Weapon of Worship By Ps. Alvi Radjagukguk

JPCC Online Service (28 August 2022)

Sekali lagi saya ingin menyapa setiap Saudara yang mengikuti ibadah ini secara daring, dari mana pun Saudara mengikutinya, mungkin dari rumah, dari kamar rumah sakit, dari kantor, atau ada beberapa dari Saudara yang senang mengikuti ibadah di hari Senin. Di mana pun Saudara mengikuti ibadah daring hari ini, saya berdoa engkau akan mengalami kuasa Tuhan di mana pun Saudara berada.

Buka catatan Saudara. Kenapa Adam jatuh ke dalam dosa? Karena dia lupa mencatat. Harusnya lebih lucu dari itu sih. Ya, silakan buka catatan Saudara. Judul firman Tuhan hari ini “Weapon of Worship“.

Setiap Saudara dan saya punya pergumulannya masing-masing. Setiap kita punya peperangannya masing-masing. Beberapa dari kita bergumul dengan suara-suara sumbang dari orang lain, dari masa lalu, yang mungkin membuat kita bergumul dengan identitas diri, sehingga kita jadi orang yang merasa tidak aman, kurang percaya diri, dan kita terjebak dalam yang bernama pembuktian diri.

Kita kerja, kita usaha, kita melayani Tuhan hanya untuk membuktikan sesuatu. Ada dari kita yang bergumul dengan kekecewaan dan ketidakpengampunan, karena mungkin pernah dilukai dengan begitu dalam oleh orang lain, sehingga hari ini kita bergumul untuk bisa percaya sama orang, kita bergumul untuk melepaskan pengampunan kepada mereka yang melukai kita.

Ada juga mungkin dari Saudara yang bergumul dalam berkata ‘tidak’ tanpa merasa bersalah, karena secara alami kita orang yang suka menyenangkan orang lain, atau istilah lebih kerennya: ”approval addict.”

Kita begitu kecanduan dengan persetujuan dari orang. Kita berkata, melakukan sesuatu, hanya untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain, sehingga apa kata orang lain memiliki bobot lebih tinggi ketimbang apa kata firman Tuhan tentang kita.

Ada beberapa dari Saudara yang bergumul secara mental, bergumul dengan rasa berduka yang begitu dalam karena kehilangan orang yang begitu amat sangat dekat dengan Saudara.

Ada dari Saudara yang bergumul, berperang dengan depresi, karena hilangnya pekerjaan, turunnya penghasilan secara drastis. Atau mungkin ada yang bergumul dengan yang namanya keterikatan, dalam bentuk apa pun, baik terikat terhadap substansi, atau terikat kepada aktivitas tertentu—tidak bisa tidak melakukan sesuatu.

Ada Saudara yang mungkin hari-hari ini merasa lelah, kewalahan, letih, sehingga pandangan Saudara tentang kehidupan, tentang orang lain— semuanya sinis. Dulu kita sering melakukan hal-hal yang disukai, selalu ada waktu, tetapi ketika merasa lelah, hal-hal yang dulu kita sukai, kita tidak lagi bergairah untuk melakukan itu.

Dan karena mungkin sudah terlalu lama terisolasi, tanpa kita sadar, sebenarnya kita mengalami yang namanya “social anxiety”, jadi takut berinteraksi sama orang, menjadi begitu sadar diri, atau bahkan kita khawatir berlebihan karena takut terpapar.

Mungkin ada Saudara yang hari-hari ini bergumul dengan sakit penyakit, kelemahan secara fisik yang terjadi berulang-ulang, apa pun namanya, atau beberapa dari Saudara yang menyaksikan dari kamar rumah sakit, yang beberapa waktu yang lalu mendapat vonis tentang kondisi kesehatan, dan Saudara sekarang sulit untuk melihat masa depan yang lebih baik.

