu bahwa ada keadaan yang menghancurkan anak-anak kita di dunia, dan kita ingin taruh “Big sign” di depan rumah kita, seperti obat-obatan, casual sex, dropping out, kita langsung akan mengkarantina dan memasang tanda ini ke anak-anak kita, adakah ayah yang seperti itu?

Sepanjang sejarah gereja, gereja juga memilih untuk menjauhi dunia dan orang-orang yang jahat, kita kenal ini dengan strategi isolasi, tetapi Yesus datang secara jasmani atau fisik untuk melawan strategi ini, ada beberapa mukjizat yang bisa kita temukan dalam kisah ini.

1. Jesus is a Rabbi

Yesul adalah Seorang Rabbi, Penderita Kusta adalah orang terakhir yang mau ditemu oleh Rabbi, karena mereka bisa dirajam karena-nya. Pada jaman itu, Rabbi membanggakan dirinya karena mereka tidak bisa disentuh, karena berpikir bahwa mereka begitu dekatnya dengan Tuhan, dan orang berdosa tidak diijinkan untuk pernah bisa mendekati mereka.

Lucunya, hanya ada 1 Rabbi yang orang kusta bisa dekati, dan Rabbi itu adalah Tuhan yang ada dalam tubuh manusia, ada kualitas yang Rabbi lain tidak punya karena Yesus sangat amat bisa didekati, dan tidak hanya oleh orang kusta, tetapi juga oleh wanita, pelacur dan bahkan pemungut cukai. Dia sangat bisa didekati oleh siapa-pun juga.

Mukjizat yang pertama adalah kemungkinan untuk bisa mendekatkan diri kepada Yesus, Kerohanian yang sesungguhnya membuat kita lebih bisa tersentuh, bukan sebaliknya.

Jadi, Yesus datang untuk menyingkap bahwa Tuhan yang tadinya dipikir tidak tersentuh, tapi sesungguhnya Tuhan itu sangat bsia disentuh, itulah letak dari jantung dan hati yang ada di JPCC, menciptakan tempat dimana manusia merasa bebas untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Pertanyaan-nya, Apakah kita semakin bisa didekati dan disentuh atau sebaliknya? Are we becoming more or less approachable? Yesus yang sempurna mengundang orang berdosa untuk mendekatkan diri kepadanya, sementara Rabbi dan pemimpin religius lain malah melakukan sebaliknya.

Supporting Verse – “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” ‭‭Markus‬ ‭10:13-14‬ ‭TB‬‬

Setelah kejadian ini, Yesus bicara pada orang banyak, Datanglah kepada-Ku orang-orang yang begitu letih dan terbeban berat, Datang dan jangan menjauhkan diri, Yesus selalu menantikan kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Seringkali kita lupa untuk melakukan ini karena kita merasa bahwa kita tidak layak untuk mendekatkan diri kepadanya, kita lupa kalau kita boleh, dan kita harus melakukan apa yang dilakukan oleh penderita kusta, mengabaikan semua peraturan, lari kepada Yesus, berlutut dan memohon untuk disembuhkan, menahirkan, memampukan dan menjamah kita.

Orang kusta ini datang pada saat dia masih sakit dan tidak layak, karena itu dia memohon. Kita sering berpikir bahwa kita baru boleh datang kepada Yesus disaat kita merasa baik dan menundukkan semua dosa dalam hidup, tetapi seharusnya pada saat kita merasa tidak layak, kita harus datang dan berlutut kepadanya, Yesus selalu bersedia.

Jadi, Mukjizat yang pertama adalah keterbukaan dia untuk didekati.

2. That’s the Miracle of His touch

Mulkjizat dari jamahan-nya, ingat apa yang dikatakan Hukum pada saat itu? Jangan sentuh! Tetapi penderita kuata ini datang dan menatap Yesus, dan di ayat Markus 1:41 Yesus tergerak dengan penuh belas kasihan.

Jadi pertanyaan-nya, Yang manakah duluan, sentuh dulu atau sembuh dahulu? Yesus bisa melakukan apa saja, Hukum berkata “Jangan Sentuh!”. Siapakah yang membuat Hukum ini? Tentu Tuhan, tetapi siapakah yang melanggar hukum ini? Allah atau Tuhan yang menjelma menjadi Manusia. Ini adalah Tuhan yang melanggar Hukum-nya sendiri.

Yesus sedang membuat pernyataan kepada penderita kusta dan dunia, bahwa penting-nya daripda jamahan-nya sesuatu yang tidak bersih, bahwa Yesus bersedia untuk ikut menanggung penderitaan mereka untuk bisa menghadirkan kesembuhan, sama seperti yang Dia lakukan untuk kita semua di kayu salib. Oleh Bilur-nya kita disembuhkan.

Tuhan Yesus tidak memanggil Gereja-Nya dan orang percaya untuk menjadi Tempat Karantina.

Bayangkan Rumah sakit yang tidak boleh ada bakteri dan kuman yang masuk kesana, dimana semua pasian mereka mati, dan dokter bahagia karena tidak terjangkit bakteri, dan tidak menyentuh siapa-pun juga.

Kita tidak dipanggil untuk menjauhkan diri dari “infeksi”, kita ada di dunia, hanya saja tidak menjadi serupa dengan dunia, Kita ada di dunia untuk memenangkan Jiwa.

Kita hidup dimana kesakitan, penyakit dan kedukaan yang begitu menjangkit (infectious), dan kita jadi belajar untuk menjaga jarak. Tetapi mengapa Yesus bergaul dengan orang berdosa?

