JPCC Online Service (27 Juni 2021)
Salam sejahtera bagi Saudara semua, di mana pun Saudara berada. Saya berdoa, supaya sukacita dan damai sejahtera Tuhan yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiran kita, serta menjadi kekuatan bagi kita semua di dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari, di dalam perlindungan dan kasih karunia Tuhan yang sempurna.
Tidak terasa, kita sudah sampai di minggu yang terakhir pada bulan Juni ini, untuk menyelesaikan tema bulanan kita, yaitu tentang “TRANSFORMASI“. Saya percaya, kita semua sudah diberkati dan belajar begitu banyak selama tiga minggu terakhir ini, tentang transformasi atau perubahan yang bisa terjadi di dalam kehidupan kita sebagai orang-orang percaya.
Nah, hari ini izinkan saya untuk menambahkan beberapa hal yang saya percaya akan melengkapi pengetahuan dan pengertian kita tentang transformasi atau perubahan hidup, serta membantu kita untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mari kita lihat kembali dalam kitab Roma 12:2. Salah satu ayat firman Tuhan yang banyak menjadi dasar atau acuan dari tema pengajaran kita sepanjang bulan ini.
Saya akan membacakannya dari terjemahan versi The Message, namun kali ini, saya ingin mengupasnya satu per satu, kalimat per kalimat, agar kita dapat memetik beberapa pelajaran yang berharga dari ayat yang luar biasa ini.
Opening Verse – Don’t become so well-adjusted to your culture that you fit into it without even thinking. Roma 12:2 (MSG)
Jangan menjadi nyaman dengan budaya yang ada di sekitar kehidupanmu— kehidupan Saudara dan saya— sehingga engkau menyesuaikan diri atau hidup di dalamnya, tanpa berpikir lagi. Atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya, seringkali kita temukan dengan tulisan “Jangan menjadi serupa dengan dunia ini.”
Tahukah Saudara, bahwa salah satu tujuan dari Rasul Paulus pada saat ia menuliskan surat ini kepada jemaat di Roma, adalah untuk menasihati mereka bagaimana mereka seharusnya bersikap— terhadap pemerintah, terhadap satu sama lain— di tengah-tengah tekanan budaya, politik, dan cara hidup serta konflik yang terjadi di antara mereka.
Lalu pada kalimat berikutnya dilanjutkan demikian [Romans 12:2 (MSG)]: “Instead, fix your attention on God. You’ll be changed from the inside out.”
Sebaliknya, arahkan pandanganmu, perhatianmu, kepada Tuhan, maka hidupmu akan diubahkan dari dalam keluar. Atau dengan kata lain Paulus ingin mengingatkan mereka, agar mereka memperhatikan apa yang penting, apa yang menjadi dasar, yang membangun kehidupan mereka sebagai orang percaya.
Karena dasar tersebut menentukan perubahan hidup seperti apa yang akan terjadi di dalam diri mereka. Selama dua minggu terakhir ini kita belajar banyak, bahwa walaupun kita tahu, bahwa kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, tapi hati dan pikiran kita tidak serta merta akan menjadi serupa, dengan sifat, cara berpikir dan karakter Allah.
Kita perlu untuk bertumbuh dan menghabiskan waktu bersama Allah Bapa; spending time with God the Father, dengan meluangkan waktu untuk mengenal Dia melalui firman-Nya, dan menjalani hidup bersama dengan-Nya, melalui nilai-nilai kebenaran yang diajarkan-Nya kepada kita semua, sehingga hati dan pikiran kita diubahkan dari dalam keluar.
Dan ini yang terjadi, ketika kita meletakkan pandangan dan perhatian kita kepada Tuhan, dan banyak menghabiskan waktu bersama dengan-Nya, kita akan terus diubahkan menjadi orang yang seperti ini:— dilanjutkan di dalam Roma 12:2 tadi— Readily recognize what he wants from you, and quickly respond to it.
Sigap dan siap untuk mengenali apa yang Tuhan mau dari kita, apa yang Tuhan mau kita lakukan dalam kehidupan kita, dan dapat dengan cepat menanggapi-Nya, memberikan respon kepada-Nya.
Sharing Ps. Johannes Thelee – Saya sering melihat hal ini terjadi di dalam hubungan antara saya dengan anak-anak saya. Semakin sering saya dan anak-anak saya menghabiskan waktu bersama-sama, semakin mereka bisa mengenali apa yang ada di dalam hati saya, sebagai bapanya [mereka], apa yang saya ingin mereka lakukan dan semakin cepat mereka bisa menanggapinya.
Semakin sering mereka memberikan respons untuk menanggapinya, maka semakin cepat pula mereka mengalami perubahan dan bertumbuh seperti apa yang diharapkan. Demikian pula halnya, dengan kita dan Tuhan.