Ada beberapa dari Saudara yang mungkin mati rasa secara rohani, tidak bisa lagi merasakan hadirat Tuhan, tidak bisa lagi merasakan kebaikan Tuhan, kehilangan gairah untuk berdoa, baca firman, beribadah, datang ke DATE.

Segala sesuatu yang “berbau” rohani, Saudara katakan “No way, Jose.” Saudara, saya pernah mengalami hampir semua yang saya katakan tadi. Saudara tidak sendirian.

Bulan ini kita berbicara tentang penyembahan. Seorang teolog namanya Tim Keller berkata: “The word ‘worship’ is from Old English ‘worth-ship.’” “Kata ‘worship’ atau penyembahan berasal dari kata Inggris kuno ‘worth-ship’”— yaitu waktu kita memberikan nilai tertinggi.

Apa pun yang paling kau hargai, apa pun yang paling kau cintai, apa pun yang menjadi sumber keberartian dan rasa aman terbesarmu, itulah yang sebenarnya sedang kita sembah.

Ada yang menemukan rasa aman terbesar, sumber keberartiannya dari karir. Engkau menyembahnya dalam hatimu. Tanpa kita sadar, mungkin kita menaruh hobi sebagai prioritas lebih tinggi dari perkara-perkara rohani.

Kita mungkin menaruh apa kata orang lebih tinggi posisinya daripada apa kata firman Tuhan. Itu yang kita sembah sebetulnya. Kata “worship” pertama kali muncul di Alkitab, yaitu di kitab Kejadian 22:5 (BIMK).

Opening Verse – Lalu ia berkata kepada kedua hambanya itu,—ini kata Abraham kepada kedua hambanya waktu dia naik ke gunung, di tempat Tuhan menyuruh dia untuk menyembelih Ishak— “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini. Saya dan anak saya akan pergi ke sana untuk menyembah TUHAN,—baca sama-sama dari kata ‘nanti’—  nanti kami kembali kepadamu.” Kejadian 22:5 (BIMK)

Kata menyembah di sini berasal dari bahasa Ibrani “shachah”, artinya sujud,untuk membungkukkan diri, sujud menyembah Tuhan. Abraham dan Ishak naik ke atas gunung, bukan untuk pesta, melainkan untuk sujud menyembah Tuhan— sebuah postur kerendahan hati, sebuah postur yang menandakan pengagungan kepada Tuhan, mengekspresikan bahwa Tuhan adalah pribadi yang paling tinggi.

Menariknya, kata ‘penyembahan’ pertama kali muncul justru waktu iman Abraham diuji oleh Tuhan ini.

Abraham sangat penuh dengan iman, sehingga dia berkata kepada kedua bujangnya bahwa dia dan Ishak akan kembali. Itu sebabnya dia katakan, “Kami akan kembali.” Seharusnya kalau dia naik ke atas gunung, disuruh menyembelih Ishak, yang kembali harusnya hanya Abraham. Namun karena dia penuh iman, dia katakan, “Kami naik, nanti kami akan kembali”. Sebuah perkataan iman bukan?

Surat Paulus kepada jemaat di Ibrani menjelaskannya dengan begitu gamblang.

Supporting Verse – Allah menguji iman Abraham. Allah menyuruhnya untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban. Abraham menaati karena ia beriman. Ia sudah menerima janji-janji Allah. Allah sudah mengatakan kepadanya, “Dari Ishaklah, keturunanmu akan datang.” Tetapi Abraham siap mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya. Ia melakukan ini karena ia beriman. Abraham percaya bahwa Allah dapat membangkitkan Ishak dari kematian.— sekalipun dia menyembelihnya— Dan benar, ketika Allah menghentikan Abraham agar tidak membunuh Ishak, ini seolah-olah ia menerimanya kembali dari kematian. Ibrani 11:17-19 (AMD)

Saudara, Abraham tahu bahwa tidak mungkin Tuhan tidak memenuhi janji-Nya. Abraham tahu bahwa Tuhan bukan “omdo” (omong doang), Dia bukan pembohong, yang hanya bisa berjanji dan tidak bisa menepati. Menariknya, Saudara, sampai kejadian ini dalam Alkitab, belum pernah dicatat adanya orang mati yang dibangkitkan.

