JPCC Online Service (28 February 2021)
Halo, salam damai sejahtera kepada Saudara semua, teman-teman di JPCC. Apa kabarnya? Saya percaya Saudara semua dalam keadaan baik, dan saya senang sekali memiliki kesempatan hari ini untuk berbagi dengan Saudara. Tema kita di bulan Februari ini masih tentang “TRUST (kepercayaan)”.
Saya ingin memulai pembahasan kita pada hari ini, dengan mengutip satu ayat firman Tuhan yang sudah berulang kali kita baca sejak beberapa minggu terakhir, yaitu :
Opening Verse – Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Amsal 3:5-6 TB
Ayat ini selain memberitahukan kepada kita sebuah perintah yang luar biasa, yaitu untuk mempercayai Tuhan dengan segenap hati kita, with all our heart.
Selain itu, ayat ini juga menyingkapkan kepada kita, apa saja yang menjadi penghalang untuk kita dapat mempercayai Dia dengan segenap hati, yaitu pada saat kita memberi ruang untuk bersandar kepada pengertian kita sendiri, sehingga kita tidak lagi sepenuh hati mengakui Dia— “Yada” dalam bahasa aslinya— atau intim dengan Dia, melibatkan Dia di dalam segala laku kita sehari-hari.
Jadi walaupun sesungguhnya perintah ini telah menjanjikan bahwa, Dia akan meluruskan jalan kita apabila kita mempercayai Dia dengan segenap hati,namun, seringkali kita manusia justru merasa lebih yakin, apabila kita mencoba melakukan dan mengendalikan segala sesuatu dengan pengertian dan kemampuan kita sendiri, bukan?
Alasannya adalah karena kita manusia menginginkan kenyamanan (comfort), kemudian kepastian (certainty), kejelasan (clarity), dan kendali (control) sesuai dengan kemauan kita, pada waktunya kita (at our terms and time).
Jadi seringkali kita gagal untuk berserah dan mempercayai Dia, karena kita berusaha dengan akal dan pikiran dan pengertian kita sendiri, untuk mencari dan berusaha mendapatkan kepastian, kenyamanan, kejelasan, dan kendali yang kita butuhkan dalam kehidupan.
Padahal, sesungguhnya justru pada saat keadaan tidak menentulah, pada saat segala sesuatu tidak pasti, tidak jelas, semakin pada saat seperti itulah kita perlu untuk berserah dan percaya kepada-Nya dengan segenap hati.
Semua pemikiran yang baru saja saya ungkapkan tadi, membawa kita kepada khotbah saya hari ini, yang saya beri judul “With All Your Heart” (Dengan Segenap Hatimu).
Kata kunci yang pertama di sini yang akan kita bahas adalah kata “segenap“, all; with all your heart (dengan segenap hatimu), with all my heart (dengan segenap hatiku).
Tuhan menginginkan “segenap” hatimu, bukan hanya sebagian saja, tapi segenap. Mungkin ada yang mengatakan bahwa dirinya sebenarnya sudah memberikan sebagian besar hatinya, hidupnya, kepada Tuhan.
Namun, kita harus jujur mengakui bahwa “sebagian besar” pun, tetaplah bukan “segenap”, atau all, seperti yang Tuhan firmankan.
Bayangkan saja, ada seorang suami berkata pada istrinya, “Aku sayang, dan sangat cinta kepadamu, sebagian besar hidupku, hampir segenap hatiku telah kuberikan kepadamu.”Katakanlah “sebagian besar” itu persentasenya mungkin sudah 99,99% yang mana untuk ukuran logam mulia saja, apabila sudah mencapai kadar 99,99%—ada empat angka “9” di situ— sudah dinyatakan murni sepenuhnya.
Namun saya yakin yang didengar dan akan menjadi perhatian sang istri, bukanlah bagian atau sebagian besar, atau bahkan bukan 99,99% dari hati dan hidup sang suami yang telah diberikan kepada sang istri, tetapi yang didengarnya adalah “sebagian kecil”, yang 0,01% yang belum diberikan kepadanya.