Itu sebabnya, sangat menarik, ketika kita melihat bagaimana dua orang atau lebih bisa berada dalam ruangan yang sama atau mengikuti ibadah online yang sama, mendengarkan khotbah atau pesan firman Tuhan yang sama, menerima penggembalaan yang sama, tapi herannya bertumbuh dengan cara atau kecepatan yang berbeda-beda.
Ada yang bertumbuh dengan cepat secara rohani, ada juga yang bertumbuhnya lebih lama daripada yang lain. Bahkan ada juga yang tidak bisa bertumbuh atau terhambat pertumbuhannya. Sebab perhatikan ini: respons kita menentukan bagaimana transformasi bisa terjadi dalam kehidupan kita. Our response determines our transformation.
Bagaimana kita meresponi setiap rencana Tuhan, kehendak Tuhan, perintah Tuhan, di dalam kehidupan kita, sangat menentukan atau mempengaruhi bagaimana transformasi tersebut, perubahan hidup tersebut, bisa terjadi di dalam kehidupan kita.
Semakin sering kita meluangkan waktu bersama dengan Tuhan untuk semakin mengenal karakter dan kepribadian-Nya, dan apa yang menjadi kehendak Tuhan— the will of command— atas kehidupan kita, maka respons kita terhadap kehendak atau perintah Tuhan tersebut, akan mendatangkan perubahan demi perubahan terjadi dalam perjalanan kehidupan kita. Mari kita lanjutkan di dalam ayat ini karena kemudian dikatakan demikian.
Supporting Verse – Unlike the culture around you, always dragging you down to its level of immaturity, God brings the best out of you, develops well-formed maturity in you. Roma 12:2-3 (MSG)
Tidak seperti budaya yang ada di sekitar kamu, yang selalu menarik kamu turun kepada tingkat ketidakdewasaannya. Tapi Tuhan selalu ingin membawa keluar yang terbaik dari dalam dirimu— dari dalam diri Saudara dan saya. Membangun kedewasaan yang matang, di dalam dirimu, di dalam diri kita semua.
Bentuk atau hasil atau buah dari transformasi kehidupan, adalah—sebenarnya—kedewasaan. The fruit of transformation is maturity. Itu sebabnya transformasi tidak bisa terjadi secara instan, secara langsung, dengan cepat begitu saja. Kalau terjadi secara instan, biasanya tidak sehat.
Sama seperti makanan-makanan instan yang kita makan, biasanya juga tidak sehat. Transformasi yang sejati berlangsung sepanjang umur hidup kita.
Jadi kalau ada pertanyaan, “Berapa lama sih transformasi bisa kita lihat hasilnya dalam kehidupan kita?” Jawabannya adalah: seumur hidup kita.
Karena buah atau hasil daripada transformasi adalah kedewasaan; kedewasaan adalah proses yang terus-menerus terjadi di dalam kehidupan kita. Namun, bisa jadi, salah satu alasan atau tantangan mengapa transformasi sulit atau belum benar-benar bisa terjadi di dalam kehidupan kita, adalah karena kita memiliki harapan atau cara pandang yang salah tentang bentuk, cara kerja, durasi
atau hasil dari transformasi tersebut.
Sharing Ps. Johannes Thelee – Saya jadi teringat, dengan anak saya yang paling kecil. Akhir-akhir ini, dia lagi suka menonton acara kompetisi pencarian bakat, yang banyak dilakukan di negara yang berbeda-beda, seperti di Amerika, Inggris dan ada juga yang di benua Asia. Sebagian besar dari Saudara, pasti tahu acara apa yang saya maksudkan.
Namun, karena usia anak saya yang masih kecil, yang masih anak-anak, dia seringkali berpikir bahwa dengan menirukan saja gaya dari penampilan yang dia suka dalam kompetisi tersebut— apalagi kalau yang akhirnya penampilan tersebut menjadi juara— dia pun merasa bahwa dia bisa segera ikut kompetisi tersebut, dan menjadi juara dengan mudah dan dengan cepat.
Tapi tentunya, karena usianya yang masih anak-anak, dia belum begitu mengerti bahwa dibutuhkan usaha yang keras; kerja keras, semangat juang yang tinggi, pantang menyerah, kemampuan untuk bangkit dari kegagalan dalam audisi demi audisi. Waktu mungkin yang bisa jadi cukup lama diperlukan untuk latihan dan latihan dan latihan lagi, agar menguasai bakat yang akan ditampilkan, yang mungkin memang, pada akhirnya dapat membawa semacam transformasi, dalam kehidupan seseorang, ketika akhirnya ia bisa menjadi juaranya dalam kompetisi tersebut.