Jadi pertanyaannya, berdasarkan apa Abraham memiliki iman, kalau belum ada preseden yang membuat iman Abraham punya landasan? Karena kalau sudah pernah ada orang mati dibangkitkan, lumrah untuk dia berkata, “Dulu ada orang mati yang dibangkitkan, jangan-jangan kalau nanti setelah saya sembelih Ishak, nanti juga Tuhan juga bisa membangkitkan dia.”

Abraham adalah manusia biasa, sama seperti Saudara dan saya. Meskipun tidak dicatat, saya yakin betul Abraham bergumul ketika Tuhan minta Ishak, anak satu-satunya. Bayangkan, waktu dia mulai membelah kayu untuk korban, di perjalanan naik keledai tiga hari, “Ini benar tidak, yang bicara Tuhan atau bukan ya?”

Ada peperangan batin yang terjadi dalam dirinya. Apalagi waktu dia mulai menaruh kayu di atas pundaknya Ishak, dia mulai menyusun kayu di atas mezbah, dia mulai ikat si Ishak, dia taruh Ishak di atas mezbah, dan dia mulai ambil pisau untuk menyembelih Ishak.

Dengarkan saya, iman Abraham terhadap karakter Tuhan lebih kuat daripada semua respon manusiawinya. Abraham mengekspresikan siapa yang dia beri nilai paling tinggi dalam hidupnya, siapa yang layak untuk ada di tempat tertinggi dalam hidupnya, siapa yang layak untuk dia sembah.

Dia mengasihi Tuhan melampaui anak yang didapatkannya di tengah kemustahilan. Karakter Tuhan dan janji Tuhan menjadi sumber rasa aman terbesar untuk seorang Abraham. Saya ulangi sekali lagi. Karakter Tuhan dan janji Tuhan menjadi sumber rasa aman terbesar untuk seorang Abraham.

Di tengah-tengah pergumulan yang menguji imannya, Abraham memilih untuk menyembah Tuhan. Dia memilih untuk naik ke atas gunung, untuk “shachach”, untuk menyembah, untuk menaruh Tuhan di posisi tertinggi.

Abraham memilih untuk menggunakan penyembahan sebagai senjatanya, sehingga dia bisa memberi respon yang benar di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya judul firman Tuhan hari ini, sekali lagi saya ingatkan, “Weapon of Worship”.

Ada tiga hal yang Saudara bisa harapkan waktu Saudara menggunakan penyembahan sebagai senjatamu dalam peperanganmu, dalam pergumulanmu.

Yang pertama, Penyembahan memindahkan fokus kita, yang tadinya hanya mencari kesembuhan, menjadi ingin bertemu dengan sang Penyembuh.

Itulah penyembahan. Kita mengubah, memindahkan fokus kita, dari mendapatkan hadiah, kepada sang Pemberi. Sering kali yang menjadi masalah terbesar, Saudara, bukan masalah itu sendiri, melainkan perspektif kita terhadap masalah tersebut—cara kita melihat, cara kita memandang apa yang sedang kita gumuli. Itu yang menjadi masalah terbesar.

Sharing Ps. Alvi – Dulu saya berpikir begini, “Kayaknya memang saya tidak pernah bisa jadi kurus deh.” Ada yang berpikir sama dengan saya?. Terima kasih untuk kejujurannya.“ Kayaknya memang saya ditentukan untuk menjadi minder deh.”

Dulu ya, saya beri tahu ya, salah satu teman SD saya melihat saya memimpin pujian di JPCC, dia berkata, “Kamu ingat tidak waktu kelas 3 SD? Waktu kita ujian seni suara, setiap orang harus pilih lagu untuk bernyanyi di depan kelas.