Jadi kata “segenap hati” menjadi identik dengan kekuatan di dalam sebuah hubungan. Jadi apabila kita mampu percaya dengan segenap hati, artinya kita juga akan memiliki rasa percaya yang sangat kuat di dalam hubungan tersebut.
Pertanyaannya adalah: Apakah yang menghalangi kita untuk percaya kepada Dia, dengan segenap hati kita? Mari kita coba telusuri; ada beberapa alasan.
1. Pertama, karena Trust is Conditional. Kepercayaan sifatnya bersyarat dan tidak dapat diberikan tanpa syarat.
Alkitab telah menyingkapkan syarat-syarat dan prinsip kebenaran yang dapat menolong kita untuk membangun kepercayaan di dalam kehidupan kita. Syarat-syarat dan kebenaran ini terungkap melalui ucapan Yesus.
Supporting Verse – ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Lukas 16:10 TB
Pada saat Dia mengatakan bahwa “barangsiapa setia di dalam hal-hal yang kecil, maka kita akan dipercaya juga di dalam hal-hal yang besar.
Di dalam ayat lain, kata “setia” diterjemahkan dengan kata “tanggung jawab“. Artinya, kepercayaan adalah hasil dari tanggung jawab, kesetiaan, persistensi, dan konsistensi yang kita tunjukkan di dalam kehidupan.
Tidak mungkin kita menuntut kepercayaan tanpa membuktikan kesetiaan, tanggung jawab, persistensi, maupun konsistensi di dalam kehidupan kita.
Jadi pada waktu Tuhan meminta kita untuk percaya kepada-Nya, Tuhan sangat mengerti bahwa tidak mungkin untuk kita dapat mengambil keputusan untuk percaya kepada-Nya dengan segenap hati, tanpa syarat atau alasan.
Namun, pemenuhan prinsip yang pertama ini sebenarnya hanya menghadirkan “contractual trust“.
Apa itu “contractual trust”?
“Contractual trust” adalah kepercayaan yang dibangun karena kewajiban dan tanggung jawab yang dipenuhi.
Sebagaimana dua perusahaan atau dua pihak yang sedang bekerja sama, biasanya perjanjian kerja sama tersebut dituangkan di dalam sebuah perjanjian tertulis, dan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung, apabila salah satu pihak tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang dijanjikan.
Tingkat kepercayaan yang akan terbangun di sini sebatas contractual— contractual trust (kepercayaan dengan syarat). Pernikahan dapat berfungsi dengan cukup baik, sebenarnya, berdasarkan contractual trust. Selama pasangan kita memenuhi tanggung jawabnya, kesetiaannya, secara konsisten dan persisten, maka rasa percaya yang terbangun tidak akan terusik.
Namun masalahnya adalah, apabila,ada salah satu pihak, dan ada salah satu hal yang terjadi berkaitan dengan kesetiaan, tanggung jawab, yang tidak lagi konsisten dan persisten, maka kepercayaan, yang selama ini menjadi dasar daripada sebuah hubungan pernikahan ini pun,bakan ikut hancur berantakan.
Kasih dan komitmen tanpa syarat yang pernah diucapkan di hadapan Tuhan pun, terancam putus di tengah jalan.
Selain contractual trust, ada kepercayaan yang memiliki tingkat yang lebih dalam, yaitu relational trust (kepercayaan karena pengenalan).
Relational trust memiliki tingkat kedalaman yang lebih daripada contractual trust, karena kekuatannya tidak terletak dalam persyaratan yang harus dipenuhi saja, tetapi di atas itu semua, ada tingkat pengenalan, yang sangat mendalam, terjalin di antara kedua pihak tersebut.
Kelebihan dari pada relational trust adalah bahwa di level ini, apabila ada tanggung jawab, kewajiban ataupun pengharapan yang belum terpenuhi, trust atau kepercayaan yang sudah terbangun tidak secara langsung terancam untuk hancur.