Namun, kita sama-sama tahu, bisa jadi terkadang, ada di antara kita yang juga berpikir demikian; seperti anak saya yang masih kecil tersebut. Kita berpikir, kalau transformasi terjadi dalam kehidupan kita, maka kita akan segera dengan cepat menjadi kaya atau menjadi terkenal, memiliki begitu banyak followers di media sosial kita, menjadi orang yang berkuasa atau memegang jabatan yang tinggi, sanggup untuk melakukan apa saja yang kita mau. Padahal, Tuhan Yesus berkata demikian, di dalam Matius 16:26 (BIMK); dikatakan bahwa :
Supporting Verse – Apa untungnya bagi seseorang, kalau seluruh dunia ini menjadi miliknya tetapi ia kehilangan hidupnya? Dapatkah hidup itu ditukar dengan sesuatu? Matius 16:26 (BIMK)
Tahukah Saudara, bahwa berkat kekayaan, pengaruh, menjadi terkenal, posisi, otoritas dan kuasa, atau bahkan kebahagiaan, merupakan sebuah by-product atau akibat dari kedewasaan yang sejati di dalam Kristus. Ketika kita bertumbuh menjadi semakin lama semakin dewasa, akibatnya kita jadi bisa menikmati hasil daripada kedewasaan tersebut.
Jangan mengejar apa yang dapat datang dengan sendirinya dalam kehidupan kita. Itu sebabnya, Tuhan lebih tertarik untuk mengubah hidup kita, daripada sekadar mengubah situasi atau keadaan dalam kehidupan kita. Tentunya bagi Tuhan, bisa saja, gampang, untuk mengubah situasi dalam kehidupan seseorang— untuk menjadi kaya, menjadi terkenal, menjadi berkuasa, buat Tuhan gampang untuk melakukan semuanya itu— tapi apa gunanya kalau kita mendapatkan semuanya itu, tapi kita tidak pernah bertumbuh di dalam kepribadian kita menjadi dewasa, menjadi serupa dengan Dia; sebab menjadi dewasa artinya menjadi orang yang bertanggung jawab kepada Tuhan atas hidup yang dikaruniakan-Nya kepada kita.
Bertanggung jawab bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Orang yang dewasa adalah orang yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Itu sebabnya, berkat dan perkenanan (blessings and favor), akan datang dengan sendirinya kepada orang yang dewasa, yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tujuan dari kehidupan yang Tuhan karuniakan kepada kita ini, adalah sebenarnya untuk menjadi dewasa; menjadi serupa dan segambar dengan Kristus.
Supporting Verse – Hendaklah kita semakin dewasa secara rohani, dan terus bertumbuh menjadi seperti Kristus. Jadi, jangan lagi kita seperti anak-anak, yang mudah terpengaruh dan terbawa ke sana kemari oleh arus ajaran-ajaran baru. Efesus 4:13b-15 (TSI)
“Jangan menjadi serupa dengan budaya yang ada di sekitar kita yang berubah-ubah,” yang cenderung akan membuat kita terombang-ambing, dengan ajaran yang berbeda-beda. Roma 12:2 (TB)
Karena ada banyak guru palsu yang menyesatkan dengan ajaran licik yang sengaja dibuat supaya kelihatan benar.
Supporting Verse – Sebaliknya, marilah kita berpegang terus kepada ajaran yang benar dan selalu saling mengasihi. Dengan begitu kita akan semakin bertumbuh menjadi seperti Kristus dalam semua sifat-Nya. Efesus 4:13b-15 (TSI)
Berarti kita, sebagai anggota-anggota tubuh Kristus akan semakin menyerupai Dia, yang adalah Kepala atas kita. Ketika kita melakukan perintah Tuhan, kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita, kita akan terus diubahkan; semakin menyerupai Dia yang adalah pimpinan, kepala atas kita semua.
Supporting Verse – Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Roma 8:29 (TB)
Izinkan saya untuk mengatakan ini kepada Saudara; mengikuti Yesus (to follow Jesus) adalah cara dan keputusan terbaik untuk kita bisa mengalami transformasi yang sejati terjadi dalam kehidupan kita. Following Jesus is the best way to experience transformation in our lives.
Kita semua butuh Yesus, melalui Roh Kudus-Nya, untuk terlibat setiap harinya, bahkan setiap saat dalam perjalanan perubahan kehidupan kita. Dialah sumber kekuatan, patokan dari perubahan yang sejati dalam kehidupan kita, atau seringkali kita kenal di dalam Alkitab, disebut sebagai “batu penjuru kita”; ”He is our cornerstone”, sebab tidak ada yang sempurna, selain Dia.