Kamu ingat tidak, kamu nyanyi di kuping guru saking kamu malu:

‘Ampar-ampar pisang, pisangku balum masak…’?”

Saya membebaskan diri saya dari apa kata orang tentang diri saya. Penyembahan tidak mengubah masalah, tapi penyembahan mengubah perspektif kita terhadap masalah. Dan memuji Tuhan dalam sikap penyembahan akan memindahkan fokus kita kepada Tuhan.

Fokus kita berpindah dari masalah kepada sang Pemecah masalah. Kadang-kadang masalah itu menjadi lebih besar dari proporsinya, karena kita memilih untuk mengasah dan mengingat masalahnya. Kita mengasah dan mengingat masalahnya.

Harusnya yang kita asah, dan kita ingat, Siapa yang bisa menyelesaikan masalah ini. Itu yang harusnya kita lakukan. Jadi berhenti mengasah dan mengingat masalahmu. Mulai asah dan ingat sang Pemecah masalah.

Supporting Verse – Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!—baca sama-sama ayat kedua: Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Mazmur 103:1-2 (TB)

Memuji Tuhan mengondisikan kita untuk mengingat setiap hal baik yang sudah Tuhan buat bagi Saudara. Kalau Saudara tidak bisa tahu apa itu, Saudara masih bisa bernafas dengan baik, itu mukjizat terbesar Tuhan hari ini buat Saudara. Halo? Terjemahan bahasa Inggrisnya menjelaskan dengan lebih deskriptif lagi.

Supporting Verse – Bless (affectionately, gratefully praise) the Lord, O my soul;—jiwaku, pikiranku, perasaanku, kehendakku, meskipun kamu tidak rasa ingin memuji Dia, puji Dia saja! and all that is [deepest] within me, bless His holy name! Psalm 103:1 (AMPC)

Pujilah Dia dengan segenap hatimu, dengan memaksudkan apa yang kita nyanyikan, bukan dengan sekadar bernyanyi. Sahabat saya, the Surrender Man, teman dari Superman, Sidney Mohede, katakan:—ya dia lebih sakti daripada Superman.

Surrender Man— “Persepsi kita akan berubah ketika kita memandang Yesus dalam pengagungan dan dalam penyembahan.” Baca sama-sama. Satu, dua, tiga. “Persepsi kita akan berubah ketika kita memandang Yesus dalam pengagungan dan dalam penyembahan.”

Saat fokus kita berpindah dari masalah, pergumulan, peperangan, kepada Tuhan, kita mulai bisa melihat segala pergumulan yang kita hadapi dari perspektifnya Tuhan. Suatu saat suku Yehuda dan penduduk di Yerusalem, yang dipimpin raja Yosafat, akan diserang oleh bani Moab, bani Amon, dan juga pasukan Meunim. Roh Tuhan datang untuk memindahkan fokus mereka.

Supporting Verse – : Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya,— panjang ya namanya. seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, dan berseru: ”Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, BERSAMA-MU firman TUHAN kepadamu:—baca sama-sama yuk, dari kata ‘jangan’. Satu, dua, tiga. Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.—ulangi lagi. sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. 2 Tawarikh 20:14-15 (TB)

Saya tidak tahu apa yang menjadi peperangan dan pergumulan Saudara, tapi Alkitab saya berkata bahwa bukan Saudara yang sedang berperang, melainkan Tuhan yang akan berperang buat Saudara. Ini adalah hari di mana Saudara mendapatkan kemenangan, hari di mana Saudara katakan, “Hari ini saya mau berhenti berperang bagi diri saya sendiri. Karena peperangan ini bukan milik saya, melainkan milik Tuhan.”