Dua pihak yang bekerja sama, di dalam bisnis, maupun dalam pernikahan di tingkat relational trust, walaupun kadang kala ada kewajiban, tanggung jawab, yang belum terpenuhi, tetapi dikarenakan oleh adanya relational trust yang sudah terbangun, karena pengenalan akan satu sama lainnya yang sudah terbentuk, maka akan ada ruang dan waktu untuk kewajiban, tanggung jawab, dan harapan tersebut untuk kemudian dipenuhi untuk menebus kelalaian yang mungkin sempat terjadi, dan pengharapan yang belum terpenuhi.
Pernikahan tidak akan berhasil apabila dijalankan hanya berdasarkan contractual trust saja. Setiap pasangan harus mengembangkan dan membangun relational trust dalam hubungan pernikahan mereka.
Kembali kepada hubungan kita dengan Tuhan. Pertanyaan kita tadi adalah— seandainya kita lupa—apakah yang menjadi penghalang kita untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati?
Walaupun Tuhan tidak pernah dan tidak akan lalai akan tanggung jawab,kewajiban-Nya, karena Allah itu setia dan benar, Dia bukan Tuhan yang berbohong yang tidak memenuhi janji-Nya kepada kita.
Jadi, seharusnya tidak susah untuk kita percaya kepada-Nya, bukan?
Untuk percaya pada Dia dengan segenap hati. Namun jujur, saya pribadi pun harus mengingatkan diri saya sendiri, dan memerintahkan pada jiwa saya sendiri untuk tetap memperkatakan ini, bahwa saya perlu mempercayai Tuhan dengan segenap hati, dan tidak bergantung kepada pengertian saya sendiri, serta mengakui Dia, melibatkan Dia, di dalam segala lakuku, supaya Dia dapat meluruskan jalanku.
Terutama di tengah-tengah kesesakan, saya mengerti, saat-saat dimana segala sesuatu begitu tidak menentu, tidak jelas, tidak pasti, bahkan kadangkala keadaan tidak terkendali.
Saya mengerti, apabila kita berjuang dan bergumul, untuk tetap memberikan hati dan percaya kita kepada Tuhan, dengan segenap hati.
Jadi, dibutuhkan kedewasaan kita untuk tetap percaya, pada saat apa yang terjadi, bukanlah sesuai dengan persyaratan dan waktunya kita; apa yang terjadi tidak seperti apa yang kita inginkan, tetapi sesuai dengan persyaratan dan waktunya Tuhan.
Alasan kedua yang menjadi penghalang bagi kita untuk sepenuh hati, segenap hati, percaya pada Dia adalah bahwa :
2. Kita perlu belajar untuk membedakan bagian mana dalam kehidupan kita, yang berada di dalam kendali kita, dan yang mana sepenuhnya berada di dalam kedaulatan Tuhan— Tuhan yang menentukan.
Supporting Verse – Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Mazmur 8:5-6 TB
Kalimat, “Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah”di dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) diterjemahkan dengan kalimat, ”Kauangkat dia hampir setara dengan Allah.”
Kemudian untuk kalimat, “…dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,” di dalam terjemahan bahasa Inggris The Message (MSG), diterjemahkan seperti ini,
Supporting Verse – You put us in charge of your handcrafted world, repeated to us your Genesis-charge, Psalm 8:5-8 MSG
Engkau telah memberikan kepada kita kuasa, untuk mengelola dunia yang telah Engkau ciptakan, dan kemudian mengingatkan kembali kepada kami semua panggilan-Mu sejak kejadian dunia ini.
Kemudian di dalam terjemahan New Living Translation (NLT), kalimat yang sama diterjemahkan,
Supporting Verse – You gave them charge of everything you made, putting all things under their authority— Psalms 8:6 NLT
Engkau telah memberikan kepada manusia, kendali, atas semua yang telah Engkau ciptakan. Dan Engkau telah menempatkan manusia itu ada di bawah otoritas.