Itu sebabnya, kalau kita kembali kepada ayat firman Tuhan dalam Roma 12 tadi, kita akan menemukan bahwa sebelum ayat kedua— yang tadi sudah kita kupas bersama— sebenarnya Rasul Paulus juga menuliskan kalimat ini terlebih dahulu dalam ayat yang pertama; dikatakan dalam ayat yang pertama atau dalam ayat satu :
Supporting Verse – So here’s what I want you to do,— (jadi ini yang aku ingin engkau lakukan)— God helping you:— Tuhanlah yang membantu engkau, memberikan kasih karunia-Nya, kemurahan-Nya kepada engkau. Take your everyday, ordinary life— untuk membawa kehidupan kita setiap harinya—your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life—pada saat Saudara dan saya tidur, makan, pergi kerja dan berjalan di dalam kehidupan kita setiap harinya— and place it before God as an offering— mempersembahkan atau meletakkan itu semua kepada Tuhan, sebagai persembahan yang hidup. Romans 12:1 (MSG)
Jadi di sini, Paulus menjelaskan bahwa transformasi kehidupan kita, diawali dengan mempersembahkan atau menyerahkan segala aspek dalam kehidupan kita kepada Tuhan, di mana pun kita berada. Dengan kata lain, melibatkan Tuhan atau mengundang Tuhan untuk hadir dalam keseharian kita.
Menjadikan Tuhan sebagai patokan atau standar dari setiap perilaku kita, keputusan demi keputusan yang kita ambil, pada saat kita ada di rumah, di kantor, di dalam kamar sendirian, ketika kita lagi bergaul dengan orang lain— Tuhan juga hadir dalam pernikahan kita, dalam bagaimana kita memperlakukan suami atau istri kita, dalam bagaimana kita mendidik anak-anak kita, dalam bagaimana kita bekerja, atau puji Tuhan, bahkan, dalam bagaimana kita mencari pasangan hidup, dalam bagaimana kita bersikap dan berkata-kata dalam setiap keberhasilan, maupun ketidakberhasilan kita, dalam bagaimana kita ber-media sosial dan juga lain-lainnya.
Kehadiran Tuhan dalam hidup kitalah, yang membawa transformasi terjadi dalam kehidupan kita. Tuhan hadir untuk menolong kita, memberikan hikmat kepada kita dalam mengambil keputusan, dan membawa transformasi, perubahan hidup,
terjadi di dalam kehidupan kita, agar kita bertumbuh semakin dewasa dan mencerminkan kemuliaan Tuhan di dalam setiap aspek kehidupan yang kita persembahkan kepada Tuhan.
Di dalam kalimat berikutnya, pada Roma 12:1 (MSG) ini, Paulus menuliskan juga begini, Embracing what God does for you is the best thing you can do for him. Merangkul, menerima segala sesuatu yang Tuhan lakukan bagi kita adalah hal terbaik yang kita bisa lakukan, bagi Tuhan atau untuk Tuhan.
Penyembahan kita kepada Tuhan, adalah ekspresi cinta kita, kasih kita kepada Yesus, yang diwujudkan dalam ketaatan kita untuk melakukan perintah atau kehendak-Nya— “the will of command” tadi— bagi kehidupan kita. Sebab Tuhan Yesus yang sudah terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya, kemurahan-Nya kepada kita, melalui karya salib-Nya, dan keselamatan yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita.
Perhatikan ini: Kasih Kristus merupakan benih lahirnya transformasi dalam hidup kita. Sebab transformasi yang sejati, tidak terjadi hanya karena kita mentaati sebuah hukum atau peraturan saja. Karena kalau itu yang kita lakukan, maka bukan transformasi yang terjadi, tapi hanya kewajiban belaka yang kita kerjakan.
Tetapi transformasi terjadi sebagai akibat dari hubungan dengan sang Sumber Kasih itu. Yesus Kristus adalah kegenapan dari hukum Taurat
dan segala sesuatu yang dituliskan dalam kitab para nabi.
Supporting Verse – “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang— Yesus datang— bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Matius 5:17 (TB)
Itu sebabnya, Dia berikan kepada kita perintah yang baru, yaitu supaya kita, “Saling mengasihi, sama seperti Aku, Yesus, telah mengasihi kamu.” Mari kita izinkan kasih Kristus datang dan mengubah kehidupan kita, supaya kita bisa hidup bagi Kristus.
Don’t just die for Him, but dare to live for Him. Jangan hanya berkata, bahwa kita berani mati bagi Tuhan Yesus; bahkan kebenarannya, in fact, Yesuslah, Tuhan Yesuslah yang sudah mati dan bangkit kembali untuk Saudara dan saya. Supaya kita tidak perlu mati bagi Dia, kita bisa dan berani hidup untuk Dia, memuliakan nama-Nya, melalui perubahan demi perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita. Supaya orang melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa yang di surga. Amin.
P.S : Hi Friends! I need a favor, please do let me know if any of you know a freelance opportunity for a copywriter (content, social media, press release, company profile, etc). My email is vconly@gmail.com, Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!