Saya ajak kita bangkit berdiri. Kita langsung praktek hari ini. Simpan telepon genggammu di sakumu, dan mari kita praktek. Maksudkan yang kita nyanyikan. Saudara siap? Katakan “you take”.   Sesi Praise & Worship :  

Links : What the Enemy Meant for Evil, You turn it for Good. SEE A VICTORY Official Video Lyrics – YouTube   “YOU TAKE WHAT THE ENEMY MEANT FOR EVIL AND YOU TURN IT FOR GOOD YOU TURN IT FOR GOOD”   “You take, you take… YOU TAKE WHAT THE ENEMY MEANT FOR EVIL AND YOU TURN IT FOR GOOD YOU TURN IT FOR GOOD”   “YOU TURN IT FOR GOOD I’M GONNA SEE A VICTORY FOR THE BATTLE BELONGS TO YOU, LORD – Amen!”   Nyanyian ini bilang, lagu ini bilang, – “Tuhan, Engkau ambil apa yang musuh lakukan kepadaku untuk kejahatan, tetapi Engkau hanya bisa memutarbalikannya untuk mendatangkan kebaikan.”   Saudara, ceritamu belum selesai. Siapa yang bilang Saudara akan kalah? Saudara tidak berperang untuk mendapatkan kemenangan. Saudara berperang dari kemenangan, karena Tuhan sudah mengalahkan maut.   Kalau kau percaya ini, berikan tepuk tangan buat Dia. – Ya! Ya!    Seorang nabi bernama Elisa berkali-kali menggagalkan usaha Raja Aram untuk menyerang bangsa Israel. Raja Aram menjadi sangat marah dan memerintahkan tentaranya untuk menangkap nabi Elisa, yang waktu itu sedang berada di kota Dotan bersama dengan bujangnya. 2 Raja-Raja.    Supporting Verse – Maka dikirimnyalah ke sana kuda serta kereta dan tentara yang besar. Sampailah mereka pada waktu malam, lalu mengepung kota itu. Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: ”Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” Jawabnya: ”Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”— Baca sama-sama ayat 17. Satu, dua, tiga. Lalu berdoalah Elisa: ”Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.”— saya bacakan buat Saudara. Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. 2 Raja-Raja 6:14-17 (TB)   Saudara, dalam penyembahan kita, kita perlu menaikkan doa yang sama supaya mata rohani kita melihat sebenarnya siapa yang menyertai kita. Kehadiran masalahmu tidak perlu sebesar itu, karena hadirat Tuhan lebih besar dari kehadiran masalahmu.    Kehadiran masalah, tantangan kita hanya akan sebesar bagaimana kita mengizinkannya. Itu sebabnya, waktu Saudara ada dalam postur penyembahan di rumah, di kos, di Busway, di kantormu, di tempat usahamu, di gereja, katakan, “Tuhan buka mataku, untuk melihat sebenarnya siapa yang mengelilingi aku.”    Waktu kita pikir kita dikepung oleh masalah dan pergumulan, minta Roh Kudus bantu supaya kita melihat bahwa sebenarnya kita dikelilingi oleh penjagaan Tuhan, perlindungan Tuhan, kebaikan, kesetiaan, kasih setia, Roh Kudus, hadirat Tuhan—itu yang mengelilingi kita. Bahkan meskipun kita tidak merasakannya, kita tidak melihat secara kasat mata bahwa Tuhan bekerja, kita tetap percaya bahwa Tuhan terus bekerja untuk mengubah apa yang iblis maksudkan untuk kejahatan untuk mendatangkan kebaikan buat kita.    Mari praktek sama-sama. – Aku terkepung, tapi aku dikelilingi oleh-Mu.   Sesi Praise & Worship 2 :  