Karena kita manusia diciptakan Tuhan untuk in charge, untuk berkuasa, untuk mengelola, dan memiliki authority, akibatnya, kita menginginkan dan akan menuntut comfort (kenyamanan), clarity (kejelasan), certainty (kepastian), dan control (kendali), untuk kehidupan yang sedang kita jalani.
Kadang kala, alasan Dia tidak memberikan kenyamanan, kejelasan, kepastian, dan semua kendali sesuai keinginan kita, adalah karena apabila semua itu diberikan pada kita, sudah pasti kita belum mampu untuk menanganinya, atau tidak akan bertumbuh sebagaimana kalau kita berjalan bersama-Nya, dan percaya dengan segenap hati kepada Dia.
Alkitab mencatat banyak stories of trust, perjalanan orang-orang yang berjalan bersama dengan Tuhan, tanpa memiliki kenyamanan, kepastian, kejelasan, dan kendali dalam kehidupan mereka.
Pada saat Musa menerima panggilannya, pada saat bangsa Israel berada di padang gurun, Abraham yang harus keluar dari kampung halamannya, menuju negeri yang sama sekali dia tidak ketahui; pada saat Tuhan memerintahkan Nuh untuk membangun bahteranya.
Ada banyak sekali ketidakpastian, ketidakjelasan, hal-hal yang tidak bisa mereka kendalikan dalam kehidupan.
Pada saat Daniel berada di kandang singa; pada saat Yusuf berada di sumur dan di penjaranya; dan banyak lagi kisah lainnya.
Banyak sekali kisah orang-orang yang tidak diberitahukan Tuhan dan tidak diberikan seluruh informasi, kendali, kenyamanan, kepastian, sebagaimana yang mereka harapkan.
Pada saat segala sesuatu tidak jelas, tidak pasti, dan tidak bisa kita kendalikanlah, justru level of trust (seberapa percaya) kita kepada Dia, sedang diuji.
Pertanyaannya adalah, apakah kepercayaanmu kepada Yesus contractual atau relational? Ada banyak orang Kristen yang menghidupi kekristenan mereka, contractually.
Mereka melakukan semua kewajiban dan tanggung jawab mereka, karena mengharapkan balasan atas semua kewajiban agamawi yang telah mereka penuhi.
Pada saat apa yang mereka harapkan belum atau bahkan tidak terjadi, kepercayaan mereka hancur berantakan, dikarenakan, mereka belum memiliki tingkat pengenalan dan pengalaman pribadi yang mendalam bersama dengan Tuhan.
Oleh sebab itu, kunci daripada tingkat kepercayaan kita, tergantung kepada tingkat pengenalan kita akan Tuhan.
Tingkat kedalaman pengenalanmu akan Tuhan menentukan tingkat kepercayaanmu kepada-Nya.
Apabila kita memiliki tingkat pengenalan dan pengalaman pribadi yang mendalam dengan Tuhan, maka kita tidak akan kehilangan kepercayaan kepada Dia, dan kita akan memiliki iman walaupun, even if, apa yang kita harapkan dan mimpikan belum terjadi seperti yang kita minta.
Supporting Verse – Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Efesus 3:18-19 TB
And may you have the power to understand, as all God’s people should, how wide, how long, how high, and how deep his love is. May you experience the love of Christ, though it is too great to understand fully. Then you will be made complete with all the fullness of life and power that comes from God. Ephesians 3:18-19 NLT
Kasih Tuhan itu jauh lebih panjang, lebih lebar, lebih tinggi, lebih dalam daripada kemampuan kita untuk bisa memahaminya.
Itu sebabnya, kita perlu mengalami-Nya dan mengenal-Nya. Kata “mengenal” di situ adalah progressive knowledge; perlahan-lahan kita semakin kita bisa mengenal kasih Tuhan di dalam kehidupan kita, mengenal bahwa Dia bisa mengasihi kita tanpa syarat, tidak seperti manusia, mengasihi dengan syarat.