Pernahkan kita berkunjung ke toko anti, yang penuh dengan barang pecah belah, dan ada sign “Don’t Touch”, seriap hari kita masuk ke toko-Nya Tuhan dan penuh dengan harta benda yang bernilai berharga, itulah “Manusia”, setiap individu punya harga yang mahal, baik anak muda atau orang tua, single atau menikah, hitam atau putih, setiap ras, bijak atau bidoh, kudus ataupun pelacur, Tuhan bicara tentang semua dari mereka, dan semua ini seharga Nilai Hidup Anak Tuhan, jadi ada Big Sign di Toko Tuhan yang berteriak, “Please Touch Them!”, atau “Tolong Jamah mereka semua!”

Mungkin kita merasa terlalu takut, sibuk, tetapi hanya pada saat mereka disentuh, Yesus bisa menjamah mereka, Seperti si penderita Kusta yang menjamah Yesus pertama kalinya dalam sejarah, dan si kusta tidak menularkan penyakit-nya, dan sebaliknya Yesus menularkan kehidupan dan kesehatan kepada si penderita kusta, karena sakit penyakit tidak bisa ada di tempat bersamaan dengan Kuasa Yesus.

Dosa dan kesengsaraan bukan satu-satunya yang bisa menular, Iman juga bisa menular, Tertawa dan Antusiasisme juga bisa menular.

Jadi, Rahasia untuk menghidupi kehidupan spiritual bukan-lah mengisolasi diri kita, Yesus tinggal di dalam lingkungan yang terkontaminasi, tapi itu tidak menularkan kepadanya, rahasianya adalah hidup yang penuh dengan Yesus, penuh dengan Roh Tuhan, sehingga pada saat kita menjamah dunia, kita tidak tertular dan sebaliknya kita menularkan Firman yang penuh dengan Kasih Tuhan.

Kalau saya Tuhan, saya tidak mau dekat dunia ini, Secara moral dan jasmani Bumi sangatlag kotor dan hal yang mudah untuk Bumi adalah dikarantina saja, tetapi Tuhan mengirim Yesus ke dunia untuk menjamah kita semua.

Supporti Verse – “Watch out!” Jesus warned them. “Beware of the yeast of the Pharisees and Sadducees.” Matthew‬ ‭16:6‬ ‭NLT‬‬

“Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.” ‭‭Matius‬ ‭16:6‬ ‭TB‬‬

“Dan Ia berkata lagi: “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” ‭‭Lukas‬ ‭13:20-21‬ ‭TB‬‬

“He also asked, “What else is the Kingdom of God like? It is like the yeast a woman used in making bread. Even though she put only a little yeast in three measures of flour, it permeated every part of the dough.” ‭‭Luke‬ ‭13:20-21‬ ‭NLT‬‬

Kalau kita taruh ragi di dalam tepung, maka akan mengembang, karena itu di Matius 16, Yesus memberitahukan kita bahwa kalau kita dekat dengan kelegalan dan exclusivity orang farisi yang menjauhkan diri, itu bisa menularkan. Hati-hari dengan ragi orang farisi, tetapi di Lukas 13, Dia berbicara menenai kerajaan surga utang seperti ragi, dan bisa mengembang, serta bisa mempengaruhi dunia.

Hidup kita yang terjangkit dengan Kasih Tuhan bisa menularkan dan mempengaruhi dunia. Dalam ayat Markus 1:45, si orang kusta yang disembukan, dengan Iman yang baru ini “menularkan-nya” kepada banyak orang, dan orang-orang mulai terjangkit.

Kekristenan ini lebih pada sesuatu yang kita tangkap, dibandingkan yang kita ajar. Mari kita sebarkan kuman iman, kuman kasih, kuman percaya, keluarlah ke dunia dan buat semua orang terjangkit kasih-Nya.

Mungkin itu adalah tetangga kita, atau rekan kerja, identifikasi orang-orang yang perlu kita jangkau. Kita melayani Tuhan yang bisa didatangi, dan Dia tidak peduli apa yang orang lain pikirkan, mendobrak isolasi, dan menjamahi. Tuhan rindu semua yang bisa menular yang ada pada diri kita bisa menularkan pada dunia.

Datang-lah pada Tuhan, minta Dia untuk menjamah kita meski kita tidak merasa tidak layak.

Temukan siapa orang-orang yang kita tidak layak sentuh, datangi mereka, dan jamah mereka.

Di gereja saya, saya selalu mau untuk menularkan berita baik, tidak peduli masa lalu dan background mereka, Yesus tidak akan bisa ditolak sama sekali. Dia tidak terimindasi oleh masa lalu, atau masalah yang kita hadapi, jika kita meminta kepada-Nya, Dia akan menjamah kita.

Ingat kisah Yesus di bait suci? Orang farisi datang berdoa, dan membanggakan diri mereka yang begitu suci, tidak pernah berzinah, memberikan perpuluhan, dsb, dan tidak seperti Pemungut Cukai.

Yesus melihat itu semua, dan berkata kepada muridnya, bahwa ada juga orang yang jahat, memohon dan menepuk dada-nya agar diampuni Tuhan. Yesus berkata kepada Murid-nya bahwa orang itu pulang dibersihkan, sementara orang agamawi malah tidak menerima apa- apa, itulah kehidupan Yesus, dimana dia sangat bisa didatangi, Jangan pernah menghakimi saat melihat orang yang tidak sama dengan kita.