Links : Michael W. Smith – Surrounded (Fight My Battles) [Lyrics] – YouTube   “IT MAY LOOK LIKE I’M SURROUNDED BUT I’M SURROUNDED BY YOU, Thank You for Your presence… IT MAY LOOK LIKE I’M SURROUNDED BUT I’M SURROUNDED BY YOU”   “BUT I’M SURROUNDED BY YOU – Come on, Church! THIS IS HOW I FIGHT MY BATTLES – Come on! THIS IS HOW I FIGHT MY BATTLES”   “EVEN WHEN I DON’T FEEL IT YOU’RE WORKING YOU NEVER STOP, YOU NEVER STOP WORKING”   Inilah cara engkau menghadapi peperanganmu. Bukan dengan mengasihani diri sendiri, melainkan dengan klaim kemenangan itu. Saudara, pada waktu pemimpin pujian minta Saudara menaikkan tangan Saudara, Saudara tidak harus menaikkan tangan Saudara, tapi ini yang terjadi waktu Saudara menaikkan tangan Saudara, ini bentuk ekspresinya, bahwa engkau berkata, “Tuhan, aku tidak mengerti, tapi Engkau yang mengerti.   Tuhan aku mengangkat tanganku. Aku tidak mau pegang kendali. Ambil kendalinya, Tuhan.” Waktu engkau mengangkat tanganmu, ini yang engkau katakan: “Tuhan, aku serahkan apa yang paling berharga buat aku, karena Engkau sudah selayaknya ada di tempat yang paling berharga.” Amin?   Yang kedua, penyembahan mengalahkan musuh-musuh kita.   Yang pertama, penyembahan memindahkan fokus kita dari masalah kepada sang Pemecah masalah, kepada Tuhan sendiri. Yang kedua, penyembahan mengalahkan musuh-musuh kita.    Saudara, peperanganmu bukan melawan suamimu, istrimu, apalagi mama mertuamu. Peperanganmu bukan melawan manusia, melainkan melawan kuasa kegelapan yang ingin kita terus hidup dalam kesia-siaan dan hidup dalam tipu muslihatnya.   Padahal bulan lalu kita dengar 1 Petrus 2, bahwa setiap Saudara dan saya sudah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Itu sebabnya kita perlu pakai senjata rohani, bukan alat-alat perang yang berasal dari kekuatan kita sendiri.   Supporting Verse – ‬‬‬‬Sama seperti seorang prajurit memakai perlengkapan perangnya, kalian pun harus memakai semua perlengkapan perang yang Allah berikan kepada kita. Dengan begitu, kalian dapat menolak tipuan Iblis. Karena kita berperang bukan melawan orang-orang lain di bumi ini. Tetapi kita berperang melawan roh-roh jahat dan semua kuasa yang memerintah roh-roh jahat itu. Mereka itulah yang sekarang menguasai dunia yang gelap ini dari langit di atas. Itulah sebabnya, kalian perlu memakai semua alat perang dari Allah itu. Jadi, waktu musuh menyerang, kalian tidak akan lari, tetapi kalian dapat lawan mereka dan tetap bertahan dengan teguh sampai perang berakhir. Jadi, berdirilah teguh. Peganglah ajaran yang benar dari Allah. Karena ajaran benar itu seperti ikat-pinggang yang akan membuat kalian siap untuk bertindak. Jalanilah hidup yang benar. Sebab hidup benar itu seperti baju besi yang akan melindungi kalian dari serangan musuh. Dan tetaplah berpegang kepada Kabar Baik. Berita itu membantu supaya merasa tenang dalam perlindungan Allah.—ini kalau orang-orang yang pegang firman Allah begini. Tenang dia. Berpegang kepada berita itu sama seperti memakai sepatu untuk berperang, supaya kalian tetap berdiri teguh. Selain itu, tetaplah percaya pada Tuhan.—bicara tentang iman. Percayamu itu adalah seperti perisai yang melindungi kalian dari semua anak panah berapi yang ditembak kepada kita dari Iblis. Yakinlah bahwa Allah sudah menyelamatkan kalian.—bukan “akan” ya? “Sudah” menyelamatkan kalian. Itu adalah seperti sebuah topi perang buat kalian.— baca dari kata “dan” yang kencang. Satu, dua, tiga. Dan peganglah semua perkataan Allah seperti pedang, karena perkataan-Nya adalah kekuatan dari Roh Kudus. Efesus‬ ‭6:11-17‬ (VMD)‬   Saudara, dari semua perlengkapan rohani yang disebut di Alkitab, hanya satu yang fungsinya untuk menyerang. Ada ketopong, topi, baju zirah, ikat pinggang, kasut kaki, tapi hanya satu yang fungsinya untuk menyerang, yaitu pedang, pedang firman Tuhan.    Waktu Saudara bernyanyi dalam penyembahan, Saudara sedang menggunakan pedang firman itu terhadap kuasa si jahat. Jadi kalau ada orang yang merundung Saudara, balas dengan nyanyian.    Halo? Kalau ada orang yang mencoba menjatuhkan Saudara, sembah Dia saja. Waktu Saudara bernyanyi dengan memaksudkan lirik yang Saudara nyanyikan, Saudara sedang menyanyikannya dengan iman, bukan karena kebiasaan.    Saudara siap praktek? Mari nyanyikan lagu ini bersama-sama.   Sesi Praise & Worship 3:  