Supporting Verse – Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 1 Yohanes 4:16 TB
Kedalaman akan pengenalan kita akan kasih Tuhan yang tidak bersyarat tersebut yang akan menolong kita untuk membangun kekuatan hubungan, yang dibutuhkan untuk kita dapat percaya kepada Dia dengan segenap hati kita.
Jadi, pertanyaannya sekali lagi di sini adalah, apakah engkau mengenal kasih-Nya yang tidak bersyarat, yang begitu lebar, begitu panjang, begitu tinggi, begitu dalam, begitu luasnya?
Untuk hal ini dapat terjadi, tidak perlu kita bersusah payah. Kita hanya perlu membuka hati dan mengizinkan Dia masuk ke dalam hidup kita, dan nama-Nya adalah Yesus.
Supporting Verse – Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 1 Yohanes 4:10 TB
Untuk kita mengenal kasih Tuhan, bukan kita yang berusaha untuk mengasihi Dia dulu. Kita hanya perlu membuka hati, untuk mengizinkan Dia memberikan pewahyuan untuk kita bisa mengenal cinta kasih-Nya yang tidak bersyarat, tidak menuntut, kepada kita pada hari ini.
Apabila kita secara mendalam mengenal Dia yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita, maka tidak akan susah bagi kita untuk mengasihi Dia kembali, dengan segenap hati.
Pada saat orang Farisi bertanya pada Yesus mengenai hukum yang terutama dan yang pertama, dalam ayat berikut :
Supporting Verse – Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Matius 22:37 TB
Iblis tahu, bahwa kedalaman pengenalan kita akan kasih Bapa yang sempurna ini akan memampukan kita untuk mempercayai Dia dengan segenap hati.
Maka dia bekerja keras untuk menghalangi supaya hal itu tidak terjadi. Strategi iblis untuk menggagalkan kita untuk mengenal kasih Bapa yang sempurna adalah dengan memanfaatkan pikiran kita yang diciptakan Tuhan sedemikian luar biasanya.
Dia tahu bahwa satu-satunya pintu masuk adalah melalui pikiran kita, terutama pada saat-saat di mana kita menginginkan kenyamanan, kepastian, kejelasan, dan kendali.
Iblis berusaha masuk ke dalam pemikiran kita dengan berbagai pertanyaan yang menyebabkan kita mulai terjebak dan meragukan Tuhan:
– “Kalau Tuhan baik, kenapa kamu harus susah?”
– “Kalau Tuhan baik, kenapa kamu harus mengalami apa yang kamu alami?”
– “What if, seandainya, ini tidak terjadi?”
Ada banyak sekali pemikiran-pemikiran yang menyusup masuk ke dalam kehidupan kita, untuk membuat kita ragu akan kasih dan anugerah Tuhan dalam kehidupan kita.
Supporting Verse – Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Yohanes 10:10 TB
Iblis berusaha menaburkan benih-benih pemikiran yang akan menghalangi kita untuk mengambil keputusan, untuk percaya dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati.
Supporting Verse – dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, Efesus 6:16 TB
Untuk menangkis panah api yang datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan, Alkitab mengatakan bahwa kita perlu mempergunakan perisai iman.
Dikatakan bahwa, pencuri datang hanya untuk mencuri. Seringkali kita kecurian dalam kehidupan karena kita tidak menyadari kapan pencuri itu datang.
Pikiran itu datang dalam kehidupan kita seperti pencuri, untuk mencuri damai sejahtera, mencuri sukacita, mencuri janji Tuhan, mencuri iman kita, mencuri rasa percaya kita, yang kita tempatkan di dalam Tuhan tanpa syarat.
Dan dikatakan bahwa kebohongan yang iblis kirimkan, itu seperti panah api yang kemudian datang dan menancap dalam kehidupan atau dalam pikiran kita.
Apabila kita biarkan itu terjadi, maka apa yang dia tinggalkan di situ, akan mulai merampas apa yang baik yang Tuhan tempatkan di dalam kehidupan kita.
Itu sebabnya, firman Tuhan katakan iman diperlukan— kita perlu perisai iman,— untuk memadamkan semua panah api kebohongan, yang iblis coba susupkan di dalam pemikiran kita.
Alkitab katakan iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Jadi, biarkanlah segenap pikiranmu juga dipenuhi dengan firman Tuhan.
Pada saat pikiranmu penuh dengan firman Tuhan, you give no space, tidak memberikan tempat, untuk panah api dan kebohongannya untuk dapat mencuri damai sejahtera, sukacita daripada Tuhan, yang ada di dalam kehidupan Saudara.
Jadi, untuk menutup apa yang kita telah dengarkan dan pelajari pada hari ini, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, percaya dan mengasihi Tuhan adalah sebuah keputusan yang harus kita ambil masing-masing, berdasarkan pengenalan kita masing-masing akan Dia.
Apabila ada di antara kita, yang pada hari ini belum pernah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus, tidak ada lagi waktu yang lain yang lebih tepat dibandingkan saat ini untuk kita memulai hubungan tersebut dengan Dia.
Kita hanya perlu membuka hatimu, dan mengundang Dia untuk masuk ke dalam hidupmu dan percaya kepada Dia sebagai Tuhan, dan Juru selamat kita secara pribadi. Bahwa Dia telah mengampuni kita dan mati bagi kita di atas kayu salib dan telah bangkit dari kematian untuk memberikan kehidupan yang kekal kepada kita.
Bagi kita yang sudah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, namun, kita menyadari bahwa selama ini kita belum dengan segenap hati percaya kepada Dia, dan belum dengan segenap hati mengasihi Dia, saat ini juga kita dapat memperbaharui keputusan kita untuk mengasihi Dia dan percaya kepada Dia dengan segenap hati.
Bagi kita yang hari ini sadar bahwa ada damai sejahtera, sukacita dan keyakinan akan kebaikan Tuhan yang tercuri, karena ada panah api yang menempel dalam kehidupan Saudara; panah api dari si jahat, yang sempat menyusup dalam pikiran Saudara dan Saudara membiarkan pemikiran itu menguasai kita.
Saat ini juga, kita dapat mengambil keputusan, dan langkah pertama untuk memenuhi segenap pikiranmu dengan firman-Nya.
Hari ini adalah keputusanmu pertama untuk mulai mencabut, memadamkan, menangkis semua pemikiran-pemikiran yang telah menyusup dalam kehidupanmu, dan mengambil keputusan untuk mulai mengisi pikiranmu, segenap pikiranmu dengan firman-Nya, sehingga kita pun akan dapat mengasihi Dia dan merasakan cinta kasih-Nya dengan segenap pikiran.
Pada akhirnya, kita semua, apabila kita mampu mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan pikiran kita, bahkan terjemahan Markus berkata: dengan segenap kekuatan kita, maka akhirnya kita akan mampu mengasihi sesama kita manusia seperti mengasihi diri kita sendiri.
Apabila itu terjadi, maka dampak daripada kehidupan kita tidak akan terbendung , dan itulah yang iblis berusaha halangi untuk kita bisa menjadi dampak dan berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.
Apa pun keputusan yang kita harus ambil hari ini, baik itu dalam membangun hubungan yang baru dengan Tuhan, mengambil keputusan untuk segenap hati memberikan hidupmu kepada Tuhan dengan segenap hati percaya, dan mengenal kasih-Nya, atau kita perlu juga memadamkan panah api yang ada dalam kehidupan kita supaya dengan segenap jiwa dan dengan segenap pikiran, kita bisa mengasihi dan percaya pada Tuhan.
P.S : Hi Friends! Please do let me know if any of you know a freelance opportunity for a copywriter (content, social media, press release, company profile, etc). Sharing is caring so any support is very much appreciated. Thanks much and God Bless!