Links : Raise A Hallelujah (Lyrics) ~ Bethel Music – YouTube   “Mari kita mulai berperang. I RAISE A HALLELUJAH – Come on, JPCC!”   “IN THE PRESENCE OF MY ENEMIES, I RAISE A HALLELUJAH, LOUDER THAN THE UNBELIEF”   “I RAISE A HALLELUJAH, MY WEAPON IS A MELODY, I RAISE A HALLELUJAH HEAVEN COMES TO FIGHT FOR ME – Woo!”   “I’M GONNA SING IN THE MIDDLE OF THE STORM, LOUDER AND LOUDER YOU’RE GONNA HEAR MY PRAISES ROAR, UP FROM THE ASHES HOPE WILL ARISE DEATH IS DEFEATED, THE KING IS ALIVE”   “Come on! – This is our promise Lord, that we will worship You, Lord. – Sing hallelujah!”   Daud menyanyi, menari buat Tuhan seperti orang gila. Saudara pernah lihat orang gila bernyanyi? Perhatikan Saudara sendiri saat datang ke konser orang yang paling Saudara suka. Ini bukan masalah tipe kepribadian. “Oh saya orangnya introvert, Pak. Saya bukan orang ekspresif.”    Ya, ya. Menurut saya kita tidak perlu bersembunyi di balik tipe kepribadian kita. Waktu kita memprioritaskan Tuhan, waktu kita memberi Tuhan nilai tertinggi, kita tidak peduli orang mau lihat kita jelek mukanya, orang mau berkata, “Kamu angkat tangannya kurang miring, bro. Harusnya di atas 45 derajat.” Saya tidak peduli! Tuhan tidak peduli apa kata orang waktu Dia mati buat Saudara. Halo?   Yang ketiga, yang terakhir, Penyembahan mendorong kita untuk menjadi tersedia buat Tuhan   Karena penyembahan bukan tentang kita mencoba mengambil, mendapatkan kesembuhan, mendapatkan ini, mendapatkan itu. Bukan, bukan. Penyembahan pada akhirnya adalah hanya tentang Tuhan.    Jadi waktu Saudara menyembah Tuhan dan belum mendapatkan kesembuhan, hadiah terbesarmu adalah engkau bertemu dengan sang Penyembuh, meskipun dalam keadaan belum sembuh. Itulah yang mama saya contohkan. Selama 13 tahun dia belum bertemu dengan kesembuhan total, tapi dia tahu bagian terbaiknya adalah bertemu dengan sang Penyembuh itu.    Peperangan yang terbesar adalah melawan diri sendiri, melawan ego kita, kenyamanan kita, melawan hidup dengan agenda kita sendiri, hidup untuk portofolio kita sendiri, hidup untuk kepentingan diri sendiri.   Supporting Verse – lihat ini, Saudara: Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: ”Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”   Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata:— baca sama-sama. ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”—baca yang kencang. Maka sahutku: ”Ini aku, utuslah aku!” Yesaya 6:1-3, 8 (TB)   Ini yang terjadi kalau orang bertemu dengan Tuhan dalam penyembahan. Dia tahu bahwa hidupnya bukan tentang dia lagi. Makanya Yesaya bisa berkata “Ini aku, utus aku!”   Namun sering kali waktu Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu, ini yang kita katakan: “Ini aku, utus dia.”    Yesaya diutus Tuhan untuk pergi berbicara kepada umat Tuhan setelah ia berjumpa dengan Tuhan dalam penyembahan. Yesaya lihat Tuhan, Yesaya dengar panggilan Tuhan, dan ini respon dia yang memang selayaknya: Dia sediakan dirinya untuk menjawab panggilan Tuhan.    Kesimpulannya, setiap orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam penyembahan akan menyediakan dirinya terhadap panggilan Tuhan untuk hidupnya, karena dia tahu dia bertemu dengan Pribadi yang paling berharga. Apa yang penting buat Tuhan jadi penting buat dia. Itu efek dari penyembahan.   Makanya sering kali kita mendengar ini: Kita akan menjadi seperti siapa yang kita sembah. Kalau kita sering mendisiplinkan diri kita memuji Tuhan dalam sikap penyembahan, tiba-tiba apa yang Tuhan lihat bisa kita lihat, apa yang Tuhan rasakan, bisa mulai kita rasakan.    Makanya Yesaya katakan begini: “Ini aku. Aku tak mengerti detilnya bagaimana Tuhan, tapi utus aku.” Ayat saya yang terakhir, Matius 28:16-20 (TB).   Closing Verse – Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia – apa yang mereka lakukan?— mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.— baca sama-sama dari kata “dan”. Satu, dua, tiga. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:16-20 (TB).   Perikop ini Saudara tahu tentang Amanat Agung, tapi kemarin, waktu saya mempersiapkan pesan ini, saya baru mengerti, sebelum Yesus berikan amanat, ternyata kesebelas murid bertemu Yesus dalam postur penyembahan.    Wow. Dalam konteks, atmosfir penyembahan inilah, para murid menerima perintah yang menjadi alasan utama keberadaan gereja, yaitu menjadikan setiap bangsa murid Kristus. Gereja tidak dipanggil untuk merancang kebaktian—”Siapa yang khotbah ya, siapa yang nyanyi ya.”   Karena kalau itu panggilan gereja, berarti tidak ada bedanya dengan penyelenggara acara. Gereja dipanggil untuk memuridkan setiap orang yang bertemu dengan Saudara dan saya di tatanan sosial di mana Tuhan tempatkan Saudara dan saya.    Panggilan ini tidak ditujukan bagi para hamba Tuhan yang diordinasi sebagai pendeta saja, melainkan bagi setiap orang yang mengaku Yesus adalah Tuhan.   Kesimpulannya sekali lagi, setiap orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam penyembahan akan menyediakan dirinya terhadap setiap panggilan Tuhan bagi dirinya. Baca sama-sama, supaya Saudara lebih yakin. Satu, dua, tiga. Setiap orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam penyembahan akan menyediakan dirinya terhadap panggilan Tuhan bagi hidupnya.  

P.S : Dear Friends, I am open to freelance copywriting work. My experience varies from content creation, creative writing for an established magazine such as Pride and PuriMagz, web copywriting, fast translating (web, mobile, and tablet), social media, marketing materials, and company profile. Click here to see some of my freelancing portfolios – links.

If your organization needs a Freelance Copywriters or Social Media Specialist, Please contact me and see how I can free up your time and relieve your stress over your copy/content needs and deadlines. My contact is 087877383841 and vconly@gmail.com. Sharing is caring, so any support is very much appreciated. Thanks, much and God Bless!